Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Alya apa tujuanmu?


__ADS_3

"Alya soal apa? apa di antara Kita pernah ada perjanjian? pernah ada hubungan kerja atau apa? seingat ku tak pernah ada hubungan apapun, jadi apa yang akan Kita bicarakan?" ucap dr Prabu sambil menatap Alya yang hanya senyum-senyum saja.


"Dokter Aku akan mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang perlindungan, pemberi santunan, rumah singgah, tanggap bencana dan lain-lain yayasan kami butuh sokongan dana sokongan sukarelawan sehingga kami memiliki potensi yang kuat dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, Papaku menyuruh Aku meminta dokter sebagai penyokong dari bidang kesehatannya. Aku sudah bergerak ke semua instansi yang berpotensi memberikan kontribusi kepada yayasan itu, kiranya dokter bisa berpartisipasi boleh ya!" jawab Alya seperti memaksa.


"Aku pikir-pikir dulu silahkan kirim proposal dan visi misinya, soalnya rumah sakit ini juga sudah punya yayasan tersendiri yang kami kelola dan sudah berjalan cukup lama, jadi kita pertimbangkan kembali seandainya ada yayasan baru yang perlu sokongan, walau Kami tidak bergerak sendiri tetapi dari semua rumah sakit yang masih satu naungan. Jadi Aku tidak bisa katakan iya atau tidak di sini tapi harus di putuskan di rapat apalagi ini menyangkut sebagai sokongan dana dan tenaga medis yang kami punya," jawab dr Prabu memberikan jawaban praktis. Dr Prabu berpikir takutnya semua itu hanya akal-akalan Alya saja dan punya niat tak baik, baru seminggu yang lalu bikin masalah dengan Istrinya Retno di pasar kini datang dengan cerita lain lagi cuma itu harus diwaspadai, dan harus melibatkan Retno dari awal seandainya rumah sakit ini mau menjadi donatur sukarelawan bagi yayasan itu.


"Tak ada dana yang kami pinta Aku ralat lagi bagi rumah sakit ini Dok, Kami hanya minta dukungan tenaga dan dukungan moril saja hanya itu dan Aku pinta kesiapannya. Kembali tidak ada dana yang akan dipinta dari rumah sakit ini karena rumah sakit ini seandainya bergabung sudah cukup memberikan sebagian tenaga medis yang Kami butuhkan."


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi di lain waktu, maaf Aku lagi ada perlu sama suster kepala Meranti, Suster bisa datang ke ruanganku sekarang? Alya Aku permisi dulu maaf Aku lagi kerja!" ucap dr Prabu sambil bangkit.


Alya tersenyum sambil mengangguk.


"Baik Pak Prabu," jawab suster kepala Miranti sambil mengangguk.


Dr prabu keluar duluan Suster kepala Miranti masih sedikit ngobrol dengan Alya. Entah apa yang menjadi topik obrolannya.


Kegelisahan melanda hati dr Prabu, apa sebenarnya tujuan Alya? semua ini bukan tanpa alasan dan tujuan jelas dr Prabu tak memberi peluang yang akan mendatangkan pertentangan dengan istrinya apalagi istrinya habis melahirkan nanti akan masuk kerja lagi, Dr Prabu tak ingin ada masalah lagi dengan Alya yang membuat Retno meradang, rasanya cukup sampai di sini sampai masalah itu selesai dan selanjutnya dr Prabu ingin memberi ketenangan dan kenyamanan bagi keluarganya tidak dengan urusan pribadi yang melibatkan istrinya.

__ADS_1


Masuk kantornya selalu was-was dan semua yang di kerjakan selalu penuh ketelitian, pergi ke mana selalu penuh ke hati-hatian apapun yang di lakukan selalu penuh perhitungan seperti yang barusan saja terjadi makan dengan seseorang yang membawakan makanan seolah memperkenalkan diri, padahal ada hati Adiknya Intan yang begitu di jaga dan di sayangnya.


kalau samai Intan tahu pasti bertambah sedih saja hatinya.


Kegelisahan hatu dr Prabu memang beralasan apalagi barusan datang Alya dengan permintaannya seolah tanpa beban dan salah setelah kemarin berselisih paham dengan istrinya tanpa alasan jelas di muka publik, apa yang diinginkan Alya? seolah ingin memperjelas dan memberinya pengertian.


tok tok tok


"Ya, masuk!"


"Ada apa Pak?" tanya suster kepala Miranti sambil duduk di ujung sofa di mana ujung satunya duduk dr Prabu.


"Hanya kirim aja Pak, mungkin sambil memperkenalkan calon dr Imam yang lagi liburan di sini, tapi semua pada heran bukan karakter Imam pacarnya Adik Pak Prabu? atau sudah putus? setahuku juga begitu," ucap suster kepala Miranti sambil memandang dr Prabu atasannya.


"Sebenarnya Aku tidak tahu jelas permasalahan antara dokter Imam dengan Adikku Intan tetapi setahuku juga sampai saat ini mereka belum putus, itu hanya keinginan orang tua dr Imam saja, sebenarnya memperkenalkan seseorang kepada dr Imam yang telah memiliki kekasih menurutku itu kurang pas bukan berarti Aku ada di pihak Intan karena Dia Adikku, tetapi itu membuat kecewa seseorang dan kecewa anaknya sendiri," jawab dr Prabu begitu menyayangkan semuanya.


"Oh, alah pantesan akhir-akhir ini aku melihatmu terima begitu kusut begitu tidak bergairah seakan bingung," ucap suster kepala Miranti sambil sedikit tertegun.

__ADS_1


"Jelas dilema bagi dr Imam, di satu sisi keinginan orang tuanya di sisi lain mungkin sudah punya janji hati sendiri dengan Adikku Intan Aku juga menjadi bingung sendiri dr Imam itu sahabatku dan Intan juga Adikku, Intan pulang dari sini marah marah dan ngambek sama dr Imam karena habis di perkenalkan pada orang tuanya tetapi penerimaan dan sikap kedua orang tua dr Imam begitu dingin pada Intan jelas membuat Intan tidak mengerti dan akhirnya tahu dari kejujuran dr Imam sendiri kalau dirinya akan diperkenalkan dengan seseorang sama orang tuanya, ya Vionna itu yang tadi kirim makanan."


"Kasihan juga dr Imam, kenapa tidak bicara saja sama tuh cewek?"


"Keinginan seperti itu ada, mungkin sedang mencari saatnya dan waktunya yang tepat perlu pertimbangan dan pemikiran seandainya semua itu dikatakan sekarang Vionna lagi liburan di sini dan dr Imam begitu menghargai kedua orang tuanya," ucap dr Prabu sangat mengerti keadaan dr Imam


"Tadi juga Ibunya dr Imam dengan percaya dirinya memperkenalkan Vionna kepada yang ada setelah Pak Prabu keluar, Dia bicara harus siap-siap kecewa semua yang mendekati Anaknya karena dokter Imam sudah memiliki calon yang begitu cocok, memang dianggap bercanda tapi tetap saja begitu dini apalagi melihat dokter Imam hanya diam seribu bahasa. Karena semua juga tahu kalau dr Imam suka jalan dan mungkin lagi dekat sama Neng Intan."


"Ya sudah, hanya waktu yang akan memberi jawaban, berarti jelas itu cewek yang di perkenalkan orangtuanya."


"Pak Prabu, apa de Prabu akan memutuskan Neng Intan?"


"Aku tidak tahu, cuma Aku berharap dr Imam tidak salah langkah saja, satu kali salah dalam memilih dan menyesal semua itu akan di sesali se-sisa usia Kita." Ucapan dr Prabu begitu kedengaran seperti pepatah yang begitu baik dan mudah di pahami, akan tetapi mungkin begitu sulit untuk dijalani.


******


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2