
"Kak ayo katanya mau makan aku lapar." Intan mengingatkan.
"Ya ampun boss, adiknya belum di kasih makan? biar sama aku saja cari makanan boleh nggak?"
"Eith! bukannya kamu mau ikut acara kerohanian di mushola rumah sakit kok malah belok kesana kemari nggak konsisten banget!"
"Boss, beri aku tugas dan tanggung jawab menjaga satu lagi yang ini."
"Enak saja!"
"Boss."
"Emang kamu juga belum makan?"
"Su-su, belum boss."
"Ayo kita keluar makan bareng."
Dr Imam tersenyum begitu senangnya sambil melirik Intan yang mesem-mesem saja, lalu bangkit semua keluar dan menuju parkiran.
"Neng Intan ikut mobil Mas juga nggak apa-apa kok." Intan menggeleng dan tersenyum, dr Prabu hanya melotot ke arah dr Imam, sepertinya dr Prabu belum rela melepaskan Intan dengan laki-laki lain selain keluarganya, padahal Intan sudah dewasa tapi rasa sayang pada adiknya membuat selektif juga memilih teman untuk bersama adiknya.
"Sudah naik mobilku saja sempit sempitin lahan parkir saja."
"Gitu dong boss." dr Imam langsung membukakan pintu buat Intan di jok belakang dan Intan masuk lalu dr Imam masuk duduk di depan di samping dr Prabu yang memegang kemudi.
Dr Prabu menangkap gelagat tak beres di diri dr Imam dari awal dr Imam kenalan dengan adiknya Intan, seperti orang yang tersihir saja, masalah dirinya aja belum kelar sekarang ada lagi nih roman-roman bibit cinta sudah mulai di semai walau itu hanya dugaan dan jauh dari kenyataan dan kebenarannya.
Dr Imam boleh banget, orangnya memang supel, ganteng, humoris cocok dengan siapa saja dan satu lagi dia taat pada agamanya, juga dia sahabat yang pengertian dan seringnya mengalah demi kebaikan, gonta ganti pacar ya tapi itu kan penjajakan mencari jati diri dan kecocokan, satu lagi sama penyuka olahraga.
Apa Intan juga suka? ah...itu terlalu dini menyimpulkan perasaan keduanya, tapi seandainya dan seandainya ada hati keduanya dr Prabu setuju banget, selain tahu kesehariannya juga karir masa depannya tak di ragukan lagi.
"Kita ke mana boss makannya?"
"Tanya tuh si Intan, maunya kemana kita laki-laki makan apa aja masuk biasanya cewek lebih cerewet dalam memilih makanan."
__ADS_1
"Neng maunya makan apa? juga di mana?"
"Iiiiiiiiiih...aku kan nggak tahu tempat makan di sini aku terserah saja di mana mana juga aku ikut."
"Boss, kita ke Plaza Tasik saja atau ke Asia Plaza atau biasa orang Tasikmalaya menyebutnya AP, biar Intan pilih sendiri kan di sana banyak pilihan, cewek biasanya suka di tempat gitu, kalau kita kan sukanya di gurame bakar atau di Ampera makanan prasmanan yang banyak pilihannya haaaaaaaa..."
"Ya sudah kita ke sana saja."
"Mobil melaju dan setelah parkir dr Imam duluan berjalan dengan Intan, benar saja apa yang di pilih Intan? di stand makanan siap saji dengan menu kekinian anak muda sekarang, pilihannya Intan spaghetti cheese mozzarella, karena menghargai Intan yang tamu di sini dr Prabu dan dr Iman mau saja di atur menunya sama Intan, sampai minum-minumnya Intan yang pilihkan sesuatu yang sangat jarang makan seperti ini tapi biarlah asal Intan senang dan yang penting makan.
Dr Prabu dan dr Iman saling lirik saat menu makanan hadir, dan Intan duluan makan karena lapar.
Dr Prabu mengambil ponselnya dan mengirim pesan aplikasi ke dr Imam.
Sepertinya aku nggak kenyang makan begini, ini makan orang yang lagi pacaran !
Dr Imam menjawab sambil tersenyum di tahan.
Boss makan aja lagi nanti di warung makan Padang, biar Intan aku yang temenin heee...
Enak aja kamu !
Selesai makan dr Prabu bertanya pada Intan.
"Enak nggak Tan?"
"Enak banget."
"Oke, karena Intan begitu menikmati makan malam ini, walau di rasa ada yang kurang biar aku yang bayarin."
Dr Prabu mencibir dan memanyunkan bibirnya dan dr Imam hanya tertawa juga Intan ikut tersenyum.
"Maksudnya kurang apa nih?" Intan mulai bisa berani bicara.
"Kurang yang cantiknya satu lagi di situ heeee..."
__ADS_1
Dr Prabu kembali melotot dan dr Imam hanya ngakak, muka Intan bersemu merah dan melirik pada Kakaknya.
"Ya sudah kita pulang, sudah malam mau apa lagi?" dr Prabu berdiri duluan dan dr Imam memenuhi janjinya membayar semua makanan dan minuman.
Dr Imam menyelipkan kartu namanya di tas kecil Intan, Intan hanya melongo saja dan dr Imam tersenyum semua dianggapnya biasa saja.
Dr Prabu membawa dr Imam ke rumah sakit dulu dan menurunkannya di samping gerbang rumah sakit, lalu dirinya dan Intan meneruskan pulang ke rumahnya tanpa bicara ataupun ngobrol sama Intan begitu juga Intan hanya diam dan melihat lihat ponselnya sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Intan membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali dan menguncinya,l alu mengetuk pintu kebetulan Bi Iyah belum pada tidur.
"Bibi sudah mau cabut kuncinya di kira Pak dokter sama Neng Intan pulangnya malam banget."
"Hanya jalan-jalan saja Bi, Intan mau tahu tempat Kakak kerja."
"Bibi juga belum tahu Neng walau Mas Min juga kerja di sana di rumah sakit itu atas kebaikan Pak dokter."
"Iya Bi, ya sudah Intan juga tidur duluan ya."
"Iya Neng." Intan masuk ke kamar yang di pilihnya yang berada di kamar depan.
Dr Prabu sudah dari tadi naik tangga dan masuk kamarnya duluan dan tak keluar lagi, begitulah kebiasaannya entah ngapain di dalam, mungkin melihat lihat ponselnya atau main game atau juga melihat lihat laptopnya atau melamun entahlah.
Yang pasti dr Prabu lagi melihat dan meneliti satu nomor telephon 12 digit yang sudah di masukkan dan di save di ponselnya, itulah nomor telephon Retno di lihat lagi dan di hafalkan nya sampai hapal di luar kepala, sedang apa ya Retno sekarang mungkinkah lagi mengingat dirinya?
Teringat satu suatu waktu mereka lagi berdua di kamar kost nya Retno dan dr Prabu biasa menemani sampai agak larut dan sampai Retno merasa ngantuk, saat mau pulang dr Prabu menarik tangan Retno ke belakang pintu dan mereka berdiri begitu dekat dan berhadap hadapan, tanpa sepatah katapun mereka tahu dan juga Retno mengerti tuntutan Prabu sebagai kekasihnya menuntut lebih dari dirinya, walau Retno masih memegang kuat adat tata krama kesopanan dalam segala hal mana yang boleh dan tidak boleh dalam kehidupannya, seorang Retno hidup di zaman modern dengan pergaulan luar yang luas dan menganggap pacaran itu biasa dan ciuman adalah bumbunya, Retno juga walau salah tetap menganut faham seperti teman-teman lainnya.
Perlahan Prabu menarik tangan Retno yang pasrah dalam tegang dan gemetarnya dan di lingkarkan ke pinggangnya sehingga tubuh keduanya menjadi rapat, lalu bibir Prabu di dekatkan dengan bibir Retno dan mata Retno terpejam dan mulai bergerak mengecupnya dengan lembut, dan lama-lama kecupannya berubah menjadi hisapan dan gigitan kecil dalam kehangatan, tak ada yang bisa di lakukan Retno selain membalas dan menikmatinya setiap gerakan bibir Prabu yang mulai sedikit liar, itulah ciuman pertama mereka yang tak akan terlupakan
menjadi candu bagi ingatan mereka setiap waktu dan selalu menimbulkan kerinduan yang teramat sangat.
Dr Prabu terlentang di tempat tidurnya yang empuk dan begitu besar, meraba bibirnya terasa hangat dan kejang seluruh tubuhnya, pesona Retno telah merubah segalanya jatuh cinta tak tergantikan oleh yang lain.
Kecupan lembut Retno membuai dirinya seakan akan terulang kembali dan memberi rasa kehangatan itu, lirih rasa hatinya merindukan itu terasa menyesakan dada dan begitu berat terasa dan sakit seperti menusuk jantungnya.
Jatuh cinta memang menyesakkan😭
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝