
Dr Prabu dan Intan turun di area parkiran rumah sakit dan dr Prabu berjalan di lorong yang lumayan panjang bergandengan dengan Intan menuju ke ruangan pimpinan, terdengar samar-samar di mushola yang lagi kegiatan KKN sedang ada yang menyampaikan sesuatu di pengeras suara dan sepertinya dari anak-anak mahasiswa KKN.
Dr Prabu menjadi nggak tenang hatinya ingin sekali hatinya memastikan Retno ada dan baik baik saja, tapi tepatkah alasannya hanya menghadiri acara ceramah yang dirinya tidak di undang atau di undang tapi dirinya lupa?
Tapi ini belum saatnya nanti juga aku akan lebih puas bisa melihat dengan leluasa wajah cantiknya atau wajah lelahnya.
Dr Prabu membuka pintu dan masuk Intan juga mengikutinya di belakang dan langsung saja berkomentar pedas.
"Astaghfirullahaladzim, ruangan apa ini kok berantakan banget Kak? jorok banget semua masa berantakan di lantai gini? apa nggak ada cleaning service, atau office boy atau apalah."
"Ini ruangan pimpinan, atau tepatnya ruangan direktur rumah sakit TMC Intan, silahkan duduk siapa yang menyuruh kamu berkomentar?"
"Kak! kenapa? ada apa semua ini?" Intan masih saja berkata kata dan duduk di sofa yang seharusnya tertata dengan rapi semua bantal bantalnya dan di mejanya bukan segala ada dan serba berantakan.
"Pokoknya ini ruangan ku besok juga bersih dan di sini suatu saat nanti kamu ber-acting."
Tok tok tok...
Dr Prabu melongokan kepala ke luar pintu melihat siapa yang datang.
"Boleh masuk?" seseorang datang.
"Bo-boleh silahkan." Dr Prabu agak ragu sebenarnya tapi tanggung, orangnya sudah nyelonong aja.
Dr Imam SpOG masuk dan tertegun, langkahnya tertahan melihat yang duduk di sofa ada seorang cantik juga menatap pada dirinya.
"Oh, ada tamu rupanya...gue ganggu nggak nih?"
"Ganggu nggak ganggu9 udah masuk duduk aja."
"Nggak di kenalin nih cantiknya ke gue?"
"Nggak usah."
"Tega amat, sahabat macam apa depan cewek begitu jutek."
"Kamu sendiri ada apa rajin amat malam senin giliran libur ngantor tuh, apa ikut pengajian di mushola apa ada praktek darurat apa tindakan gantiin dokter lain?"
"Haaaaaaaa... katanya lo nitipin tanggungjawab dan mandat sama gue tak tahunya sendirinya apa-apaan ini?"
"Itu adik aku dr Imam SpOG! ini Intan adik asli aku, kamu kira gandengan apa kekasih?"
__ADS_1
"Hah apa? serius boss?" dr Prabu melirik Intan dan mengangguk Intan hanya tersenyum manis.
"Pokoknya hanya kamu yang tahu itu adik aku."
"Aku izin kenalan boss." dr Imam menghampiri Intan.
Dr Prabu hanya nyengir saja dan membiarkan dr Imam dan Intan saling kenalan, dan bersalaman.
Dr Imam mencium tangan Intan dengan lucunya sambil membungkuk, Intan kelihatan grogi tapi berusaha biasa saja.
"Imam Hambali, sahabat terbaik dr Prabu Seto Wardhana."
"Intan Juwita."
"Nama yang sangat indah, seindah orangnya yang bak juwita malam!"
"Intan sudah punya pacar lho." dr Prabu hanya menggoda dr Imam.
"Sudah aku duga! masa secantik ini nggak ada yang ngantri?"
Intan hanya tersenyum kecil.
"Masih kuliah Neng di mana?"
"Astagfirullah, ya ampuuuuun... Intan masa manggilnya Pak sih? emang tampang ku seperti Bapak-Bapak? aku usianya sama seperti Kakak kamu itu, yang itu emang seperti Bapak-Bapak" dr Imam menunjuk dr Prabu yang lagi terkekeh.
Intan menyadari kesalahannya dan jadi ikut tersenyum.
"Maaf, lantas manggilnya apa dong?"
"Panggil aku Mas Imam, atau Imam saja, kalau biar terbiasa panggil 'Yang' atau 'Sayang' juga nggak ada yang marah, kalau kamu suka dokter juga boleh tapi itu terlalu resmi dan sangat kaku juga kedengarannya dan agak sombong untuk sebuah perkenalan."
Intan mengangguk, sambil menahan senyum, masa baru kenal manggilnya 'Yang' apa 'Sayang' dan dr Imam memandang Intan yang lagi tersenyum.
Dr Prabu duduk di sofa juga di samping Intan.
"Jangan macam-macam boss ah, apa rencana mu besok buat Retno?"
"Aku akan membuka diri, dan Intan menjadi pacarku aku mau lihat reaksi Retno."
"Aku pikir itu keterlaluan boss aku mohon, lihat kondisi Retno sebegitu lemahnya, apa boss kurang yakin dengan lima tahun pencariannya?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat cinta dan kerinduan itu, tapi tertahan dengan kenyataan ada Intan di sisiku."
"Boss itu akan menjadi sesal mu aku ingatkan lagi, damai lah dengan Retno, biarlah Intan aku yang ajak jalan-jalan heeeeee.. lagian nggak pernah cerita di rumahmu ada bintang yang berkelip."
Dr Prabu melotot pada sahabatnya dan di sambut dr Imam dengan tertawa, Dr Imam tak bisa apa-apa terhadap keinginan sahabatnya yang ingin memanas-manasin Retno dengan menggandeng Intan di sisinya, benar-benar dendam itu belum hilang dari hati dr Prabu.
Dr Imam sama perasaannya seperti Intan hatinya meragu kenapa dirinya terlibat dan jadi melibatkan dirinya dalam masalah asmara Kakaknya, Intan juga bukan itu yang di inginkan nya, kenapa bukan dengan cara baik-baik dan terbuka untuk mengetahui isi hati seseorang bukan malah dengan menyakitinya?
Tak bisa di mengerti jalan fikiran seseorang, yang terbaik menurut kita belum tentu bagi orang lain itu yang terbaik dan yang di inginkan nya.
Satu pemandangan yang menarik hatinya bagi dr Imam yaitu Intan permata yang begitu berkelip di samping dr Prabu, memang tak pernah ada pembicaraan soal keluarga masing-masing walau sebegitu akrabnya mereka cuma dr Prabu pernah ngobrol kalau dirinya punya dua adik yang masih pada sekolah, hanya itu saja.
Cantik memang benar-benar cantik sudah pasti cantik, Kakaknya juga ganteng begitu dulu bintang kampus apalagi jago olahraga, cuman sayang cinta nya mentok di satu hati yang sampai saat ini masih dalam perjuangan dan mungkin masih jauh perjalanannya.
Dr Prabu keluar mungkin mengambil minum atau apa ke kantin dan dr Imam bergeser duduknya agak mendekat dengan Intan dan Intan menjadi salah tingkah.
"Kamu di paksa Kakakmu ya Tan buat sandiwara?"
"Dipaksa sih enggak tapi ya apa boleh buat, aku hanya mengikuti keinginan Kakak ,walau hatiku tak sepaham dan meragu juga."
"Kamu sudah tahu yang namanya Retno itu?" Intan menggeleng.
"Aku berteman baik dengan Retno, dia mencintai dr Prabu Kakakmu itu dan sampai saat ini Retno belum tahu kalau dr Prabu yang dia tunggu dan dia cari sekian lama adalah pimpinan di rumah sakit ini."
Dr Prabu datang dan dr Imam pura-pura lagi dan agak menjauh duduknya Intan yang melihatnya tersenyum di tahan, dalam hatinya berkata laki-laki sama saja nggak bisa kalau nggak tebar pesona lihat yang sedikit bening-bening apalagi yang kinclong nggak siapa nggak siapa.
Intan menghela nafas panjang dan menatap wajah dr Imam yang begitu simpatik dan bersih tapi kenapa seperti Kakaknya masih saja jomblo? adakah yang salah dari mereka berdua atau terlalu memilih akhirnya malah bingung sendiri?
Dr Prabu menyimpan tiga botol minuman teh di meja sofa dan dr Imam langsung mengambil satu lalu di berikannya pada Intan, Intan mengerutkan dahinya sambil mengambil minuman itu.
"Makasih dok."
"Iya cantik."
"Pencitraan!" dr Prabu tahu gelagat dr Imam.
"Haaaaaaaa... boss bisa saja."
Intan Juwita memang cantik tinggi langsing berhijab lulusan pesantren enam tahun dan kuliah sekarang di keperawatan juga, mungkin karena punya sang Kakak sebagai koneksi kerja suatu saat nanti, dr Prabu melihat Intan seperti mungkin melihat Ibunya saat muda dulu, apa yang ada di diri Intan seperti Ibunya saja, senyum lembutnya, bicaranya juga potongan mata dan mukanya.
Wangi parfum Intan begitu lembut seperti melayang menerpa hidung dr Imam atau memang semua wanita menyukai yang harum-harum? rasanya belum puas ngobrol keburu dr Prabu datang dengan tatapan yang tak bisa di mengerti, Hadeuuuuuuuh...
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝