Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Aku ingin menatapmu semalamam


__ADS_3

"Ya sudah terimakasih Pak dokter. Bibi sudah di kenalkan sama calonnya Pak dokter Bibi permisi dulu, mari Bu Retno.''


"Oh, Iya Bi silahkan."


"Eh Bi, kalau Mang Min sudah tidur?" dr Prabu seperti ada yang lupa dan ketinggalan kenapa Pak Min tadi tidak dipanggil untuk berkenalan dengan Retno.


"Pak Min sudah tidur Pak dokter tadi biasa agak sakit pinggang sedikit sama masuk angin katanya, sudah saya pijitin dan di kerok juga di gosok pakai obat gosok suka langsung mendingan biasanya, kasihan kalau harus dibangunkan, biarin besok lagi Pak dokter Pak Min kenalan sama Ibu Retno."


"Oh, ya sudah nggak apa-apa, biar Pak Min istirahat kalau memang kurang sehat."


"Makasih Bi ya."


"Jangan bilang makasih Bu, makasih untuk apa? hati Bibi senang banget Bu dokter ada di sini."


"Untuk minumannya Bi." Retno tersenyum sambil mengangguk.


Bi Iyah mengangguk undur diri balik ke belakang dengan muka sumringah dan hati yang begitu gembira, juga do'a yang tak pernah berhenti dalam hatinya bagi kelancaran dan kebahagiaan Pak dokter yang sangat dirinya hormati.


Begitu lama dirinya menunggu saat seperti tadi itu, Pak dokter membawa seseorang yang begitu cantik dan ramah sebagai calon istri, semoga mereka berjodoh dan hidupnya penuh keberkahan.


"Retno kita mulai suatu hari nanti di rumah ini. Setelah berkenalan dengan anggota keluargaku di sini di rumah masa depan kita."


"Ya Mas, tapi aku malu kalau harus nginap di sini, walau sama Bi Iyah dan Pak Min aku tak mau mengecewakan mereka dengan pandangan negatif padaku, kita harus menjaga hati dan pandangan baik mereka terhadap kita, walaupun kita tidak melakukan apa-apa."


"Retno, begitu menghargai dirimu sekalipun berhadap seorang asisten rumahtangga di rumahku. Begitu menjaga pandangan negatif mereka pada kita, kamu begitu perduli pada penilaian orang lain, aku merasa bangga dengan prinsipmu."


"Mereka itu adalah orangtua Mas. Tidak akan jauh dengan orangtua kita menilai dan cara memandang terhadap suatu hubungan juga permasalahan."


"Betul Retno, hati orang tua pasti seperti itu merasa cemas terhadap anak-anaknya. Saat kecil belum bisa menjaga diri sudah dewasa tetap takut tidak bisa menjaga harga diri, kasih mereka memang tidak ada batasnya."


"Jadi, aku antar pulang ya Mas." Retno memeluk sebelah lengan dr Prabu.


"Retno, ini sudah malam tidurlah di sini mau di kamarku boleh. Mau di kamar tamu juga boleh di kamar Intan sana di depan, kunci dari dalam aku tidur di sofa nungguin dan menjaga kamu."


"Mas. Aku jadi nggak enak, pokoknya aku mau pulang."

__ADS_1


"Aku belum ngobrol apa-apa sama kamu sayang, aku nggak akan apa-apa kamu, percayalah!"


"Ya sudah, aku tidur sekarang."


"Heith...jangan dulu, masa ninggalin aku sendiri disini? lihat tuh baru jam sembilan lewat dikit."


"Yeeee...Mas Prabu curang giliran aku minta diantar pulang dibilang udah malam. Tapi giliran aku mau tidur karena malam dibilang baru jam 9 gimana sih enggak konsisten banget."


"Namanya juga masih ingin sayang-sayangan heee..."


"Ya sudah, aku ikut keinginan Mas Prabu hayo aja mau ngobrol sampai pagi juga, tapi kalau aku ketiduran di sofa sini nggak apa-apa ya?"


"Tidurlah, di manapun kamu mau, aku akan menungguimu aku akan kamu menatap wajah kamu semalaman."


"Sungguh nggak ada pekerjaan Mas ini, nungguin orang tidur."


"Aku nggak ngobrol lagi, aku hanya mau memeluk kamu dan meyakinkan diriku kalau kita saat ini bukan sedang bermimpi Retno."


"Memang Mas Prabu belum yakin, kalau saat ini aku ada di samping kamu Mas?" Retno menyandarkan kepalanya di sebelah bahu dr Prabu.


Retno mengusap pipi dr Prabu dengan sebelah tangannya membelai rambutnya dengan tatapan penuh cinta.


dr Prabu memejamkan mata meresapi sentuhan lembut Retno. Menahan tangannya agar tetap berada di situ, lalu menariknya mendekapnya penuh perasaan.


Merasakan setiap degup jantung mereka. Serta membuat keduanya tenggelam dan hanyut dalam kebisuan.


"Retno, aku sayang kamu."


"Mas, aku juga nggak bisa jauh lagi dan aku nggak mau berpisah lama seperti kemarin-kemarin Mas."


"Emang siapa yang mau berpisah? kita kan mau serius hidup bersama"


"Aku belum bisa tenang Mas Prabu, entah kenapa hari-hariku selalu cemas menanti saatnya kita menghadap kepada kedua orang tuaku dan keluargaku semua."


"Iya sayang aku bisa memaklumi semuanya kecemasan mu memang beralasan, aku tidak cemas juga tidak takut karena aku punya kekuatan selagi kita masih saling cinta itulah kekuatan kita."

__ADS_1


"Aku kemarin mendapat telepon dari Kangjeng Ibu mungkin mereka sudah kangen banget sama aku. Tahu nggak Mas diakhir pembicaraan Ibu menitipkan pesan seperti ini, bawalah siapa pun orangnya yang kamu yakini untuk masa depan mu. Romo sama Ibu akan merestuinya asal kamu yakin dengan pilihan itu."


Hening...


"Aku menangis Mas tak sanggup menjawab apa kata-kata Kangjeng Ibu, mungkin Kangjeng Ibu sudah tahu dari Dimas adikku kalau aku mau pulang sehabis KKN ini."


"Retno. Apa kamu memberi sedikit gambaran untuk kedua orang tuamu kalau yang akan kamu bawa dan melamar kamu kembali itu adalah aku yang dulu?"


"Aku sudah menyampaikan semua kepada adikku Dimas. Dimas tahu kalau aku tidak bisa berpaling ke lain hati dan yang aku tunggu sekarang telah kembali mungkin seperti itu yang Dimas katakan kepada Kangjeng Ibu."


"Retno inilah aku, satu yang aku takutkan dalam hidupku juga di masa yang akan datang aku takut membuatmu tidak bahagia. Aku tak ingin menyakiti hatimu, seandainya bisa aku ingin menebus semua kesalahanku. Biarkanlah aku menghabiskan sisa hidupku jalani hari-hariku bersamamu dan memberi kebahagiaan untukmu."


"Aku juga sama Mas, aku bukan seseorang yang sempurna tapi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri terhadap perasaanku dan juga orang tuaku. Terhadap orang tuaku terlebih aku merasa bersalah dengan protes yang terlalu keras hanya mengikuti keegoisanku saja waktu itu, padahal mereka tidak seperti yang orang-orang lihat, mereka begitu menghargai dan pengertian."


"Pendapatmu benar Retno seandainya dulu kita pelan-pelan memberikan pengertian terhadap orang tuamu, meyakinkan mereka kalau aku sanggup menghidupi kamu, kalau aku sanggup membahagiakan kamu mungkin mereka akan mengerti."


"Iya Mas aku juga berpikir begitu. Bukan malah kita memberontak dan melawan mereka dan akhirnya kita berpisah sampai sebegitu lamanya saling menanti, dan saling menunggu padahal hati kita tidak bisa dibohongi kita sama-sama merindu."


Sudahlah Retno, semua tujuan harus ada perjalanannya begitu juga cinta kita, Sekarang aku hanya ingin bersamamu setiap waktu dan masa-masa kedepannya."


"Kalau mau tidur ayo aku tungguin sampai kamu tidur, aku menyayangi kamu aku tak akan menyakiti kamu."


"Aku tidur di sini saja, biar Mas yakin aku ada di sini bukan di mimpi Mas."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel Berbagi cinta : "Aku, Madu Sahabatku" author Ruth 89 sahabat baikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...

__ADS_1



__ADS_2