
"Kak Prabu Mas Imam ada yang mau di sampaikan," ucap Intan saat masuk rumah datang habis Maghrib diantar dr Imam sejak pulang kerja tadi.
"Dari mana dulu baru pulang?"
"Ya pacaran Kak, Emang Kak Prabu nggak pernah pacaran dulu?
"Nggak!"
"Ah, masa iya? katanya pacaran lebih dari lima tahun ngapain aja selama itu?"
"Aku hanya kirim-kirim pesan dan puisi saja beda sama Kamu!"
"Apaan pesan di kirim? ada juga makanan atau hadiah baru dikirim!" sahut Intan di sambut tawa Retno disamping dr Prabu.
"Sudah Kamu mandi dulu sana! datang datang ngoceh aja, mana dr Imamnya?"
"Tuh di teras depan!"
Dr Prabu mencium perut Retno yang lagi tiduran di depan TV lalu keluar menemui dr Imam.
"Masuk Mam!"
"Iya Bos terimakasih, masih gerah maaf antar Intan telat karena melihat-lihat dulu rumahku itu yang sudah selesai," jawab dr Imam sambil bangkit bergeser ke kursi satunya lagi. Memberi tempat pada dr Prabu yang hanya berdiri di pintu masuk.
__ADS_1
"Oh ya? Alhamdulillah dong."
"Iya, tapi belum ada isinya Aku mencoba mengenalkan rumah itu sma Intan berharap bisa adaptasi soal tempat dan keadaan susananya."
"Syukurlah, masalah di rumahmu sudah selesai memangnya?" tanya dr Prabu pada sahabatnya dr Imam SpOG yang kelihatan tak mendung lagi.
"Masih saja, tapi Vionna sudah pulang jadi sedikit bisa menarik nafas walau semua belum selesai rencana dan keinginan orangtuaku minggu depan malah mau berkunjung ke tempatnya keluarga Vionna jelas Aku menolak dan berontak untuk hal itu."
"Maksudnya untuk apa?
"Ya untuk kelanjutan maksud mereka padahal jelas Aku menolak, apa yang harus aku lakukan menentang orangtuaku salah satunya apapun itu."
"Nggak ada solusi lain?"
"Yang bener?"
"Iya Bos, Aku berniat menikahi Intan sesegera mungkin sudah Aku tanya kesiapan Intan tapi sepertinya Intan menyerahkan pada keluarga bagaimana tanggapannya nanti. Menurut Bos gimana apa sebaiknya melamar dulu atau langsung saja menikah saja?"
"Ya ampun Mam kok jadi begini? nggak ada jalan lain selain menikah dalam waktu buru-buru begini? Aku mesti bicara dulu sama orangtua gimana baiknya semua bukan atas dasar pendapatku saja. Kalau pendapatku apapun alasannya kurang setuju dengan pertimbangan Intan baru selesai kuliah belum wisuda juga itu mungkin tak masalah tapi bagaimana dengan orangtuamu nantinya?"
"Aku sudah dewasa ada saatnya aku juga ingin di dengar dan di mengerti, punya keinginan sendiri dan punya masa depan sendiri walau aku tetap memaafkan mereka mungkin dengan jalan ini semua akan berubah lebih baik lagi."
"Kalau meminta pendapatku ya seperti itu, nggak tahu tanggapan orangtuaku nanti."
__ADS_1
"Aku hanya ingin ketenangan saja baiknya seperti itu mungkin," jawab dr Imam mantap.
"Kalau itu pendapat kalian Kamu dan Intan itu yang terbaik Aku terserah saja yang punya wewenang dalam hal ini adalah orang tuaku kapanpun bisa kita bersama-sama ke sana meminta pendapat dan persetujuannya."
"Oke, makasih Bos setidaknya Aku meminta persetujuan mu saja dulu. Masalah nanti orang tua kalian itu urusan nanti Aku akan berusaha meyakinkan mereka."
"Kapan mau ke Majalaya?"
Besok juga Aku siap, setelah itu baru Aku bicara menyampaikan maksud dan niatku kepada orang tuaku apapun jawaban mereka aku tetap bersikeras hati ingin menikah dalam waktu dekat."
"Ya sudah kalau semua sudah di pertimbangkan dengan masak-masak Aku hanya setuju saja."
"Alhamdulillah besok sekitar habis Dzuhur ya!"
"Baiklah. Sebelumya nanti Aku kabarin dulu orang tuaku."
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️