
Dalam perjalanan Retno melihat jam lagi dan lagi di pergelangan tangannya bus nya terlalu lamban bakal kena sangsi lagi rupanya aku sore ini... hadeuuuuuuuh pasrah saja lah mau gimana lagi, aku memang nggak bisa terbang.
Dan akhirnya sampai juga seperti biasa tergopoh-gopoh dan lari- lari kecil bagian dari awal kedatangan Retno yang di buru dengan waktu.
Dengan girangnya kedua sahabat nya Ella dan Ismi juga temannya yang lain saat melihat Retno datang tidak terlambat pas mereka baru mau absensi.
Retno sudah di bawakan jaket almamaternya dan langsung di bungkus kan di tubuhnya mengganti cardigan Korea yang di pakainya tadi dari tempat kerjanya, Ella memang paling baik sedunia temannya ini mengerti banget apa yang di butuhkan nya.
Retno langsung mengerjakan tugasnya yang di sangsi suster kepala Miranti kemarin pada dirinya bahkan di tugaskan selama KKN di sini, tak ada keluhan apapun semua di terimanya dengan ikhlas dan ketulusan hati, semua ini pasti akan berakhir fikir Retno.
Hari ini ruangan pimpinan bersih banget seperti belum di injak, tapi Retno berusaha membereskan meja yang sedikit berantakan dengan kanebo juga menyapunya sedikit lalu mengganti air minum yang mungkin baru di minum barang satu dua teguk.
Retno mengetuk ruangan suster kepala Miranti dan tersenyum mengangguk ,kelihatan muka Retno begitu capek di lihat suster kepala Miranti, yang memandangnya tanpa senyum dari atas sampai bawah badan Retno membuat Retno salah tingkah.
"Ada apa? silahkan duduk!"
"Makasih Bu, saya sudah membersihkan ruangan pimpinan saya permisi dulu."
__ADS_1
"Ya, dan suster Retno tunggu dulu sepertinya ada yang mulai tertarik dengan suster Retno dan ini permintaan juga dari dr Imam SpOG dan dr Imam ingin suster yang tetap mendampinginya selama KKN di sini."
"Oh ya? saya Bu?"
"Tapi ingat jangan jadi penjilat dan perayu, di sini tempatnya di nilai segalanya, dan ini menentukan nilai mu nanti, itu tergantung semua darimu."
Terasa bergolak rasanya hati Retno, dan api kemarahannya begitu memuncak sampai di ubun-ubun nya, panas puncak kepalanya seperti terbakar api saja suster kepala Miranti begitu menghina dan merendahkan nya di sabar-sabar kan hatinya dan menarik nafas berat yang mendadak terasa sesak.
"Saya tidak meminta dan menawarkan diri mendampingi dokter siapapun Bu, itu Ibu yang tugaskan dari awal dan memintanya kembali untuk mendampingi dokter Imam SpOG, kalau boleh pindahkan saja saya ke dokter manapun juga saya tidak menolak, tapi Ibu jangan menghina saya dengan mengatakan jangan jadi penjilat dan perayu, saya sadar diri dan tahu datang kesini tujuan saya apa? saya juga bekerja di rumah sakit yang satu naungan dengan rumah sakit ini, saya tadinya berharap banyak bisa KKN di sini dan bisa belajar banyak, juga mendapat keringanan minimal kehadiran saya jangan full seperti yang kuliah reguler, apa yang di sombongkan dengan jabatan Ibu? saya juga kalau boleh sombong dalam masa rekomendasi untuk menduduki jabatan suster kepala seperti Ibu, saya tahu betul kerja seorang suster kepala bukan untuk menilai pribadi dan privasi orang lain, perlu Ibu tahu saya dari keturunan orang baik-baik tidak akan merendahkan martabat saya sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat masih banyak hal lain selain menjilat seperti suster kepala Miranti katakan pada saya! saya tahu sejak awal saya merasakan ketidak sukaan suster kepala Miranti pada saya, saya merasakan betul intimidasi dan sentimen yang begitu tinggi pada saya, saya juga punya perasaan Bu, bisa menilai mana orang yang suka dan nggak suka pada saya, saya hanya bertanya pada suster kepala Miranti satu kalimat saja, salah saya apa?"
Keluar sudah semua amarah, kekesalan, rasa kecewa dan merasa tidak di beri keadilan Retno, dan sebelum suster kepala Miranti menjawab Retno sudah keluar sari ruangannya menyusul teman temannya ke ruangan suster jaga.
"Sepertinya aku nggak bisa meneruskan KKN ini."
"Apaaaa...?" sahabatnya serentak dan kaget luar biasa.
"Sabar Mbak Retno Ismi ambilkan air minum sini biar Mbak Retno tenang dulu."
__ADS_1
Retno di bimbing duduk dan di sodorkan air minum, semua begitu menyakitkan hatinya, dirinya begitu kuat di hadapkan pada kenyataan apapun, tapi kalau sudah di hina dengan tuduhan yang tidak mendasar dan tidak di lakukannya Retno merasa sakit luar biasa.
Suster kepala Miranti menangis sejadi jadinya di ruangan dr Prabu Seto Wardhana, ingin menyudahi semua ini dan dirinya tak mau di cap jelek sama siapapun dan melakukan hal hal yang bertentangan dengan nuraninya, suster kepala Miranti terluka melihat Retno membencinya luar biasa, benar Retno kamu tidak salah hanya kenyataan mengharuskan kamu salah, walau cinta sendiri tak pernah salah selalu jujur kalau pada hakekatnya membenci juga.
Dr Prabu hanya diam tak sedikitpun bicara, hatinya begitu senang telah menjatuhkan Retno dengan serendah rendahnya, tapi ada sakit juga di hatinya yang terdalam dan pengakuan kalau dirinya nyata masih mencintai Retno.
"Carilah solusi lain dok jangan melibatkan emosi dan perasaan saya melulu, saya juga manusia saya takut suster Retno jatuh sakit di tekan perasaannya juga fisiknya, biarlah saya sudah tanggung di cap jelek di hadapan anak anak KKN, tapi saya mohon hentikan semua ini."
Deg! dr Prabu bergetar hatinya, bagaimana kalau Retno benar benar jatuh sakit? hampir seminggu bolak balik Tasikmalaya-Bandung Retno kelihatan sudah kurus, betapa ingin dr Prabu memeluknya, dan memberi perlindungan tapi yang keluar dari fakta hatinya ingin menyakitinya.
"Silahkan dr Prabu tengok sekarang masih syukur dia tidak pingsan, habis kerja datang dengan perjalanan jauh memburu waktu, harus membersihkan ruangan dan menerima segala cacian dan sangsi lanjut kerja sampai malam, besok mengulang lagi seperti itu, di mana hati nurani dokter? siapa suster Retno itu? Bukankah orang yang selama ini dokter cintai? dan yang selalu di tunggu? kenapa dokter menyia nyiakan kesempatan?"
"Ok ok stoooooop! sampai di sini tugas suster kepala Miranti, tak usah ada intimidasi lagi tapi yang sudah di tugaskan pada suster Retno biar tetap berjalan."
"Ya sudah silahkan, tolong kirimkan pembicaraan suster kepala Miranti dengan Retno tadi." dr Prabu menyodorkan sebelah tangannya ke arah pintu
Suster kepala Miranti keluar ruangan dengan mata sembab habis nangis, hatinya masih kesal pada dr Prabu yang melibatkan orang lain untuk urusan dendam pribadinya, padahal suster kepala Miranti tahu kenapa dr Prabu sampai sekarang belum menikah dan masih saja jomblo karena cintanya hanya pada Retno, dan itu Retno tahu dari sahabat dr Prabu yaitu dr Imam SpOG.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝