
Sampai Bandung waktu menunjukkan jam setengah delapan malam dan suster Harni agak kaget waktu Retno datang tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Feeling nya ini ada yang lagi kurang beres dan suster Harni membiarkan Retno mengambil kuncinya dan masuk ke kamarnya yang sudah beberapa hari ini tak di kunjungi nya.
Kesekian kali dirinya bertentangan faham dan ego masing-masing Retno nggak mau terus-terusan berantem sudah terlalu lelah hati dan perasaannya yang selama ini selalu ada saja pemicunya, dan juga tenaga dan fikirannya banyak terkuras untuk perjalanan bolak-balik antara tempat KKN nya dan tempat kerjanya.
Sungguh aku tak mengerti Mas Prabu apa keinginan mu, terhadapku kamu begitu cemburu setiap ada laki-laki yang dekat denganku walaupun hanya sebagai sahabat, tetapi giliran dirimu begitu dekat begitu rapat dengan seseorang kenapa kamu mengabaikan perasaanku kenapa? kenapa cinta yang begitu dalam ini membuat sakit, kapankah kedamaian akan datang pada kita apa perlu sekian tahun lagi atau tinggal selangkah lagi?
Retno merebahkan badan di tempat tidurnya dan airmata tak diundang juga selalu datang dalam sesak berbarengan di dalam dadanya.
Suster Harni yang melihat Retno sedang berbaring dengan bahu turun naik tak kuasa melihatnya, seorang Retno yang sudah dianggap anaknya paling besar lagi bersedih tak urung membuat suster Harni merasa bersedih juga, dengan bimbang ingin dirinya memberi sedikit penghiburan dan memberi solusi dari permasalahannya.
Suster Harni duduk di sisi tempat tidur Retno dan mengusap usap pundak dan punggungnya.
"Retno Ibu tahu kamu sedang ada dalam masalah, kalau nangis bisa membuat hati kamu lega silahkan menangis dulu, Ibu bukan mau ikut campur dalam masalah mu tetapi Ibu sebagai orang tua hanya ingin meluruskan permasalahan mu, ada apa lagi hemght...?"
Tak ada jawaban Retno hanya menangis seperti sakit hati yang teramat dalam, dan balik muka menatap suster Harni dan memeluknya.
"Ibu hanya tahu kamu lagi KKN di rumah sakit itu, 1 minggu sampai 2 minggu ini kamu ikut turnamen memeriahkan hari jadi rumah sakit itu Ibu sama Pak Burhan sudah memberikan keringanan terhadap kamu, kamu boleh bekerja tidak bekerja selagi ada jadwal kamu ikut turnamen, pergunakanlah waktumu total kamu di sana dengan sebaik-baiknya biarkan kamu mengekspresikan diri dan semoga bisa membawa nama baik kamu sendiri, hanya itu yang Ibu tahu lantas sekarang ada apa? kamu pulang malam-malam sendiri dalam keadaan sedih begini?"
"Apa salahku Bu? kenapa saat kami belajar menata kembali hati kami masing-masing mencari satu keyakinan diri kami masing-masing ada orang yang tidak suka dengan kehadiranku?"
Suster Harni tersenyum tetap mengusap punggung dan kepala Retno, dirinya telah menangkap suatu kesimpulan dari kesedihan Retno kali ini.
"Retno sayang kalau kalian sama-sama cinta mungkin sudah ada tulisannya di atas sana kalau kalian seharusnya bersatu. Apapun hambatannya tetap akan bersatu, tapi jika itu bukan bagian jalan hidup dan takdirmu bagaimanapun kita mengusahakannya tetap bukan jadi milik kita, sekarang hadapi semua masalah itu berdua selesaikan dengan bijaksana jangan malah saling menyiksa diri kalian masing-masing jangan kamu malah menghindari masalah, bukankah di selesaikan duduk bersama lebih baik?"
Selalu ada damai setiap galau rasa hatinya, saat mendengar pendapat yang tidak memihak salah satu dari bagian permasalahan yang di hadapi Retno, Retno mengerti kenapa dirinya begitu nyaman saat dekat dengan suster Harni.
"Retno, apa kamu mengerti yang Ibu maksudkan Nak?"
Retno menganggukkan kepala sambil masih mengusap airmatanya, mukanya kelihatan sembab dan hidungnya memerah.
"Semakin tinggi status sosial seseorang semakin tinggi egonya gengsinya, dan semakin tinggi angin menerpa nya, mungkin itu yang terjadi dengan Pak Prabu, semua tak bisa di hindari akan ada orang yang suka dan membencinya."
"Kamu belajar dari status sosial yang di sodorkan pasanganmu, belajar mencintai dan merelakan."
Retno memandang suster Harni dengan tidak mengerti akan arti ucapannya yang lain-lainnya. mungkin Retno kurang fokus.
"Ya belajar mencintai dan merelakan pasanganmu menjadi milik publik di saat tertentu, Pak Prabu mutlak menjadi milik rumahsakit itu, milik semua karyawannya, dan milik masyarakat dalam satu kesempatan relakan itu, dan milikmu jika sudah nanti berkeluarga hanya di rumah dan kamarmu saja."
__ADS_1
Retno diam seakan semua yang di ucapakan suster Harni kena di hatinya, dirinya seakan belum paham sampai sejauh itu memandang Mas Prabu dan sekarang dirinya mengerti mengapa demi seorang Alya yang anak seorang walikota, Mas Prabu rela mengabaikan dirinya, itu demi citra baiknya dan image baik di hadapan rekan-rekan pergaulannya dan lingkungannya.
"Kalau semua orang hidup tanpa masalah, akan sepi kehidupan ini dan semua akan kaku dan tak begitu berjalan dengan dinamis kehidupan ini, jadi belajarlah untuk bisa memahami pasanganmu tak cukup hanya mencintai dan di cintai, tanpa ada pemahaman akan diri kita masing-masing."
Deru mobil berhenti di luar membuat Retno agak kaget dan tertegun juga, apa itu mobil Mas Prabu yang menyusulnya? sekelumit rasa bersalah dalam diri Retno yang telah membuat kecemasan hati Mas Prabu, mungkin langsung menyusulnya ke sini tetapi di sisi lain baguslah agar dia mengerti sikap tak suka aku terhadap apa yang diperlihatkannya tadi siang.
"Tuh siapa yang datang? jaga dengan sikap dewasa dan jangan memperlihatkan marah saat pasangan lagi dalam keadaan capek, biarkan istirahat dulu baru kalian boleh bicara dan kedepankan solusi bukan emosi."
Pintu yang terbuka di ketuk, dan dr Prabu dengan tersenyum mengangguk pada suster Harni yang masih duduk di pinggir tempat tidur Retno.
"Eeeeh... Pak Prabu mari masuk sini kebetulan Ibu lagi ngobrol sama Retno, pasti capek ya habis susul-susulan pada ke sini ya? biar Ibu ambilkan minum dulu atau Pak Prabu mau kopi apa teh barangkali?"
"Jadi ngerepotin apa aja lah Bu yang ada."
"Ya ya ya, enggak kok tamu masa minum aja nggak di suguhi?"
Suster Harni beranjak keluar dari kamar Retno dan menuju ke rumah utamanya, sedang Retno juga dr Prabu hanya diam dan Retno memalingkan mukanya menghadap tembok dan entah apa yang di cari dan di lihat di ponselnya sampai sebegitu sibuknya tak melihat sedikitpun ke arah dr Prabu.
Dr Prabu juga nggak berani mengusiknya membiarkan Retno dengan posisinya, ada senyum di bibir dr Prabu mungkin merasa lucu saja saat melihat Retno dalam keadaan marah pada dirinya.
Suster Harni datang lagi dengan dua cangkir minuman teh dan kelihatan hangat, dan menyimpannya di depan dr Prabu.
"Makasih banyak Bu Harni."
"Retno, aku minum ya!"
Retno mengangguk, tanpa melihat muka dr Prabu.
"Kamu juga minum nih, enak banget teh manis hangat."
Retno tak bergeming asyik dengan ponselnya seakan nggak mendengar kalau dr Prabu mengajaknya bicara.
"Oke, mari kita sama-sama main ponsel dan diam-diaman berdua di sini."
Retno menatap dr Prabu masih tanpa bicara, dan kembali ke posisi awalnya asyik dengan ponselnya.
Dr Prabu merebut ponsel Retno lalu memasukkan ke dalam saku celananya dan Retno tak sempat menghindarinya.
"Ambil ayo!"
__ADS_1
"Mas!"
"Apa? ayo ambil mau main ponsel semalaman?"
"Balikin!"
"Nggak!"
"Iiiiiiiiiih dasar nyebelin."
"Sudah nggak usah ngebahas apa-apa walau aku nyebelin bagi kamu tapi tetap ngangenin heee... jalan-jalan yuk."
"Males."
"Kita cari makan."
"Nggak mau."
"Nonton film?"
"Capek."
"Maunya kamu itu apa?"
"Aku nggak mau apa-apa."
"Tapi kalau di peluk mau?"
"Peluk aja tuh ulat gatal yang nempel terus, ngapain Mas ikut ke sini siapa yang ajak?"
"Aku nggak usah di ajak, aku tahu tempatnya ya datang sendiri aku kangen sama kamu."
"Aku enggak!"
"Jangan bohongi hati nurani, semua akan menyiksa."
"Kalau tidak bohong, apa arti semua itu yang terlihat dengan jelas di depan mataku?"
"Retno aku harus dari mana mulai memberi penjelasan padamu? tolong mengerti posisiku apa aku harus usir si Alya dan hardik dari sisiku? aku akan merasa tak tahu tata krama dan sopan santun kalau itu sampai aku lakukan."
__ADS_1
"Katakan! apa aku salah merasa di abaikan merasa tersisihkan dari sisimu? aku juga sakit Mas, seandainya aku di posisi Mas apa yang Mas lakukan?"
Happy reading❤️😘😍🙏