
"Halo, siapa nih?"
"Kamu siapa?"
"Yeeeee...lo yang telephon malah tanya gue siapa? gue ya gue lo siapa?"
"Sorry sorry, aku mau tanya apa ini nomor dengan orang yang namanya Desty?"
"Lo tahu tuh nama gue, dari mana? jangan bilang kalau lo Intel polisi, gue nggak ada salah apa-apa dan jangan telephon gue lagi!"
"Hait hait... sabar dulu aku bukan Intel polisi, aku mau tanya apa ini benar yang namanya Desty?"
"Benar, ada apa? gue lagi kerja lo sudah mengganggu waktu kerja gue ngerti?"
"Buset, galak banget! lo punya teman yang namanya Alya kan?"
"Ya ya ya...gue temannya, di mana dia sekarang? apa dia baik-baik saja? ada sama lo ya?"
"Alya baik-baik saja, karena kamu juga sudah mengganggu waktu kerja aku kalau mau tahu lebih jauh datang aja ke sini."
"Hai lo serius ya? lo nggak menjebak gue kan?"
"Silahkan tentuin di mana kita bisa bertemu, jangan di sini biar kamu percaya, jam makan siang nanti ya."
"Oke."
Desty baru sadar tidak bertanya siapa orang itu dan dimana dia berada, Desty yang menyebutkan tempat dimana mereka bertemu nanti. Tanpa tahu orang itu akan datang apa enggak?
Apa ditelepon lagi ya? tapi merasa Desty bersalah telah salah sangka duluan terhadap orang yang mungkin punya tujuan dan niat baik mengabari tentang sahabat nya Alya
Apa aku laporan dulu sama Ibu Sofyan Wijaya kalau ada sedikit kabar tentang Alya? apa aku pastikan dulu ini orang benar atau tidak? dan aku juga belum tahu siapa ini orang, jangan jangan orang iseng yang hanya mengerjainya.
Desty memutuskan datang lebih awal ke salah satu Mall tempat dirinya berkumpul bersama teman-temannya dulu masa-masa SMA, dan semakin ke sini Desty malah seringnya nongkrong di cafe nya Alya.
Celingukan sendiri seperti orang hilang menunggu seseorang yang tidak pasti, dan juga belum kenal sama sekali, sesuatu yang mendebarkan juga.
Desty dengan sedikit tidak tenang duduk di salah satu sudut meja dan memesan minuman, hanya sekedar menenangkan diri dan juga menyiram tenggorokannya yang terasa kering.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan jam 12:19 tetapi belum ada tanda-tanda orang itu datang celingukan mencari seseorang seperti dirinya, selalu melihat setiap orang yang lewat di dekatnya dan mengamatinya.
Akhirnya ponselnya berbunyi dan nomor tadi menghubunginya, berarti ini orang benar menurut kata hati Desty.
"Ya! aku sudah di sini, meja sudut kiri paling depan kalau di lihat dari depan, Aku pakai baju kemeja jeans!"
"Ok."
Selang beberapa menit seseorang menghampirinya, seorang laki-laki yang jauh dari perkiraan Desty sebelumnya, seorang laki-laki tampan, tinggi proporsional, ganteng dengan kemeja dinas kantor warna biru laut lengkap dengan dasi juga jas di tangannya karena tidak di pakai datang menghampirinya.
Desty bingung mungkin dirinya salah orang, atau orang itu yang salah menghampiri dirinya.
"Hai, Desty ya?"
"I-iya... Bapak yang nelephon saya tadi?"
"Hah Bapak? memang penampilan saya sudah seperti bapak bapak?" Desty merasa bersalah.
"Oke, ya sudah Mas tadi yang telepon saya?" Desti mengulang kata-kata sambil membuang pandangan membuat Rendra tertawa sendiri.
"Kenalkan, nama saya Rendra saya sudah tahu nama situ Desty."
"Justru karena itu saya ini disuruh Alya untuk menyampaikan pesan ini pada kamu, Alya ada di suatu daerah dengan cerita seperti ini dari awalnya."
Desty menyimak tanpa berkedip memandang Rendra yang sedang bercerita di hadapannya. Ganteng juga ini orang dalam hati Desty memuji, pasti dia juga bekerja di suatu kantor yang resmi.
"Sebelum saya cerita, silahkan pesan dulu makanan, saya yang traktir kamu walau ini bukan suruhan Alya. Saya mau tanya dulu tentang siapa Alya sebenarnya, sebelum saya mengatakan Alya ada dimana dan dengan siapa sekarang."
"Oke Aku pesan dulu makanan, lo eh...Mas mau apa?"
"Apa aja, samain aja sama kamu biar kita cerita dan ngobrolnya sambil makan, saya hanya punya waktu sampai jam satu siang tapi lebih dikit bolehlah."
Desty memanggil pelayan dan memesan makanan yang diinginkannya, lalu memberikan buku menu ke pelayan itu.
"Tapi lo, eh...Mas jujur ya mengatakan kalau Alya ada di mana?"
"Saya mau jujur tapi saya harus tahu dulu siapa Alya dan keluarganya, dan juga masalahnya. Siapa Alya? apa ada orangtuanya? juga seperti apa masalahnya?"
__ADS_1
"Alya adalah sahabat saya, anak seorang walikota di sini anak satu-satunya. Dia jatuh cinta dengan seseorang tetapi orang itu tidak mencintainya sungguh menyakitkan memang sampai suatu saat di suatu sore Alya mendapat kesempatan berdua dengan orang yang di cintainya, Alya melakukan hal curang dan tercela memasukan perangsang dan obat tidur pada kopi yang disuguhkan Alya kepada orang itu." Desty menghela nafas, lalu melanjutkan ceritanya.
"Alya memang licik, egois dan juga ingin menang sendiri dalam segala hal tetapi kali ini dia kena batunya. Alya berhasil menjerat mangsanya tadinya Alya berniat hanya ingin mendapatkan momen foto-foto untuk menteror orang yang dicintainya bersama kekasihnya, berharap satu hal mereka putus dan Alya mendapat kesempatan mendekatinya, laki-laki yang dicintainya putus? ternyata tidak! Alya salah langkah dan perhitungan."
Rendra mengangguk-anggukan kepalanya mengerti kenapa Alya dia tidak gencar meminta pertanggungjawaban karena mungkin dirinya sadar, dirinya yang paling dominan bersalah dalam hal ini.
"Setelah sadar orang itu dari pengaruh obat dia marah dia emosi dia tidak terima dilecehkan seperti itu dan akhirnya dia melakukan pemaksaan terhadap Alya dan terjadilah kehamilan itu."
"Apa laki-laki tadi tahu kalau Alya hamil?"
"Ke sini ke sini dia tahu karena Alya memberitahukannya, tetapi mungkin dia juga dalam dilema karena dia telah melakukan pernikahan dan berumah tangga dengan orang yang dicintainya."
Rendra membuang nafas berat, sambil mengetuk itu kan carinya di meja makan.
"Tidak sampai di situ terjadilah konflik di keluarganya Ibunya, syok, mungkin malu, Bapaknya stress kedua orang tuanya mencari jalan baiknya seperti apa, tetapi tidak kunjung mendapatkan penyelesaian. Alya tidak tahan hidup di rumahnya karena setiap hari yang didengarkan, dilihatnya hanya berantem kedua orang tuanya mempermasalahkan yang sudah terjadi pada dirinya."
"Pasti semua keluarga akan panik."
"Bapak walikota meminta pertanggungjawaban terhadap orang yang menghamili Alya waktu tahu Alya hamil tetapi begitu dilema orang itu yang didatangi untuk diminta pertanggungjawaban dalam masa-masa persiapan melangsungkan pernikahan. Alya tidak punya pijakan tidak punya pegangan akhirnya dia pergi tanpa menitipkan kabar sedikitpun kepada siapapun termasuk saya sahabatnya."
"Apa tanggapan orang yang menghamilinya?"
"Saya mendapat kabar terbaru dari Ibu Sofyan Wijaya yaitu Ibu walikota Ibunya Alya mengatakan kalau orang yang menghamili Alya sudah datang kepada kedua orang tuanya dan berniat bertanggungjawab, dan akan menikahinya walaupun pada awalnya dia bersikeras tidak menerima semua itu.
"Aku faham sampai di sini kamu cerita. Alya menanggung beban yang begitu berat di tengah kehamilannya."
"Sekarang lo eh...Mas Rendra yang cerita kan gue udah cerita semuanya."
"Makan aja dulu nanti dingin nggak enak."
.
.
.
Biarkan Aku Memilih Kurang lebih sepuluh episode terakhir.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️