
"Ajeng coba lihat aku, kalau masih mau marah silahkan nggak apa-apa tapi aku mau kamu dengar satu hal kalau aku juga manusia biasa sama seperti kamu, aku punya rasa terhina, sakit hati dan terluka juga ingin membalaskan semua sakit hati itu, juga kamu harus tahu kalau kita selama ini sama-sama saling menunggu dan merindukan."
Retno tak bergeming sedikitpun dan tetap tak mau melihat wajah di belakangnya, wajah pura-pura menurut kata hatinya dan wajah penuh kepalsuan, juga wajah tak punya hati, tega dan lain sebaginya.
"Tapi aku rasa tak adil melampiaskan sakit hatiku pada kamu, yang sebenarnya aku masih dan selalu mencintaimu, perjalananmu dan perjuanganmu dalam kesendirian mu menapaki hidup seperti yang kamu ceritakan dan keluargamu sampai Romo mu sakit sakitan aku turut prihatin yang mendalam, itu membuatku merasa lebih bersalah lagi"
Merasa semua tergambar lagi di ingatannya dengan kata-kata dr Prabu, Retno hanya bisa menangis dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, dan dr Prabu mengusap-usap pangkal lengan Retno yang bergetar turun naik karena isakan.
"Maafkan aku, aku bicara bukan ingin membuat beban pada hatimu, tapi aku hanya ingin maafmu dan pengertian mu, cepatlah sembuh aku juga sangat merindukanmu." dr Prabu memeluk Retno dari belakang seakan ingin melepaskan beban hatinya yang sekian lama membebaninya.
"Aku ingin menghapus air matamu dengan kebahagiaan cukup lah sekian tahun kamu mengurai airmata."
"Pergi Mas pergi! aku tak mau lagi melihatmu dan aku yakinkan padamu aku sudah tak mencintaimu lagi, semua telah berakhir telah menjadi masa lalu kita, biarkan aku memandang masa depanku sendiri, aku sudah terbiasa seperti ini jangan usik lagi kehidupanku, pertemuan kita di sini adalah jawaban bagiku untuk bisa memulai hidup tanpa bayang-bayang mu dan mengharapkan lagi kehadiranmu, aku mengundurkan diri dari KKN ini aku mau pulang ke Bandung."
terbata-bata Retno bicara tanpa melihat dr Prabu dan tetap membelakanginya.
"Ajeng coba lihat sekali saja ke arahku, aku telah menyadari dan menyesalinya akankah kamu menyiksaku lebih lama lagi? dan haruskah kamu juga menyiksa diri sendiri? sampai kapan?"
Retno diam masih saja emosi dan meletup-letup saat bicara dan ingin semua uneg-uneg hatinya di tumpahkan semua.
"Pikirkan lagi semuanya, KKN jangan jadi beban lagi buatmu terserah mau di lanjutin mau enggak juga, kalau mau pulang ke Bandung ayo aku antar."
__ADS_1
"Aku sudah tidak mau lagi berada di sini di tengah orang-orang penuh kemunafikan."
"Aku akan suruh dr Imam dan suster kepala Miranti minta maaf padamu, aku janji! tapi kamu harus memaafkan mereka karena mereka adalah setingan aku yang menyuruhnya."
Retno sekilat berbalik menatap wajah yang selama ini ada di hatinya.
"Aku sudah menduganya dr Prabu! begitu tak berperasaan, begitu keji dan munafik nya kamu memperlakukan aku dan mempermalukan aku, melecehkan aku seperti pada kelinci mainan yang menyenangkan hatimu, dan jadi tontonan kalian yang sangat menyenangkan kalau saja nggak keburu terbongkarnya kebohongan mu entah apa lagi yang akan kamu lakukan padaku, masihkan kamu mau mengharap maaf dariku? jangan harapkan semua itu! pergilah dengan perempuan manja mu yang kamu gandeng waktu sore itu, lupakan aku untuk selama-lamanya kita pastikan kita akhiri semuanya sampai di sini!"
"Retno, Ajeng kamu salah faham sudah-sudah aku nggak bicara lagi, karena semua akan sia-sia kamu masih sakit, juga masih emosi."
Dr Prabu berusaha memeluk Retno tapi sekuat tenaga Retno mendorongnya sambil mengusap air matanya, dan dr Prabu tak menyerah tetap lembut memperlakukan Retno, di tenangkan nya dengan di usap-usap pundak dan punggungnya.
Dr Prabu mencium kepala Retno tanpa aba-aba dan mengusap pipinya, Retno hanya terperangah di buatnya tak sempat menghindar dan mengelak nya semua di sadari saat dr Prabu membuka pintu dan keluar ruangan.
Retno mengusap pipinya, ingin segera mencucinya dan menghilangkan rasa hangat telapak tangan dr Prabu di pipinya, Retno ingin teriak sekencang-kencangnya dan mengeluarkan beban yang mengganjal di hatinya, kenapa aku harus KKN di sini? kenapa harus bertemu dengan cara seperti ini? kenapa semua jadi begini? aaaaaah... semua begitu menyebalkan semua begitu memuakkan.
Retno mencoba bangun dan duduk terasa kesal hati dan perasaannya, dan mengambil ponselnya melihat jam dan menelephon.
"Hai, sayang gimana sudah sehat?" suara khas suster Harni di ujung sambungan telepon sana, dan Retno hanya terisak dan begitu susah untuk mengadu entah dari mana dirinya harus cerita semua begitu rumit untuk di ceritakan.
"Loh, loh kok malah nangis? sudah mendingan kan? silahkan nangis dulu biar lapang hatinya dan nggak usah cerita nggak apa-apa aku akan mendengarkan saat suster Retno bisa bercerita kapanpun itu."
__ADS_1
"Buuuuuu...aku harus bagaimana?" Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya beserta isakan.
"Retno sayang satu sembuhkan dulu sakit mu, jika sakit mu karena masalah yang sedang kamu hadapi lupakan dan abaikan dulu semuanya dan usahakan semangat untuk sembuh dan sehat, dua jangan mengambil keputusan apapun dalam keadaan sakit, emosi, marah, lapar dan capek karena semua keputusan yang kamu ambil tidak akan bijaksana, dan malah akan mendatangkan penyesalan nantinya, dengar apa kata Ibu, mengerti?"
"Iya Ibuuuuu..."
"Ibu nggak bisa menjenguk kamu karena kesibukan, tapi Ibu mengerti keadaanmu, Ibu memahami semua masalah yang ada di dirimu kamu pasti bisa melewati semuanya, maaf Retno Ibu sudah tahu semuanya dari dr Prabu sendiri waktu ngobrol sama dr Burhan di sini beberapa waktu lalu,nuntuk cerita sebenarnya cepatlah sembuh dan beraktifitas kembali."
"Aku ingin pulang secepatnya ke Bandung Bu."
"Iya iya...jangan dulu banyak fikiran makan dan minum obatnya istirahat itu saja, jangan fikirkan soal pekerjaanmu biar Ibu yang urus dan dr Prabu sendiri yang minta izin untukmu pada Ibu kemarin."
"Iya Bu."
Suster kepala Harni seperti layaknya seorang Ibu bagi Retno, ada perjalanan yang berliku di kisah sekelumit Retno saat memutuskan berontak pada keluarganya, dan di rumah suster kepala Harni lah Retno menumpang hidup dari keterpurukan masalah pribadi dan keluarganya, dan bekerja sampingan sambil kuliah di keperawatan keputusannya saat itu, berangsur lulus D3 kerja di terima di tempatnya magang dan pulihnya hubungan dengan keluarganya sekarang Retno meneruskan kuliahnya hingga S1 dan kini lagi program KKN.
Perjalanan dan kisah hidupnya hanya di bagi dengan Bu Harni dan kesendiriannya,sejuta nasehat Bu Harni selalu yang menjadi prioritasnya, tapi untuk masalah pribadinya Retno belum bisa sepaham, dari kemarin kemarin selalu Bu Harni menasehati jangan terlalu setia pada masa lalu mulailah dengan diri sendiri, jangan menyiksa diri dengan penantian yang tak pasti, semua juga punya masa lalu dan lain lain nasehat, tapi Retno tetap pada pendiriannya dan yakin suatu saat akan bertemu dengan Mas Prabu dan memang belum lama ini ada masukan dari suster Aisyah untuk mencari jawaban dan mendatangi rumah kediaman orang tua dr Prabu, dan semua sudah di niatkan Retno selesai KKN nanti tapi kejadian ini merubah semuanya jawaban dari pertanyaannya terjawab sudah.
_ Penulis merevisi sedikit cerita ini untuk bisa lebih enak di jadikan imajinasinya!
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝
__ADS_1