
Retno selesai di dandani, kali ini adat yang di pakai adalah sunda modern karena dr Prabu asli dari tatar Sunda. Sudah menjadi kesepakatan dari awal kalau waktu di Pekalongan menggunakan tata cara dan prosesi adat Jawa, sekarang untuk resepsi di sini dr Prabu dan keluarganya menginginkan ada budaya Sunda yang dimasukkan pada acara resepsi kali ini.
Sebenarnya tak masalah kedua belah pihak keluarga saling menghargai dan tenggang rasa, juga saling menjunjung tinggi adat budaya masing-masing, semua itu malah memperkaya khasanah pelestarian budaya daerah asal masing-masing.
Begitu bijaknya kedua orang tua mereka dan berimbas kepada Retno dan dr Prabu, sehingga keduanya sepakat menyetujuinya, malah keduanya bangga menjadi bagian dari adat budaya yang di satukan.
Maka jadilah penyatuan dua unsur budaya dan adat di tampilkan dalam satu acara pernikahan mereka.
Retno yang tampil dengan kebaya keemasan dengan kerudung senada juga tujuh kembang goyang dan roncean melati begitu anggunnya.
Padu padan yang sangat ideal di tubuhnya, dengan make up natural lebih memancarkan aura putri putri keraton pada jaman dahulu.
Retno memang cantik, asli keturunan raja-raja dan ningrat Jawa yang belum begitu jauh mewarisi darah biru secara garis keturunan.
Dr Prabu membimbing dan menggandeng dengan bangga, mendudukkan istri bercintanya di pelaminan, yang begitu penuh dengan bunga-bunga semerbak dengan dominasi warna putih.
Raja dan ratu sehari begitu kontras terlihat dengan diiringi musik degung kacapi suling khas Sunda dan diselingi musik modern penampilan lain dari musik live organ tunggal dan penyanyinya.
Retno berusaha menjadi orang yang bahagia hari itu di hadapan tamu undangan yang membludak, juga di samping kirinya pasangan orang tua dan di samping kanannya mertuanya.
Suster Aisyah teman dekat Retno, teman kerja, teman curhat, teman dikala sepi, teman makan, teman jenuh dan teman ngantuk saat kerja dinas malam, teman segalanya bagi Retno, yang selalu ada dan saling membantu di saat mereka butuh bantuan satu sama lainnya, Suster Aisyah memeluk dan menciumnya beberapa kali sampai dr Prabu merasa iri melihatnya.
Membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan, dengan caranya, seakan tak ada batas keduanya, itulah sahabat suka duka.
Datang suster kepala Harni mengucapkan selamat berkali-kali melebihi dosis minum obat, memeluk dengan erat sambil membacakan doa pernikahan di hadapan dr Prabu dan Retno.
Kebahagiaan tak terhingga, begitu terpancar laksana sama anak sendiri, do'a terbaik setiap waktu untuk Retno yang sudah dianggapnya anak sendiri bagi suster kepala Harni.
Kini semua menjadi kenyataan dan semua berakhir indah. Penantian yang tak sia-sia dan begitu sangat bermakna.
Ismi dan Ella mengajak Retno bermain satu aplikasi yang sekarang lagi booming Tik-tuk di pelaminan meluapkan kebahagiaan mereka, beserta anggota KKN lainnya.
Retno tak bisa menolaknya, walau merasa konyol dan tidak latihan dulu, demi sahabat-sahabatnya semua bergembira luar biasa.
__ADS_1
Seakan tak di beri kesempatan untuk seorang dr Prabu mendekati Retno, mereka menguasainya apalagi Ismi sama Ella telah mempersiapkan kejutan ada di kado mereka.
Retno begitu bahagia secara penampilan dan tampak dari roman mukanya sampai mengabaikan suaminya sendiri, dr Prabu hanya tersenyum melihat teman-temannya Retno mengerjai pengantinnya.
Seandainya semua berjalan baik-baik saja, seandainya Retno tak di hadapkan pada persoalan yang membelitnya, tentu kebahagiaan ini menjadi miliknya seutuhnya.
Dr Burhan yang lumayan lama berbincang di hadapan mereka, Retno sempat berucap ingin pindah lagi kerja ke Bandung seandainya di terima, tapi semua itu dianggap dr Burhan dan dr Prabu hanya lelucon biasa saja.
Semua pada tertawa menanggapi obrolan dan ucapan Retno pada mantan pimpinannya.
"Sudah enak di sini dekat sama Arjuna malah mau pindah lagi ke sana, gimana nih suster Retno?" Dr Burhan tertawa terkekeh sendiri.
"Aku tak bisa lepas dari kenangan masa lalu Pak."
"Masa lalu kan masih bisa di kenang, apalagi masa lalunya ada di sampingnya kini setiap saat."
Dr Prabu tersenyum menanggapinya, dan mengambil tangan Retno lalu menciumnya dengan pandangan menggoda nya.
Dr Burhan tertawa sambil mengangguk dan manggut sekali lagi, memberi selamat kepada dr Prabu juga suster Retno.
Senang banget semua orang menggoda sepasang pengantin padahal sebagian besar orang kalau sudah mengalaminya akan biasa saja, tetapi antusias memberi selamat selalu dengan embel-embel yang membuat semua orang memancing ke hal-hal yang berbau asmara.
Memang begitulah kehidupan sebelum punya pacar selalu ditanya orang dengan setengah interogasi sudah punya pacar? setelah dewasa memiliki pacar ataupun tidak selalu ditanya kapan menikah? begitulah seterusnya setelah menikah sudah punya anak berapa? sudah punya anak pun masih saja ditanya kapan punya adik.
Dunia memang tak ada habisnya dan kehidupan yang mengisinya bergulir melewati masa demi masa, siklus silih berganti tetapi kebiasaan dan kelumrahan tetap saja berjalan seperti biasanya.
Pengantin baru selalu menjadi bahan pergunjingan yang sangat mengasyikkan dan bahan godaan sampai menjurus ke hal yang sensitif dan pribadi, tapi itu dianggap wajar karena mungkin pengalaman pertama seorang pengantin menapaki kehidupan asal sendiri menjadi berdua.
Diantara teman dekatnya yang paling dekat dengan Retno dan juga dr Prabu yang terakhir memberi selamat adalah suster kepala Miranti.
Tak kalah hebohnya dengan orang-orang sebelumnya, dari kejauhan sudah memperlihatkan betapa bahagianya hati suster kepala Miranti, saat kedua orang ini yang berawal dari pertemuan di rumah sakit kisahnya berlanjut hingga ke pelaminan.
Kisah tak terlupakan tentang KKN Retno, juga saat menjadi pusat bully dirinya, begitu sulit dilupakan dan begitu sulit juga untuk dimaafkan, jujur suster kepala Meranti ingin meminta maaf terlebih kepada nyonya Prabu Seto Wardhana, yang sekarang sudah resmi menjadi suami istri.
__ADS_1
Juga mungkin kalau bukan karena dirinya entah seperti apa kisah cinta mereka, yang putus nyambung berantem dan berantem walaupun hati mereka masih saling sangat mencintai.
"Akhirnya bertemunya di sini juga, sejak kapan kalian akur, dan sepakatnya?"
"Haaa... sejak lama Bu Miranti." dr Prabu ngakak sambil menyalami suster kepala Miranti.
"Mana comblang kalian satu lagi, dr Imam SpOG mana sepertinya akan ada pasien baru nih."
Retno hanya tersenyum, dan memang menebar senyum sudah jadi keharusan nya walau senyuman tidak mewakili hati yang sebenarnya.
Dr Imam datang menggandeng Intan, sambil sama-sama tersenyum, mereka bebas bercengkerama dan mengobrol karena tamu undangan sudah beranjak pulang dan berkurang, hari dan jam sudah semakin melewati batas yang telah dicantumkan di surat undangan.
"Sepertinya yang selalu mesra ini akan segera menyusul juga ya?"
Suster Miranti menggoda dr Imam SpOG dan Intan.
"Tinggal menunggu hari aja, tapi bulannya juga sama tahunnya belum ketemu haaaa..."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
vote dan beri hadiah ya!
__ADS_1