
Retno datang ke ruangan suster jaga hampir maghrib teman temannya pada diam dan hanya memandangnya dengan prihatin dan pada mengusap-usap tangan dan punggung Retno mengisyaratkan jangan ada yang bertanya pada dirinya karena saat ini dirinya begitu tak ingin bicara apa pun.
Kepalanya di tumpu di kedua tangannya di atas meja racik obat dan Retno menangis dengan di tahan mukanya tak terlihat.
"Apa salahku Ella, Ismi?" Retno bertanya sambil terisak dan Ella sama menangis dan memeluknya.
Datang suster kepala Miranti dan tertegun melihat Retno dan Ismi lagi berpelukan sambil menangis, lalu kembali ke ruangannya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Suster kepala Miranti mengetuk ruangan pimpinan langsung masuk dan duduk di hadapan pimpinan.
"Apa yang dokter lakukan pada anak asuh saya suster Retno?" suster kepala Miranti menatap dengan marah.
"Kenapa memang? aku begitu puas mengerjainya hari ini suster haaaaaaaa haaaaaaaa..." suara tawa dr Prabu bagai suara gledek yang bergema menakutkan.
"Aku tak bisa lagi dokter hatiku ikut nelangsa, apa yang telah dokter lakukan sehingga Retno sampai menangis? seperti sakit hati yang begitu dalam ataukah aku akan bongkar sendiri semua ini kalau dokter sangat keterlaluan sama suster Retno."
"Haaaaaaaa.. tenang suster kepala Miranti, tadi saya agak keterlaluan sedikit memang."
Suster kepala Miranti terhenyak.
"Semua baru aku nikmati."
"Saya tak mau tahu lagi dan saya sangat marah kali ini, dokter memang sakit dan harus mengobati diri sendiri, dan ingat akan ada sesal di hati dokter camkan itu, dan saya katakan sekali lagi itu bukan kebencian tapi rasa cinta itu sendiri belum hilang dalam hati dokter, perasaan tak bisa memiliki yang mendorong semua itu! kenapa tak memulai lagi dengan perasaan yang sama?"
Suster kepala Miranti menjadi emosi tak perduli di hadapannya atasannya sendiri.
Dr Prabu diam sama sama menahan emosi.
"Mana informasi data pribadi Retno yang aku pinta dan no telephonnya? juga laporan sangsi hukuman hari ini?" kilatan mata dr Prabu begitu menakutkan.
Suster kepala Miranti keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya dengan sangat emosi lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan rekaman pembicaraan antara dirinya dan suster Retno tadi sore.
''Tahu kesalahanmu?"
"Ya Bu saya datang terlambat."
"Saya tak mau mendengar alasan apapun untuk kedepannya, itu teknik dan trik kamu untuk kedepannya, cobalah belajar untuk lebih disiplin"
"Ya Bu"
"Kesalahan kedua!"
"Kesalahan kedua kamu memakai seragam kerja saat kegiatan KKN!"
"Ingat identitas itu perlu agar kami bisa melihat kegiatan yang kalian lakukan, dan setiap kesalahan harus ada sangsinya, mulai sekarang suster Retno saya beri tugas selama tiga bulan kedepan dan selama KKN di sini membersihkan ruangan pimpinan seperti kemarin dan mengganti minumannya."
__ADS_1
"Bu. apa kesalahan saya tadi sangat fatal sehingga hukuman yang saya terima selama saya KKN di sini?"
"Saya hanya menerapkan ketegasan, silahkan simpan tasnya dulu dan ganti pakaianmu!"
"Baik Bu,saya permisi."
Dengan perasaan puas dan panas, juga hati yang ikut sakit suster kepala Miranti mengirim semua percakapannya dengan Retno pada dr Prabu, karena sudah sekalian hukuman itu sudah di jatuhkan dirinya selama 3 bulan kedepan semoga itu semua tadi menjadi tugasnya melibatkan diri dalam urusan pribadi dr Prabu dan tidak menuntut kembali suster kepala Miranti untuk menghukum Retno setiap hari.
"Sabar Mbak semua hanya cobaan." Ismi berusaha menenangkan sahabat nya.
"Yang aku tidak tahu apa salah aku?"
"Aku juga tidak tahu Mbak Retno, mungkin kesalahan Mbak retno cantik sendiri."
"Ismi Ella!" Retno tak terima.
"Iya mbak habis apalagi kita sama sama kuliah ,bedanya Mbak Retno kuliah sambil kerja, KKN sama jadi kami tak menemukan indikasi apapun selain sentimen pribadi macan betina suster kepala Miranti itu kalah saing urusan pribadinya."
"Apa aku akan mampu menyelesaikan KKN ini Ismi Ella?"
"Harus! kenapa kita kalah dengan seorang yang menghukum? ini cuma tiga bulan Mbak, ayo kita semangat singkirkan semua rintangan habis gelap terbitlah terang."
"Haaaaaaaa..." Ella ikut tertawa.
Mau tidak mau Retno tersenyum dan mengusap airmatanya.
"Sudahlah kita siap siap."
Di pintu nongol lagi suster kepala Miranti dan memandang semua yang ada di ruangan itu semua pada diam dan pura pura sibuk.
"Suster Retno malam ini ikut suster dinas mendampingi dr Imam SpOG lagi ya, sepertinya suster Retno mulai tebar pesona di sini." masih dengan nada sinis.
"Deg!" kata-kata suster kepala Miranti begitu jelas menohok sanubari Retno, tapi Retno tak ambil pusing dengan penuh kesiapan Retno memperlihatkan semangatnya, walau suster kepala Miranti tak bisa memungkiri dan melihat Retno matanya sembab habis menangis.
"Ya Bu. saya siap!" dengan senyum yang di paksakan Retno berusaha biasa di depan suster kepala Miranti, dan suster kepala Miranti ngeloyor lagi pergi.
"Huh sangat jelas ini sentimen pribadi berebut perhatian dan cari muka, dasar macan betina!"
"Ssssst...sudah sudah jangan malah kita tambah dosa telah menilai orang negatif, biarkan saja kita lihat apa maunya yang penting apa yang dia tuduhkan pada kita itu tidak benar."
"Mbak Retno heran kok masih bisa sabar sih?" Ella malah dirinya yang jadi panas.
"Habis mau apa dan gimana lagi? ribut? protes? sudahlah Ella kita memang harus sabar."
Semua pada diam memang usia lebih tua lebih bijaksana dalam berfikir dan tindakan apa susahnya sabar dan mengikuti kalau memang itu yang akan menjadi pemenangnya, tak ada yang bisa mengalahkan emosi dan kemarahan juga cemburu seseorang selain dengan diam dan sabar.
__ADS_1
"Suster Retno ya? heeeee..." dr Imam SpOG tersenyum mempersilahkan.
"Ya dok." Retno kelihatan agak kikuk.
"Sudah tensi darah dan timbang badan semua pasiennya?"
"Sudah dok."
"Bagus silahkan di mulai, suster Retno di sini saja dengan saya dengan gel dan tissue biar suster dinas yang memanggil pasien."
"Siap dok"
"Suster Erna sudah kenalan belum sama suster Retno?" dr Imam SpOG bertanya pada suster dinas yang selalu mendampinginya praktek di sela sela menunggu pasien berikutnya.
"Sudah dok heee..."
Retno juga tersenyum dan mengangguk.
"Suster Retno orang Pekalongan lho nanti kalau kita belanja batik minta referensi suster Retno ya biar kita dapat discount."
"Boleh banget dok malah ada beberapa galeri milik orangtua saya yang ada di sentra batik Pekalongan juga bengkel keluarga masih jalan sampai sekarang."
"Wow juragan dan saudagar batik juga rupanya ya?"
"Usaha keluarga turun temurun dok."
"Kenapa suster Retno maaf malah keluar dari turun-temurun itu misal kuliah di ekonomi untuk meneruskan usaha keluarga malah memilih jalur kesehatan?"
"Terlalu panjang ceritanya dok."
"Ok mungkin suatu saat saya bisa menjadi pendengar setia suster Retno heee..."
Retno tertawa dan menunduk saat dr Dalam man SpOG menatapnya.
"Deal mulai sekarang kita jadi sahabat!"
Retno terpesona dan merasa tersanjung dengan begitu supel nya dr Imam SpOG ini, dan semakin kikuk saja saat dr Imam SpOG mengajaknya bersalaman hangat, dengan ragu Retno juga mengulurkan tangannya.
"Bukan promosi ya tapi ini janji saya jika suatu saat suster Retno periksa kehamilan dan konsultasi seputar pregnant saya gratiskan deh heeeeeee..."
"Terimakasih dok heee..." Retno menjadi merah kedua pipinya.
"Ehemght..." suster Erna batuk batuk kecil, ada janji juga buat saya dok heeeee...?"
"Jelas dong yang tiga bulan KKN aja bisa apalagi yang tiap hari? haaaaaaaa" bertiga mereka tertawa.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝