Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Wangi bunga pelaminan


__ADS_3

"Tak adakah sedikit maaf untukku Retno? sesungguhnya aku ingin mencari jalan keluar dari permasalahan ini bersamamu."


"Apa kata Mas? seperti menginginkan sumbangan pemikiran jalan keluar dariku, apa tak salah? dengan mengingat kejadian itu dengan melihat video dan foto itu dengan kejujuran Mas itu telah meruntuhkan semua perasaanku jangankan untuk mencari solusi permasalahan Mas aku tidak akan sanggup ya silahkan selesaikan masalah itu sendiri dan biarkan aku keluar dari rumah ini."


"Oke, setidaknya kalau kamu tidak memberikan jalan keluar buat masalahku, tapi kamu tinggal di sini jangan keluar dari rumah ini, aku akan cari jalan keluarnya."


"Tidak Mas! Aku tidak mau lagi mendengar, melihat apa yang bukan menjadi urusanku, Aku ingin berpisah denganmu."


"Retno! di mana perasaanmu? tolong sedikit saja mengerti, Alya menghilang dalam keadaan hamil makanya orangtuanya menelephon aku."


"Stop! aku tak ingin dengar nama ja**ng itu diucapkan dihadapan ku, aku sudah terluka dengan kejadian dan pengakuan mu Mas, jangan memelas di hadapanku dokter! silahkan cari dan pikirkan semuanya sendiri jangan libatkan aku, aku akan pergi ke Bandung mau menyelesaikan skripsi ku dan pulang ke keluargaku itu yang terbaik buat hidupku."


"Retno! Retno...tak cukupkah kejujuran ku untuk bisa menahan diri mu disini?"


"Menikahlah dengan ulat bulu itu, aku tunggu keputusanmu akhir dari rumahtangga kita, jangan datang padaku dengan masalah."


"Retno! aku tak akan memutuskan apapun dengan rumahtangga kita."


"Baiklah, selalu ada pilihan dalam hidup ini, dengan dasar perselingkuhan begitu mudah aku menjatuhkan dirimu dokter di pengadilan agama! tapi aku pengen melihat se-bijaksana apa kamu dokter Prabu Seto Wardhana memutuskan masalahmu sendiri."


"Jangan bicara seperti itu Retno, Jangan sekali-kali katakan itu, Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Coba tenangkan dulu pikiranmu, kita lihat permasalahan ini dari sisi seandainya aku tidak bersalah."


"Bersalah ataupun tidak Mas, itu sudah mutlak menjadi kesalahanmu juga."


"Kasih aku pendapatmu Retno apa yang harus aku lakukan?"


"Aku tidak tahu harus berpendapat apa, kesalahanmu terlalu banyak, sulit untuk Aku maafkan. Biarkan aku pergi dan tinggal di Bandung, aku akan menjadi penonton yang baik buat penyelesaian masalahmu Mas."


"Aku tak mengizinkanmu Retno, satu keputusanku yang tak bisa di tawar lagi!"


"Apa Mas masih kurang menyiksa aku? dengan menjejalkan masalah dihadapan ku? mengizinkan dan melihat juga menyaksikan suamiku harus menikah dengan ja**ng itu? maaf Mas, aku nggak akan setegar itu."


"Retno tak kamu rasakan betapa besar rasa cintaku padamu?"


"Jangan katakan cinta, semua sudah hancur berantakan, semua sudah tak berhaluan lagi, hilang nakhoda yang begitu aku banggakan tak ada lagi tempat ku bersandar, semua musnah oleh nafsu sesaat yang tanpa perhitungan."


"Retno mau kemana kamu pergi?


"Mas jangan menangis, jika ingin melihatku bahagia izinkan aku pergi, tanpa membawa apapun dari sini selain kenangannya."


Sekali lagi dr Prabu merendahkan dirinya dengan serendah-rendahnya dihadapan Retno, memegang kaki Retno dan menciumnya, dengan air mata lupa kalau dirinya seorang laki-laki, tapi Retno tetap pada keputusannya ingin keluar dari rumah ini."


"Retno, ini sudah hampir sore menjelang malam, kalau bisa tangguhkan kepergian mu sampai besok biar aku yang antar kamu ke mana kamu mau."

__ADS_1


"Aku akan pergi sekarang, aku biasa mandiri dalam hal apapun, buka kuncinya!"


Dr Prabu mengambil anak kunci dari dalam saku celananya, menyimpannya di atas tempat tidur. Retno meraih tasnya membuka pintu keluar kamar dan menuruni tangga.


Retno pergi ke dapur mencari Pak Min untuk bisa mengantarkan ke depan, mendapatkan Bi Iyah yang lagi menangis mungkin mereka mendengar pertengkaran. Apalagi saat Mas Prabu berteriak-teriak dan menendang pintu pasti semua kedengaran.


Tak ada kata dari Bi Iyah dan Retno yang terucap. Hanya Bi Iyah tak mengerti semuanya.


"Pak Min kemana Bi?"


"Dia lagi mengantar sesuatu ke tempatnya tukang tenda, tadi nggak kebawa semuanya, Bu dokter mau apa sama Pak Min?"


"Aku mau diantar ke depan tapi kalau nggak ada biarin, saya akan jalan kaki saja sampai mendapatkan tumpangan di jalan nanti."


Dr Prabu ikut turun dan menghalangi Retno keluar rumah, Retno berdiri didepan pintu di hadapan suaminya.


"Retno, biar aku antar kemanapun kamu pergi."


"Nggak usah, terimakasih! aku bisa sendiri."


"Retno, jangan bikin habis kesabaran ku dan amarah menguasai ku!"


"Aku masih ingin hidup Mas! aku nggak mau diantar kamu dengan emosi seperti itu membawa mobil dalam keadaan marah mau bunuh diri apa?"


"Mau jauh mau dekat itu urusanku, aku sudah memesan taksi online tinggal menunggunya, aku mau ke Bandung."


"Astaghfirullahaladzim Retno, tak bisakah besok?"


"Besok sama hari ini sama saja. Selesaikan masalah Mas sendiri, Mas tahu aku akan ada di mana sampai skripsi ku selesai dan di nyatakan lulus aku akan pulang pada orangtuaku dan memulai hidup baru."


"Retno, tak bisakah kamu aku antar? anggap aku sebagai apa saja kalau sudah tak menganggap aku suamimu."


"Maaf, sayang aku tak bisa luluh dengan permohonan mu Mas."


"Ya sudah, itu pilihanmu hati-hati di jalan semoga cepat sampai tujuan. Masih bisakah aku tahu khabar kamu walau lewat telephon?"


"Kita lihat saja nanti, jika aku tidak membuat telepon itu menjadi bubuk dan hancur."


Retno melangkah pasti dengan titik airmata yang tak tertahankan jatuh satu-persatu di pipinya, tak sanggup lagi melihat dan sekedar melirik wajah suaminya yang sama begitu sesak nafas dan kelu lidahnya.


Terasa melayang tak berpijak perasaan dr Prabu menyaksikan Retno istrinya pergi dengan luka yang tak berdarah.


Langkah anggunnya tak kuasa untuk di tatap dr Prabu, Retno tak perduli kan apapun wangi bunga dari pelaminan masih tercium wanginya menumpuk di sisi dinding pagar rumah.

__ADS_1


Satu mobil berhenti di depan pagar, Retno mencocokkan nomor kendaraannya dan di nyatakan sesuai, lalu naik tanpa melirik lagi segala yang ada di belakangnya.


Hatinya hancur remuk tak terperi, selamat tinggal suamiku akan aku coba melupakan semuanya.


"Jauh ke Bandung Bu?" sopir bertanya pada Retno.


"Oh, iya Mas memburu waktu, besok ada urusan kampus khabarnya mendadak banget."


"Oh, masih kuliah apa sudah jadi dosen?"


"Saya masih kuliah, tapi akhir masa-masa kuliah, saya sudah berumah tangga jadi repot semuanya."


"Ibu hebat, sudah menikah masih bisa kuliah pasti suaminya hebat juga."


"Malah saya bekerja juga Mas, tapi sudah mengundurkan diri karena nggak ke pegang."


"Sayang Bu, kenapa kerjanya keluar, bukankah kuliah itu untuk dapat bisa bekerja?"


"Nggak juga Mas, kuliah itu mencari ilmu, memperkaya diri dengan ilmu dan memupuk diri kita dengan kepercayaan diri dengan ilmu itu, masalah bekerja bisa di ciptakan dengan ilmu itu."


"Sepertinya Ibu orang pintar, sampai saya nggak bisa mengerti dan memahami yang Ibu katakan."


"Heeee... Mas bisa aja, nggak usah di fahami terlalu dalam cukup di ingat aja kalau kuliah itu bukan menentukan kita harus kerja, itu aja."


"Haaaaaaaa... saya malah jadi tambah nggak ngerti."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya πŸ€¦πŸ˜†πŸ’πŸ™


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπŸ‘©β€β€οΈβ€πŸ’‹β€πŸ‘¨πŸ™

__ADS_1



__ADS_2