Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Hamil


__ADS_3

Retno memandang sekeliling rumah makan itu masih banyak orang yang lalu lalang masuk dan keluar selesai makan. Retno berniat mencari suaminya karena dicari di kantornya tidak ada kata suster kepala Miranti mungkin Pak direktur lagi makan di seberang sana. Sebenarnya suster kepala Miranti mau menolong dan menawarkan diri mencarikan dr Prabu tapi Retno mau mencarinya sendiri.


Intan ketinggalan ponsel di rumahnya takut keburu berangkat ke Bandung akhirnya Retno datang juga ke rumah sakit dengan naik taksi.


Retno tahu Intan sedang bermasalah banyak pikiran dan tidak fokus pantas saja ponselnya yang lagi di charger ketinggalan.


Retno mengenali seseorang yang duduk di pojokan dan tersenyum, dalam hatinya berkata, mungkin kalau datang ke mejanya diam-diam akan jadi surprise yang sangat menyenangkan suaminya, walau mungkin kekhawatiran akan diperlihatkan suaminya nanti.


Retno berjalan perlahan tetap dari arah belakang, Retno tahu itu suaminya, mengenali semua properti yang dikenakan dr Prabu tadi pagi stelan jas biru dongker dan dasi biru muda dengan motif garis-garis.


Dua langkah lagi sampai di meja dr Prabu, Retno menghentikan langkahnya di hadapan suaminya duduk dengan tersenyum sosok yang masih belum lupa kalau itu adalah Alya, sedang sibuk ngobrol entah topik apa di hadapan suaminya.


Darah Retno berdesir, otaknya masih bisa berpikir ada apa mereka? kenapa masih saja bertemu? bukankah semua telah usai?


Alya memandang Retno dari atas hingga bawah dan menghentikan bicaranya, sama tertegun seperti Retno. Alya tahu itu Istri dr Prabu.

__ADS_1


Dr Prabu melirik dan terkejut melihat Retno ada kira-kira dua langkah di belakangnya, reflek berdiri dan menyapanya. Tapi Retno telah membalikkan badannya berjalan tak melihat lagi ke arah dimana Suaminya dan Alya berada.


"Sayang! ada apa?" dr Prabu mengejar Retno yang berjalan dengan tergesa.


Alya termangu di mejanya menatap punggung dr Prabu yang berlari kecil mengejar istrinya. Ada rasa bahagia tapi ada rasa bersalah juga entah yang mana yang membuat Alya senang.


"Sayang! ada apa kamu sampai ke sini? kenapa tidak telephon Aku biar Aku jemput kalau mau jalan-jalan ke sini?" dr Prabu menghentikan jalan Retno berdiri di depannya menghadang jalan yang akan di lalui Retno.


Retno tak bicara sedikitpun hanya membuka tas selempangnya dan mengambil ponsel Intan lalu memberikannya pada dr Prabu. Retno menyebrang sendirian, dr Prabu menyusulnya menarik tangan Retno ke arah kantornya dr Prabu sedikit berlari meraih tangan Retno.


"Sayang, ke kantorku saja dulu mungkin Intan juga ada di sana sama dr Imam, mau marah mau apapun nanti di sana, tolong jangan menolak biar nanti pulangnya bareng Aku, ayolah!" ucap dr Prabu begitu lembut dengan sorot mata bersalah di hadapan Retno.


Sejenak Retno berdiri dengan muka masih ditekuk lipat sembilan, dr Prabu menariknya perlahan dan merengkuhnya mengajaknya berjalan kembali ke arah rumah sakit dan tak melepaskan tangan Retno sepanjang jalan di lorong koridor rumah sakit sampai menuju ke kantornya.


Retno duduk di sofa, dr Prabu tak k sabar ingin memberi minum pada istrinya yang masih saja belum bicara.

__ADS_1


Perasaan bersalah dr Prabu tak bisa di sembunyikan, dan mengutuk dirinya sendiri kenapa harus bertemu Alya dan Retno juga harus melihatnya.


Retno masih saja diam dan dr Prabu mengambilkan air minum mineral dari dispenser yang ada di sisi sebelah kiri sofa.


.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2