
"Mas bangun yuk sudah subuh Kita ke Tasikmalaya lagi pagi ini?" Retno membuka pelukan tangan dr Prabu yang masih saja melingkar ke tubuhnya dan badannya nemplok di punggung Retno, tangannya mengusap usap perut Retno yang lagi menikmati kontraksi.
"Aku malas Sayang enakan kita pelukan di sini dingin banget maunya bercinta tapi mandinya dingin," sahut dr Prabu kedengaran malas.
"Aku masakin air hangat ya Mas."
"Boleh, tapi ada syaratnya!"
"Pake syarat segala, apa maksudnya?"
"Ini kamarku, kamar masa kecilku boleh Aku bernostalgia di balik pintu itu?"
"Ngapain di balik pintu di sini saja!"
"Betul Sayang ngapain ya kita di balik pintu walau dulu itu saat yang kita tunggu kalau habis bertemu sebelum berpisah pasti ada momen di balik pintu." Dr Prabu jadi bangun dan langsung ngobrol sedikit bercerita.-
Retno tertawa sambil mengusap wajah suaminya, terlalu banyak kenangan manis dari cinta kasih mereka, dan terlalu panjang untuk di kenang.
"Mas, Aku malu sama Ibu juga keluarga di sini masa kita masih saja sempat beginian padahal begitu sempit waktu dan keberadaan Kita di sini."
"Mereka juga sibuk dengan urusannya masing-masing Sayang apalagi orangtuaku yang mau mulung mantu mana sempat mikirin Kita mandi basah atau kering mereka tak akan perduli. Kamu kok perasa banget biasa saja ini juga sama rumah Kita buktinya Kamu nggak mau Aku tinggal di sini karena apa?" tanya dr Prabu sambil membantu Retno bangun dan duduk di tempat tidur
"Aku nggak bisa dan biasa kalau mau tidur malam nggak ada Mas Prabu bisa nggak tidur semalaman," jawab Retno jujur.
"Iya Sayang, Aku juga nggak bisa tidur kalau nggak membelai dulu Kamu, menatap dan mencium Kamu, lalu mengusap-usap sampai Kamu tidur pulas."
"Aku takut Mas kalau Anak ini nanti lahir perhatian Mas jadi berubah sungguh aku nggak rela."
"Hahaha... Retno, Retno! masa sama Anak sendiri aja cemburu apalagi sama orang lain? beda lah porsinya walau dua-duanya tetap belahan hatiku. Aku nggak bisa hidup tanpa Kamu Sayang dan Anak ini bukti cinta Kita."
__ADS_1
Dr Prabu mendekap Retno dengan penuh sayang, kesempurnaan cinta kini telah mereka miliki dan sebentar lagi akan sibuk dengan tangisan buah cinta mereka.
Retno merasakan pagi itu begitu berarti, serasa kembali ke masa mahasiswa dulu saat Prabu muda menarik tangan Retno ke balik pintu lalu memeluk dan menciumnya dengan penuh perasaan dan gairah yang memuncak dan tiada satu pun yang lebih berharga selain di cintai dan mencintai bahagianya mereka merasakan cinta yang sesungguhnya. Kini semua itu kembali tapi semua sudah berubah, kini sudah jadi suami istri yang bebas melakukan apapun di kamar itu bukan saja di balik pintu.
Retno pasrah dalam kungkungan lembut penyatuan suaminya, masih di langit-langit kamar yang sama mereka mengukir pembaharuan perubahan kenangan mereka dengan ******* nikmat Retno dan keringat gagahnya dr Prabu yang memompa dengan semangat menuju puncak, keringat dari tiap pori-porinya di pagi yang dingin bukti perayaan cinta kasih sepasang suami istri dalam kehangatan berdua.
Sampai keduanya selesai tepar dalam bahagia dan membahagiakan pasangan.
"Maaf Sayang nggak apa-apa kan? Aku terlalu semangat soalnya," ucap dr Prabu sambil bangun dan mencium kembali bibir Retno yang masih tidur menyamping belum berpakaian.
"Aku senang kalau Mas menikmatinya, biasanya juga kalau pulang dari kondangan Mas selalu langsung dengan alasan takut keduluan pengantin, apa ini juga takut keduluan Intan sama dr Imam?"
"Mereka masih berkhayal Sayang Kita sudah puas, dan sudah ada Sayang satu lagi di dalam sini!" ucap dr Prabu sambil mencium dan mengusap perut buncit Retno yang belum berpakaian hanya ditutupi selimut.
"Mas nanti habis lahiran Aku jadi pulang ya ke Pekalongan jemput kalau sudah 40 hari Aku ingin Kita bernostalgia di balik pintu kamarku di sana!"
"Hahaha...baik Sayang, dengan senang hati tapi kabari Aku kalau baru 20 hari sudah bersih langsung Aku jemput ya?"
Tok
tok tok....
"Kak Prabu Mbak Retno kata Ibu bangun siang, Ibu sudah hangatkan air buat mandi!"
"Iya Rahma, sudah bangun kok tapi malas aja!"
"Bangun ya, biar Ibu nggak suruh lagi suruh lagi!" ucapan Rahma membuat Retno sama dr Prabu tersenyum sambil tetap saling berpelukan, lalu bangun dengan malas dan Retno mencari pakaiannya yang entah ke mana.
Rahma Adik bungsu dr Prabu yang beranjak ABG
__ADS_1
Kini duduk di kelas 2 SMA.
Retno keluar duluan cuaca memnag dingin dan memang Ibu mertuanya sudah berbaik hati menghangatkan air dan menaruhnya di bak kamar mandi dengan leluasa Retno bisa mandi dengan nikmatnya melepas dan merelaksasi ketegangan di setiap pagi.
Dr Prabu sama Retno sudah ditunggu di ruang makan saat mereka selesai berdandan kelihatan sudah ada keluarga besarnya juga, duduk dr Imam juga Intan di situ. Rupanya semua serba di per-singkat karena permintaan dr Imam. Sambil sarapan di capai kesepakatan tiga hari ke depan cukup untuk persiapan Akad dan di langsungkan resepsi dengan mengundang keluarga juga rekan kerja dari pihak dr Imam juga Intan.
Semua menarik nafas lega dan longgar, dr Prabu bagian mempersiapkan data undangan dan resepsi di rumah baru dr Imam mungkin hanya m ngontrol saja karena ada bagian yang menanganinya.
"Nak Retno benar mau ikut lagi ke Tasikmalaya? cuma tiga hari kok nanti Nak Prabu balik lagi ke sini gimana?"
"Aku ikut saja Bu nggak apa-apa sehat kok Insyaallah."
"Kami takut kehilangan lagi satu sama lain walau satu malam juga Bu, biarlah yang penting Retno sehat Aku selalu menjaganya, malah kalau di sini Aku yang tak tenang juga nantinya."
"Ya sudah kalau itu pilihan kalian hati-hati saja dalam perjalanan."
"Iya Bu, Maaf Intan Mbak pulang dulu paling nanti bantu Mas Prabu merekap undangan dan orang yang akan diundang."
"Iya Mbak, nggak apa apa terimakasih ya."
Selesai semua akhirnya bertiga pulang dengan hati senang orang tua yang tadinya mungkin akan menjadi hambatan mereka tidak mempersulit keadaan ternyata orang tua dr Prabu juga sepakat dengan pendapatnya kalau sudah sama-sama dewasa nunggu apa lagi? sampai kapan harus menunggu restu dari orang tua dr Imam dan semua tidak dicapai itu tidak akan menjadi masalah bagi keluarganya. Pada akhirnya mereka juga pasti akan melunak dengan sendirinya karena siapa orang tua yang tidak ingin melihat Anaknya bahagia mungkin saja yang harus ditanamkan adalah bersikap lebih dewasa dan berusaha menjadikan rumah tangga itu rumah tangga yang bahagia.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️