Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Aku berhak semua atas istriku


__ADS_3

"Duduk!" ucap Pak Sofyan Wijaya pada Alya dan Ibu Sofyan Wijaya yang duduk di sampingnya malam itu hanya bisa memberi kode pada putri tercintanya dengan anggukan kepala.


Alya duduk di samping suaminya Rendra yang hanya diam saja.


"Kamu itu maunya apa? sudah bersuami begitu baiknya masih saja bertingkah dan berkelakuan seperti itu! ada apa dengan mu Alya? coba Bapak sama Ibu ingin mendengar yang sebenarnya apa yang Kamu inginkan dari pernikahan ini? Sungguh tak masuk akal apa yang Kamu lakukan selama ini!" Pak Sofyan Wijaya kelihatan benar-benar marah dengan membanting koran ke meja di hadapannya.


Alya diam seribu bahasa, agak gemetar juga melihat kemarahan Bapaknya kali ini. Alya tadinya merasa berhak mengatur Dirinya sendiri. Apapun yang dilakukannya menurut kata hati dan tuntutan emosinya saja tak perduli perasaan suami orangtua dan yang lainnya.


"Bapak takkan mengizinkan kalian berpisah dengan alasan apapun! Dan bapak tanya apa tujuan Kamu menggunakan alat kontrasepsi tanpa seizin suamimu?" semprot Pak Harry Darmawan sambil menunjuk Alya.


"Tapi Pak..."


"Tak ada tapi tapian! semua jelas karena keinginan yang tidak masuk akal yang Kamu lakukan selama ini, apa yang kamu harapkan dengan orang yang sudah menikah? merusak rumah tangganya? dan mengabaikan suami juga rumah tangga Kamu sendiri? coba pikir Alya semua itu malah akan membuat Kamu semakin terpuruk dengan angan dan khayalan yang tak akan terjangkau!"


"Pak ini hidup Alya merasa baik dan buruk dan Alya rasa nyaman ataupun tidak Alya yang merasakan!"


"Tapi semua harus masuk akal dan tidak merusak rumahtangga orang lain, pokoknya Bapak tidak setuju kalian berpisah dan Bapak batalkan pendirian Yayasan itu mulai sekarang tidak ada alasan lagi! kalau memang sudah tidak mendengar apa yang diucapkan silakan Kamu mencari kehidupan sendiri tanpa membawa sedikitpun aset yang Bapak berikan kepadamu silakan mencari kehidupan sendiri kalau mampu tidak bergantung kepada orang tua kalau memang Kamu sudah tidak menganggap orang tuamu adalah dan orang tua yang harus dihargai dan harus didengar!" murka sudah Pak Sofyan Wijaya. Sebagai petinggi dan orang no 1 di wilayahnya merasa gagal mendidik dan mengarahkan putrinya sendiri.


Semua diam termasuk Alya tak berani sedikitpun menatap orangtuanya.


"Rendra! mulai sekarang Aku serahkan Alya padamu Kamu sebagi suaminya bimbing dan beri pengertian, Bapak sudah tidak mau lagi mendengar hal hal jelek yang memalukan!"


"Pak, mungkin kata berpisah itu hanya ucapan Alya saat emosi jangan dulu dianggap serius, Aku masih mengharapkan kebaikan dari tiap maslah yang ada dan Aku selalu memaafkan semua kesalahan Alya dan tidak mempermasalahkan masa lalunya seperti apapun itu. Aku tidak peduli yang Aku harapkan niat baik kedepannya bersama-sama kembali membangun rumah tangga dengan didasari saling cinta," ucap Rendra masih dengan ucapan santunnya.


"Alya! dengar apa kata suamimu, apa kurangnya? kenapa masih saja terobsesi masa lalu yang telah membuat Kamu salah langkah? Tak melihat orangtuamu sudah tua ingin melihat rumah tanggamu baik baik saja, ingin segera menimang cucu tapi kenapa Kamu malah bersikap dan melakukan semua itu di luar dugaan?"


Alya Masih saja diam, merasa dirinya memang salah besar, merasa belum siap hamil dan masih mengingat kehamilan pertamanya yang gagal.


"Anggap pembicaraan malam ini tidak ada sudah kalian masuk kamar, tutup cerita sampai di sini!"


Alya beranjak duluan di susul Rendra setelah pamitan pada Bapak dan Ibu Sofyan Wijaya yang masih duduk di ruang keluarga.


Alya tidur duluan dengan menutupi semua badannya dengan selimut. Rendra menatapnya dalam diam.

__ADS_1


Masih teringat kata-kata Alya sore tadi kalau dirinya mengutarakan tidak bahagia dengan pernikahannya dan ingin berpisah. Asalnya Rendra tidak menanggapinya karena sudah ke tiga kalinya Alya utarakan keinginannya sore itu akhirnya terjadilah cekcok paham merembet pada hal lainnya sampai kedengaran sama orang tua mereka mau tidak mau Rendra membawa permasalahan ini kepada mertuanya karena dirinya tak ada sedikitpun niat dan merasa semuanya tidak ada masalah walaupun sebelumnya Rendra melihat foto-foto masa lalu Alya dengan dr Prabu tanpa sengaja di dalam satu kantong plastik saat Rendra mencari sesuatu alat yang dibutuhkannya.


Rendra merasa emosi saat tahu Alya menggunakan kontrasepsi selama mereka menikah pantas tak hamil hamil, tapi setelah di desak akhirnya Alya mengaku sudah membukanya karena merasa ada keluhan sedikit pendarahan di malam kemarin.


Rendra harus bisa merubah Alya istrinya bagaimanapun caranya dan menjadikan satu kesadaran kalau kenyataan yang dihadapi sekarang adalah rumah tangganya bukan masa lalunya yang tetap diingat-ingat karena semua orang juga punya masa lalu mau baik ataupun buruk tetap semua tidak bisa dirubah.


Alya kini istrinya Rendra merasa telah begitu banyak memberikan kebebasan selagi kegiatan itu positif dan akhir-akhir ini Alya sibuk dengan Yayasan yang akan didirikan orang tuanya tapi ternyata di balik semua itu Alya menyimpan ambisi lain untuk menjalin relasi dengan orang-orang yang masih memiliki keterkaitan dengan masa lalunya.


Jelas Pak Sofyan Wijaya marah apalagi saat mendengar laporan Rendra kalau Alya menginginkan perpisahan dan selama ini Alya ternyata menggunakan kontrasepsi selama pernikahannya jelas tidak hamil tapi entah apa tujuannya Rendra tidak tahu.


Mungkin dalam imajinasinya Alya masih mengharapkan dr Prabu yang dicintainya dan keturunan yang akan lahir dari rahimnya menginginkan gen dari dr Prabu walaupun dirasa semua itu tidak mungkin terjadi lagi sekarang.


Satu lagi kecerobohan Alya yang membuat Rendra marah dan mengadukannya pada orangtuanya adalah penggunaan kontrasepsi tanpa izinnya, kenapa Alya tak mau berhubungan suami istri beberapa malam ini karena habis membuka kontrasepsi ada pendarahan dan puncaknya malah meminta pisah.


Rendra yang menginginkan hadirnya Anak dari pernikahan mereka sampai sekarang belum terlaksana ternyata Alya sendiri menghalanginya dan tidak menginginkan sampai Alya merasa dirinya yakin dengan pernikahannya tetapi setelah dijalani alias semakin merasa tidak bahagia karena khayalan dan pikirannya selalu berpaling ke masa lalu yang sebenarnya begitu sulit untuk dijangkau.


"Al, Aku tahu Kamu belum tidur. Bukalah selimutmu kita bicara tapi jangan ada emosi diantara Kita karena Aku diam selama ini bukan berarti Aku tidak bisa marah, tapi karena Aku mencintaimu kalau Kamu bersikap begitu mungkin Aku juga akan marah karena Aku merasa ketulusan cintaku selama ini tak pernah Kamu hargai sedikitpun," ucap Rendra sambil perlahan membuka selimut yang menutupi Alya.


"Aku ngantuk!"


"Mas mau bicara apalagi?"


"Banyak yang harus kita selesaikan diantara Kita juga menyangkut orang lain dan dokter yang kamu cintai itu!"


"Maksud Mas apa? kenapa jadi bicara ke orang lain?" Alya membuka selimut dan menatap Rendra.


"Karana Kamu telah berusaha menghancurkan rumah tangganya mengancam istrinya yang lagi hamil dengan segala daya Kamu lakukan menyakitinya apa tidak malu Kamu punya kelakuan seperti itu? Kamu juga pasti akan hamil mau di perlakukan seperti itu saat hamil akibat perbuatan sendiri?"


"Mas sok tahu saja!"


"Aku punya bukti!"


"Bukti apa?"

__ADS_1


"Semuanya! kalau selama Kita menikah Kamu masih saja berharap pada dr Prabu dan menyimpan semua rekayasa poto itu untuk apa kalau bukan untuk memisahkan dan merusak rumahtangga mereka? itu salah Alya!"


"Ah Aku sebal!"


"Kenapa? Kamu malu di hadapan suamimu? taubatlah semua masih bisa di perbaiki dan besok kita ke dokter periksa kesehatanmu! bukankah Kamu ingin Anak? program dan konsultasi ke dokter selama ini untuk apa hanya formalitas saja? Aku seperti laki-laki tak berguna sama sekali berbagai cara Aku melakukan upaya apapun hanya untuk demi kehamilan Kamu semua tak ada artinya karena kamu menghalanginya!"


"Nggak mau!"


"Jangan membangkang Aku suamimu mulai sekarang akan tegas kalaupun harus dengan kekerasan dan cara kasar. Aku akan lakukan dan jangan sekali-kali meminta kata perpisahan ataupun cerai dariku karena semua itu bukan hak seorang perempuan meminta talaq!"


"Terserah Mas!"


"Rendra menarik selimut yang menutupi Alya dengan sekali tarik, terlihat paha yang putih dengan pakaian tidur tipis tersingkap dan dengan beringas Rendra mendekatinya mencengkram dengan kuat walau Alya meronta tapi tenaga laki-laki jelas lebih kuat.


"Berteriak ayo! biar orangtuamu tahu!"


"Mas Mau ngapain?"


"Aku suamimu mau ngapain juga punya hak penuh pada istrinya!"


"Aku nggak mau! Aku baru buka kontrasepsi karena merasa tidak nyaman!"


Tapi Rendra tak memperdulikan Istrinya yang menolak dan meronta semua bisa di kendalikan hingga semua berhasil dilucuti dan Rendra menyalurkan hasratnya dengan beringas yang akhirnya melembut juga saat Alya diam di bawah kungkungannya dan kelihatan menikmatinya.


Alya merasakan begitu kasar pemain suaminya tapi Dirinya merasakan sensasi yang berbeda seperti saat dulu pertama dirinya di jamah dengan paksa.


Lama Rendra merasakan kenikmatan dengan emosi tinggi sampai akhirnya selesai mencapai puncaknya dengan kegagahannya. Erangan panjang dan dekapan juga pelukan Alya di tubuhnya kini kelihatan tak berontak lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2