Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Jamu spesial


__ADS_3

Retno keluar kamar duluan dan diikuti Mas Prabu. Mereka di sambut Romo nya Retno yang sedang sarapan di teras sambil melihat orang-orang yang masih sibuk membereskan bekas peralatan pesta.


"Suamimu di bikinkan minum Diajeng."


"Iya, Romo."


Ibu Raden Ayu Trihapsari datang dengan membawa berbagai macam makanan kue-kue basah di beberapa piring. Lalu menyimpannya di depan suaminya serta menantunya.


"Mas, mau minum apa?" Retno memandang suaminya, sambil mengusap pundak dr Prabu.


"Apa aja sayang, tapi minta air putih hangat dulu."


Retno berjalan ke belakang di sambut Mbok Sum dengan tergopoh-gopoh takutnya Retno memerlukan bantuannya.


"Mbok sini, tolong ganti seprai di kamarku ya, langsung rendam aja kalau ada nodanya di sikat dulu sebelum masuk mesin cuci." Retno bicara sama Mbok Sum setengah berbisik.


Mbok Sum manggut sambil tersenyum.


"Mbok, mengerti kan?"


"Iya, Diajeng putri Simbok mengerti."


"Makasih ya Mbok."


"Simbok ambilkan minuman buat Diajeng sama Kang Masnya?"


"Biar aku aja Mbok, kan buat suamiku, harus aku yang ambilkan dan bikinkan."


Simbok Sum manggut.


"Eh Mbok, yang bikin jamu kemarin itu siapa? Ibu apa Simbok?"


"Simbok Diajeng... ada apa dengan jamunya?"


"Mas Prabu minta di bikinin lagi, tapi buat di bawa ke sana nanti bisa kan kalau di masukan botol gitu? terus buat beberapa hari."


"Bisa Diajeng, itu jamu akan awet kalau di simpan di kulkas."


"Iya, tapi Simbok jangan bilang siapa-siapa aku malu."


"Iya, Simbok mengerti."


"Simbok mengerti apa?"


"Anu, anu Diajeng, mengerti cara bikinnya."


"Ya sudah, syukur kalau bibi mengerti cara bikinnya, pasti tahu juga kegunaan dan khasiatnya."


"He he he... iya Diajeng, masa yang bikin nggak tahu manfaatnya."


Retno tertawa bersama Mbok Sum walaupun semuanya merasa konyol, entahlah dirinya dan Mas Prabu hanya ingin mencobanya, dan untuk memenuhi keinginan Mas Prabu yang menginginkan nya kembali walaupun di rasa jambu itu tidak enak di lidahnya.


Tapi sugesti strong telah memenuhi imajinasinya. walaupun belum teruji secara penelitian dan keilmuan ada jamu penguat stamina pengantin baru.


Retno datang dengan satu cangkir minuman dan satu teko beling air putih, meletakkannya depan suami dan Romo juga Ibunya.


Retno menuangkan air putih ke gelas tinggi dan menyodorkannya kepada suaminya. Lalu duduk berdampingan dengan dr Prabu.


"Jadi jam berapa kita bertolak ke Tasikmalaya?" Romo bertanya pada dr Prabu dan putrinya sambil memandang bergantian.


"Sekitar Jam 14 aja Romo biar kita bisa leluasa istirahat dulu sampai sana, acaranya besok." Dr Prabu menjawab dengan pasti, soalnya dirinya bisa tidur dulu istirahat beberapa jam, atau bisa berduaan dulu bersama istrinya.


"Ya seperti keluargamu kemarin Nak Prabu, habis akad nikah mengikuti resepsi sebentar. Habis dhuhur mereka pulang kembali, mengingat pasti repot nya kedua orangtua Nak Prabu di sana."

__ADS_1


"Ada adik saya Intan Juwita sama calonnya dr Imam SpOG yang di daulat jadi panitia di sana nanti."


"Oh, begitu ya, syukurlah kalau ada yang bisa di andalkan."


"Iya Romo, Alhamdulilah."


"Ajak suamimu jalan-jalan Diajeng, ke pabrik batik atau ke galeri sana biar dia tahu usaha Romo mu."


"Sepertinya nggak ada waktu Romo, mungkin lain kali saja, kita harus istirahat, besok seharian kita di pelaminan lagi."


"Iya sepertinya begitu Romo."


"Ya, ya ya Romo mengerti. Tapi ingin suatu saat Romo kenalkan usaha ini pada kalian."


"Sebenarnya saya ingin melihat lebih dekat, tentang usaha yang dijalani Romo, karena terus terang aku tidak mengenal dunia usaha, aku hanya mengenal dunia bekerja dan sekarang mungkin dunia kepemimpinan."


"Mungkin lain kali kalian pulang liburan ke sini bisa melihat-lihat. Sebenarnya Romo merasa kasihan terhadap adikmu Diajeng, Dimas sekarang total memegang kendali usaha, sudah hampir seratus persen usaha dipegang Dimas, karena Romo sudah mengurangi keterlibatan dalam usaha ini. Walau tetap dalam pantauan penuh Romo."


Semua tampak menyimak ucapan Romo.


"Hal pertama karena untuk menanamkan kemandirian terhadap anak Romo sebagai generasi selanjutnya, dua karena Romo sudah tua dan faktor kesehatan. Seharusnya Diajeng yang tampil lebih pintar yang Romo pandang bisa lebih memajukan usaha yang di rintis dari generasi ke generasi ini."


"Maafkan Ajeng Romo, bukannya tidak mencintai semua usaha yang dirintis Romo, tetapi panggilan hati yang ingin Ajeng realisasikan dulu."


"Nggak apa, Romo menyadari dan menghargai keputusanmu, siapa tahu dari keturunanmu ada yang mau turun menggeluti dunia usaha."


"Romo, sekarang Ajeng pindah kerja ke tempat rumah sakit yang Mas Prabu pimpin, cuma masih harus menyelesaikan skripsi akhir, jadi Ajeng sekali lagi minta maaf keburu menikah belum bisa mempersembahkan gelar hasil kuliah Ajeng."


"Nggak apa-apa, menuntut ilmu tak ada batasnya sampai kapanpun, tapi seandainya Diajeng wisuda Romo akan datang ke Bandung semoga Romo sehat dan bisa segera menimbang cucu pertama dari kalian."


Dr Prabu, Retno tertawa juga Ibunya Retno juga.


"Aamiin Romo."


Dr Prabu melirik Retno sambil mengusap kepalanya dengan sayang.


"Iya, Ibu ini juga cukup."


"Mas ayo kita ke meja makan barangkali ada yang Mas mau di meja makan."


"Silahkan, monggo apa saja yang kalian suka, jangan seperti Romo sarapan cuma wedang jahe, malam juga wedang sama mendoan tempe atau sepotong kue cukup." Ibunya Retno menawarkan pada menantu barunya juga pada putrinya.


Retno menarik tangan dr Prabu perlahan, dr Prabu sama Retno pamitan dan menuju ke meja makan.


Mbok Sum langsung menghampiri Retno yang berjalan bergandengan tangan kalau-kalau ada yang bisa Mbok Sum layani.


"Mbok, tinggalkan kami berdua biarin aku yang layani suamiku makan dan sarapan, makasih ya Mbok."


"Oh, Iya Diajeng putri monggo silahkan." Simbok membungkuk dan undur diri.


"Istri yang cantik dan baik." Dr Prabu tersenyum memandang istrinya.


"Ini sarapan pertama kita setelah jadi suami istri, aku ingin menjadi istri yang baik sepanjang hidupku Mas."


"Tentu sayang, aku juga berharap menjadi suami terbaikmu."


"Mas, mau yang mana?"


"Apapun yang kamu suguhkan dan sediakan buatku akan terasa enak."


"Walau sepahit jamu?"


"Seperti itu, pahit tapi menghasilkan khasiat yang luar biasa."

__ADS_1


"Luar biasa apanya?"


"Semangatku yang luar biasa sayang."


"Pertama semua orang juga begitu mungkin Mas."


"Tapi aku menginginkan lebih."


"Iya, nanti habis resepsi di sana, habiskan masa cuti begadang tiap malam."


"Makanya aku perlu minuman tidak enak itu."


"Coba ganti jangan minuman tidak enak, kasihan Simbok yang bikinnya."


"Haaaa...oke aku ganti jadi minuman nikmat, senikmat...ka-"


"Ssssst... ayo mau apalagi sarapannya, tambah yang ini ya?" Retno memotong omongan Mas Prabu


"Nggak, udah kenyang. Kamu tuh sayang yang harus sarapan makan yang banyak."


"Aku selalu enak makan enak tidur kalau pulang ke sini, tapi sekarang kenapa nggak seperti itu ya?"


"Karena tidur kamu ada yang gangguin, dan kamu maunya makan yang lain sepertinya."


"Iya juga kali ya heee..."


"Nanti aku tidur dulu barang dua jam ya sayang, nanti aku bawa mobil pasti ngantuk kalau nggak tidur bablas."


"Iya, tadinya baru aku mau tanya Mas kemana kita hari ini? sampai waktu nya kita berangkat nanti."


"Bobo lagi!"


"Aku nggak ikut, aku mau ke galeri ya Mas."


"Nggak bisa, kata orangtua pengantin jangan pergi jauh jauh dulu."


"Apaan jauh? hanya ke alun-alun aku mau minta tolong Dimas buat antar sementara Mas Prabu tidur."


"Enggak pokoknya, kamu harus ikut sama aku."


"Ke mana?"


"Ke kamar tidur!"


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


...MENITI PELANGI...


...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...

__ADS_1


...vote dan beri hadiah ya!...



__ADS_2