Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Berniat melamar


__ADS_3

"Makanlah dulu Intan, Aku terlalu bersemangat tadi maaf malah menghilangkan selera makan Kamu," ucap dr Imam mengusap tangan Intan.


Intan meneruskan makan walau merasa tak lapar lagi begitu juga dr Imam merasa bersalah merasa dirinya yang merusak selera makan siang mereka.


"Intan Kita ngobrol sambil makan sekalian nggak apa kan?"


"Nggak apa Mas jadinya gimana?"


"Kamu siap nggak seandainya kita nikah saja dulu, mau resepsinya kapan itu nanti tergantung kesepakatan mungkin kalau sudah nikah orangtuaku akan berubah sikapnya itu yang Aku harapkan."


"Apa itu yang terbaik Mas? Aku khawatir kalau Kita nikah malah menimbulkan fitnah ada apa-apa di balik pernikahan diam-diam yang kita lakukan. Kecelakaan lah pandangan orang kan lain-lain."


"Iya sih, tapi menurutku itu jalan terbaik. Aku mencintaimu Intan tak perduli sikap orangtuaku dan pandangan orang lain, Kita yang merasakan bagiku cintamu dan kesiapan Kamu itu sudah cukup Kita melangkah bersama dengan pasti," ucap dr Imam lagi sambil menatap Intan yang galau di hadapannya.


"Aku baru lulus Mas, wisuda aja belum jangan kan berkarir dulu," jawab Intan merasa meragu dengan keputusannya seandainya mengiyakan.


"Jalan cerita orang berbeda beda dan tak harus sama Intan, orang lain masih kuliah saja banyak yang sudah menikah, berkarir sudah berumah tangga juga masih bisa kalau Kamu bisa mengatur waktunya, perempuan tidak di haruskan mencari nafkah cukup Aku sebagai kepala keluarga yang yang berkewajiban menghidupi dan bertanggung jawab atas segala kebutuhan Kamu," ucap dr Imam merasa yakin kalau berdua menghadapi semuanya akan lebih baik dan mereka menikah seizin ataupun tidak izin keluarganya itu tidak akan bermasalah bagi dirinya.


Bagi Intan itu satu kesalahan kalau menikah tanpa restu dari orang tua mungkin sama saja menerjunkan dirinya kepada lubang permasalahan dan menciptakan lebih banyak lagi masalah di antara masalah yang sudah ada.


"Apa Mas yakin semua akan baik-baik saja?"


"Intan, orangtuaku seakan memaksakan kehendak mengikuti kemauannya. Menjodohkan Aku dengan Vionna tak sedikitpun pemberitahuan dari awal tak bertanya dulu kesiapanku jadi kenapa Aku juga tidak bisa berontak dengan keinginanku sendiri? Kalau harus bersitegang dengan kedua orang tuaku untuk mempertahankan prinsip dan menentangnya setiap saat itu tidak mungkin bagiku, tetapi Aku juga merasa tidak bersalah kalau Aku juga sama punya kehendak swndiri. Aku berpikir untuk kebaikan dan masa depanku sendiri karena semua itu bukan orang tuaku yang menjalani tapi Aku sendiri yang merasakan juga yang akan menjalani." Dr Imam sedikit memukul meja. Memperlihatkan betapa ingin dirinya mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini hanya tertahan di dalam dadanya.


"Kok Mas seperti marah di depanku?"


"Ya memang Aku marah tapi pada kenyataan yang tak berpihak pada keinginanku. Hanya Kamu harapanku yang bisa meredam segalanya Intan,"

__ADS_1


"Jujur Aku merasa tak begitu bahagia dengan keinginan Mas yang mau melamar, juga mungkin keluargaku kalau tanpa izin orangtua Mas. Tapi yakinkanlah mereka dengan cara Mas sendiri yang terbaik menurut mereka mungkin akan terbaik buatku juga," ucap Intan sangat bijaksana karena Intan merasa tempat ternyaman di dalam hidupnya adalah keluarga sandaran segala macam keluh kesah dan tempat mengadu juga bermanja sebelum punya keluarga sendiri dan mandiri bersama suaminya suatu saat nanti selama ini adalah keluarga segalanya bagi Intan.


"Baik Intan, malam nanti Aku mencoba sharing dengan Kakakmu dulu sebelum datang pada orangtuamu nanti."


Intan mengangguk merasa itu jalan yang terbaik.


"Intan, Aku akan jujur padamu kali ini. Aku ini Anak tunggal orang tuaku kemungkinan jika Aku berumah tangga tidak akan mengizinkan untuk keluar rumah karena tidak ada pilihan Anak lain bagi mereka selain Aku. Tetapi dalam rumah tangga Aku sudah berpikir belum tentu istriku nyaman tinggal dengan orangtuaku. Makanya tanpa sepengetahuan mereka Aku telah memiliki satu unit rumah sendiri jauh sebelum Aku berniat serius denganmu," ujar dr Imam meyakinkan Intan.


"Oh ya? Aku senang mendengarnya Mas. Pemikiran Mas begitu jauh dan panjang tak terbersit di pikiranku malah akan hal itu," sahut Intan merasa senang dan bangga.


"Itu semua berawal dari obrolan tanpa di sengaja dengan Kakakmu yang menyarankan seperti itu dan Aku pikir memang benar seharusnya seperti itu kalaupun suatu saat kita kangen dengan orang tua kita tinggal datang atau tinggal sementara bersama mereka tetapi tidak untuk selamanya karena kita juga belum privasi rumah tangga sendiri perlu belajar membangun menata rumah tangga Kita sendiri perlu mengatur rumah tangga Kita sendiri sehingga jadi berpikir ada kemandirian diantara suami istri bukan hanya di fasilitasi sama orangtuanya," ucap dr Imam.


"Mas memang dewasa dan dalam berpikir juga sangat banyak pertimbangan, tapi Aku belum bisa menjangkau apa yang Mas pikirkan,"


"Bagaimanapun adanya dirimu Aku tetap sayang Intan, Aku tipe laki-laki yang tidak terlalu


"Apa Aku terlalu muda bagi Mas?"


"Aku juga apa tidak terlalu tua bagimu Intan?


Akhirnya mereka tertawa bersama, melupakan masalah diantara mereka. Intan membereskan bekas makanan dan mencuci tangan di wastafel sambil begitu dekat mereka berpandangan.


"Aku akan memperlihatkan rumah itu Intan, dan Kamu yang akan menjadi Nyonya di rumah itu!"


Intan hanya mengangguk tersenyum sambil melap tangannya dengan tissue.


"Mas, Aku ke ruangan suster jaga dulu gabung dengan mereka jam istirahat siang sudah usai nggak enak Kita di dalam sini berdua," ucap Intan sambil duduk kembali tapi membereskan tas selempangnya.

__ADS_1


"Iya Intan, boleh tapi pulangnya Aku tunggu ya kita melihat-lihat rumah Kita nanti sambil jalan-jalan, Sambil Aku melepas kangen yang tak habis-habisnya sama Kamu!"


"Iya Mas, Aku keluar dulu ya."


"Eh, Intan itu ada apa di bibir Kamu?"


"Apa bekas makanan ya Mas? rasanya sudah di lap tadi dengan tissue waktu habis makan juga sudah kumur-kumur," sahut Intan sambil sibuk membuka tasnya kembali mau mengambil cermin kecil tapi dr Imam menahannya.


"Biar Aku yang bersihkan Sayang."


Intan jadi diam saat dr Imam menggambil tissue dan menghampirinya.


Dengan taktiknya dr Imam bisa saja mengerjai Intan yang begitu polos tak ada sedikitpun berpikiran kalau itu semua nge-prank Dirinya.


Dr Imam memeriksa bibir Intan yang memang nggak apa-apa nggak ada sesuatu remahan makanan apapun di situ. Dr Imam mengusap bibir Intan dengan jari jempolnya dengan muka jarak inchi.


"Mas?" Intan menangkap tangan dr Imam dan sedikit mendorong merenggangkan.


Tapi tangan dr Imam malah menarik pinggang Intan menjadi tak berjarak lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2