Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kemenangan Alya


__ADS_3

"Aku menang kali ini dokter!"


Alya mengusap bibir dr Prabu dan mengecupnya berkali-kali, lalu beralih pipi dan memainkan alis juga dagu dr Prabu yang dalam keadaan telanjang sama seperti Alya sendiri, mengusap dada dan menelusuri semua tubuh dr Prabu, sepanjang senja menuju malam dan camera yang mengabadikan ruangan yang remang tapi mode malam di lensa camera menjadi jelas semuanya, perbuatan kotor Alya dan rasa cintanya membuat Alya gelap mata menghalalkan segalanya lupa kalau dirinya telah melakukan kecurangan luar biasa.


Sampai pada pukul tujuh lebih dr Prabu mulai memperlihatkan kesadarannya terasa mimpi dirinya kalau Retno telah memenangkan sebuah permainan yang sangat cantik, dengan tubuh berkeringat dan kostum olahraga yang kuyup menambah gairahnya sesaat dr Prabu terpana melihat Retno mengembangkan senyum kemenangannya teramat manis.


Dalam ruang bawah sadarnya dr Prabu mendekap Retno dengan penuh perasaan sensasi berkeringat saat dulu mereka latihan, saat dulu mereka memenangkan satu kompetisi terasa kembali memenuhi dadanya.


"Haaa...Mas Aku menang aku nggak nyangka aku memenangkan set demi set dan Retno menghambur ke pelukannya dengan senyum manjanya."


"Ya Retno sayang kamu menang kamu memang yang terbaik."


Dr Prabu mendekap Alya yang ada di sampingnya satu kata yang selalu menjadi penyemangat antara dirinya dan Retno terucap di tempat tidur itu yang seharusnya terucap di lapangan saat kemenangan Retno di laga perempat final.


"Sayang kita akan selalu memenangkan setiap tantangan dan pertarungan, yakinkan semua itu dengan kekuatan dan semangat cinta kita, kita akan menjadi yang terbaik."


"Retno sayang, aku mencintaimu."


Alya mendorong tubuh dr Prabu merasa benci dan gusar mendengar mulut dr Prabu berkicau mengucapkan kata-kata cinta dan sayang tapi bukan nama dirinya yang di ucapkan nya, tapi satu nama yang selalu di sebutnya saat masih dalam satu selimut, dalam keadaan polos dr Prabu pulih perlahan dari rasa kantuk pengaruh obatnya.


"Astagfirullahaladzim." dr Prabu terperanjat serasa di sambar petir mendapatkan dirinya dalam keadaan bugil berdua di tempat tidur satu selimut seperti itu sungguh suatu pemandangan yang memalukan melirik orang di sebelahnya Alya yang tersenyum dengan agak sinis membuat dr Prabu bergetar hati dan perasaannya karena emosi, antara sadar dan tidak sadar ia mencari-cari pakaiannya dengan menahan sakit kepala hebat yang dirasanya, masih begitu dirasakannya denyutan di kepalanya dan mencoba menggapai pakaiannya yang tergeletak di bawah tempat tidur lalu mengenakannya dan duduk di tepi tempat tidur dengan keringat yang membanjiri tubuhnya belum sadar sepenuhnya apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Panik, takut, marah, kecewa hanya emosi yang menguasai dirinya tanpa tahu apa yang harus dilakukannya, mencoba mengingat-ingat merunut kembali ingatannya semua dari awal apa yang telah terjadi dengan dirinya hingga hari ini sampai malam ini, dirinya berada di tempat ini dan entah berada di mana dalam kondisi keadaan seperti ini dr Prabu sulit untuk mengingatnya.


Alya memeluk kembali punggung dr Prabu dari belakang dengan mengusap-usap pundak dan pangkal lengan dr Prabu.


Dr Prabu balik menghadap Alya dan menatap tubuh polosnya tanpa pakaian sama sekali, dr Prabu dengan perasaan jijik membuang muka dan melempar pakaian Alya dengan kasar ke mukanya, melihat pemandangan yang seharusnya menggairahkan tetapi telah berubah semuanya menjadi yang sangat tidak pantas untuk di lihat, seperti seonggok daging tak bernilai.


"Kamu telah menjebak Aku Alya! perbuatan kamu curang seperti tak ubahnya seorang brengsek yang memaksakan keinginan sendiri, aku katakan apapun yang terjadi malam ini aku tak mencintai kamu dan tak akan pernah, aku berlaku baik terhadapmu hanya karena menghargai orangtuamu dan jabatannya, dan semua itu sekarang pupus sudah semua di rusak oleh kelakuan tak terpuji anaknya sendiri."


"Ssssssssst...sudah bicaranya? atau masih mau lanjut dan kita habiskan satu malam ini dengan kesadaran? nggak usah ada kata dan rasa cinta dulu cukup aku saja yang mencintaimu dokter."


"Memalukan!"


"Aku tidak mencintaimu Alya, aku sudah punya rencana masa depanku sendiri dengan orang yang aku cintai."


"Aku tidak perduli dr Prabu Seto Wardhana, kamu tidak akan hidup tenang mulai hari ini apalagi meraih masa depanmu itu, perempuan mana yang mau melihat laki-lakinya dengan foto-foto bersama perempuan lain?"


Dr Prabu amarahnya memuncak inilah yang dirinya juga takutkan, kalap hatinya dengan sekilat tangannya mencengkram bahu dan leher Alya di hingga Alya kehilangan nafasnya dan meronta.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku Alya? akan aku berikan malam ini juga! aku laki-laki bisa lebih sadis darimu semoga ini adalah awal kehancuran hidup dan masa depanmu seperti sudah hancurnya hidup dan masa depanku dalam secangkir kopi yang kamu suguhkan."


Dr Prabu melempar tubuh Alya ke tempat tidur dengan masih setengah telanjang dan hanya memakai underwear, dr Prabu seperti kesurupan dan emosi yang begitu membakarnya, mengungkung menggerayangi tubuh Alya yang berada di bawah sergapan kasarnya, menarik semua penutup badannya dengan kasar dan melakukan pemaksaan di luar perkiraan Alya tanpa aba-aba dan pemanasan.

__ADS_1


Alya menjerit kecil dan dr Prabu tak memperdulikannya gelap mata gelap hati semua terlanjur gila masa depan nya melayang hilang entah ke mana terbang bersama isakan Alya yang terkulai dengan seprai penuh bercak merah.


Dengan keringat yang membanjiri tubuh dr Prabu dan kata-kata pedas keluar dari mulutnya, dr Prabu melepaskan tubuh Alya yang terkulai dari penyatuan dan pelampiasannya, meraih pakaiannya memakainya dan memandang Alya di balik selimut dengan sorot kebencian yang mendalam.


"Seandainya kamu hamil jangan harap tanggung jawabku, karena itu bukan cintaku tapi itu ambisi mu aku lebih memilih penjara daripada bertanggung jawab dan menikah denganmu camkan itu baik-baik Alya, aku tunggu teror mu mulai hari ini, aku tidak takut dan gentar, Aku yakinkan masa depanku akan aku raih sendiri apapun caranya dan sepahit apapun perjuangannya!"


"Selamat menikmati keberhasilan mu itu. Kan yang kamu kejar dan kamu inginkan dari Aku itu kan? sudah kamu rasakan?" dr Prabu memakai merapikan dan menarik gesper celananya di hadapan Alya yang masih tersengal dan melempar bantal ke tubuh Alya yang masih menitikkan airmata tanpa berucap sedikitpun dengan selimut sedada, lalu keluar dengan membanting pintu sekencang kencangnya.


Dr Prabu turun dan menghampiri meja bekas dirinya minum di pojok, dan meminta kantong plastik pada seorang barista lalu memfoto cangkir yang tadi di pakai minum dirinya yang kebetulan belum di beresin, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik tanpa menumpahkannya, barista yang melihatnya keheranan, tapi dr Prabu tak menghiraukannya terus berlalu menuju jalan raya dan menyetop taksi.


Alya yang masih di tempat tidur menatap nanar bercak darah yang menodai tempat tidurnya, semua telah terenggut tanpa menikmatinya, tanpa ucapan cinta apalagi sayang, semua terenggut dengan paksa satu kata sesal harus di buang jauh-jauh karena ini semua ulahnya sendiri dan semua keluar dari rencana awalnya, Alya hanya ingin photo syur nya dengan dr Prabu untuk memenangkan hatinya, untuk bisa menjadi teror pada pacar dr Prabu agar mundur secara teratur dan dirinya perlahan akan masuk, tapi tak di sangka malah kesuciannya yang terenggut paksa, Alya memeluk kedua dengkulnya dengan tangisan tak bersuara, senakal-nakalnya dirinya dan sebebas pergaulan yang di lakukannya tapi masih punya batas kebebasan itu sendiri, tapi ini semua jauh di luar dugaannya hanya satu yang bisa menghiburnya kesuciannya di renggut oleh orang yang dirinya cintai walau tanpa rasa cinta darinya, tapi dengan kebencian yang mendalam dr Prabu.


.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏

__ADS_1


__ADS_2