Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Buka baju di rumah impian


__ADS_3

"Kok Kita ke sini Mas? tanya Alya lagi.


"Kita samper temanku di sini, dan Kita pergi bareng nanti." jawab Rendra tenang saja saat mobil yang dirinya kendalikan belok ke salah satu perumahan elit yang ber-gapura begitu megah.


"Emang teman Mas yang mana yang tinggal di sini?" tanya Alya lagi.


"Ada, nanti juga Kamu kenal emangnya Kamu kapan pergi ke kantorku dan yang kenal bisa dihitung karena Kamu emang jarang ke kantor ku," sindir Rendra karena memang kenyataannya seperti itu.


Alya merasa malu, hanya diam saat suaminya menyindir. Memang selama ini dirinya sibuk dengan urusan dan pekerjaannya sendiri selama pernikahannya bisa dihitung jari dirinya pergi ke kantor suaminya hanya sekedar untuk saat ada keperluan saja padahal selama ini Rendra begitu ingin ditengok istrinya dan ingin Alya melihat kesibukannya seperti apa dan juga Rendra mungkin akan merasa bangga kalau Alya bangga juga dengan pencapaiannya selama ini.


"Sebelum sampai Kamu Aku tutup matanya ya, tapi jangan ngintip karena Aku benar-benar ingin memberi kejutan ini padamu Sayang!" ucap Rendra sambil mencabut saputangan di saku celana bagian belakangnya.


"Mas serius mau menutup mataku?" Alya merasa takut di kerjain dan di prank suaminya.


"Kamu nggak keberatan kan?"


"Ya sudah kalau itu maunya Mas."


"Siap-siap buka baju ya!" bisik Rendra setelah memasang penutup mata di muka Alya.


"Ih Mas! Aku hanya bercanda tadi!"


"Tidak! itu adalah janji Kamu! janji adalah utang yang harus di bayar." Rendra terkekeh sendiri melihat Alya sudah di tutup matanya dan tangannya masih saja memegang lengan Rendra.


"Pegangan ke bawah pangkal pahaku dong jangan ke situ Aku kan mau nyetir lagi ini belum sampai Sayang!" canda Rendra di sambut cubitan lagi di pinggangnya.


Rendra mengaduh sambil tertawa.


Mobil berhenti di salah satu depan rumah. Rendra membuka pintu lalu berputar membuka pintu sebelah meraih tangan Alya membimbingnya turun dan memapahnya dengan perlahan lalu merengkuh pinggangnya Alya hanya mengikuti saja dalam keadaan gelap. Hatinya begitu deg-degan siapa orang yang akan diperkenalkan Rendra pada dirinya karena selama ini merasa dirinya tidak banyak yang kenal orang-orang di kantor suaminya.


Terdengar gemerincing anak kunci mungkin kunci mobil yang di cabut Rendra tadi. Rendra membuka pintu lalu membimbing kembali Alya berjalan secara perlahan dan memberi petunjuk ke depan ada undakan yang harus dilangkahi mungkin itu adalah semacam undakan tangga atau pintu yang sedikit tinggi dari teras.


"Assalamu'alaikum!" ucap Rendra setelah Alya berdiri dan tetap dalam rengkuhannya.


Tak ada jawaban


"Assalamu'alaikum!"


"Assalamu'alaikum!"


Karena tak ada yang menjawab akhirnya Rendra menjawab sendiri ucapan salamnya.


"Waalaikum salaam!"


Lalu tangannya membuka penutup mata Alya dan Alya mengucek matanya karena dari gelap menjadi terang sedikit pusing di rasa Alya. Berada di satu ruangan yang begitu luas dan megah dan satu hal yang ada di pikiran Alya rumah siapa ini? tidak tahu dirinya ada di mana mungkin penghuni rumahnya belum keluar saat Rendra mengucapkan salam tadi.


"Kok Kamu nggak terkejut Al?"

__ADS_1


"Maksud Mas apa? ini rumah temannya itu yang Mas bilang tadi?"


"Ini rumah Kita! sengaja Aku merahasiakannya darimu biar jadi kejutan saat semua sudah siap!"


"Ah, Mas ini benar?"


"Masa Aku bohong?"


"Ya ampun Mas?"


"Kamu terkejut?"


"Bukan terkejut lagi tapi ini semua di luar dugaan, Mas ternyata punya selera tinggi juga semua isinya ini Mas yang atur dan pilihkan?" Alya masih dengan rasa tak percayanya.


"Iya, maaf ya Al Aku selama ini tidak melibatkan Kamu dalam memilih properti tapi masih ada kok untuk yang berhubungan dengan perempuan masih bisa Kamu pilihkan nanti tetapi secara umum Aku sendiri yang memilih barang-barang ini yang Aku anggap sesuai semoga Kamu juga bisa cocok karena Aku ingin saat kita pindah ke sini semua sudah siap!"


Alya tertegun memandang suaminya tak percaya, rumah mewah dengan design yang menawan ada dua lantai dengan perabotan yang sudah lengkap. Semua orang bagaimana tidak mematung menyaksikan pemandangan indah di depan matanya sesaat Alya memang bukan terkejut lagi tapi setengah syok menyadarinya.


"Cium Aku dong kalau Kamu terkejut!"


"Sepertinya Aku akan membuka baju langsung Mas! untuk memenuhi janjiku!" Alya memerah mukanya.


"Tenang nanti Aku tagih janjinya ya!, mari Kita keliling dulu semua sudut ruangan rumah impian ini dan nanti di kamar Kita boleh kamu tuntaskan nazar janjimu itu!" sahut Rendra dengan terkekeh.


Satu cubitan lagi mendarat di pinggang Rendra tapi Rendra menangkapnya dan merangkul tubuh ramping Alya dan menciumnya lembut sambil berdiri di tengah rumah itu.


"Hanya Kita Sayang...."


"Udah dulu ah, kayaknya mau melihat setiap sudut ruangan rumah ini?" Alya melepaskan pagutannya dengan perlahan.


"Baik, nanti Kita lanjutkan program Anaknya ya?" jawab Rendra dengan nafas belum teratur.


Alya mengangguk sambil tersenyum.


Mereka keliling di lantai bawah dulu mulai ruang tamu, kamar tamu, ruang keluarga dan kamar tamu dan keluarga juga kamar mandinya lalu dapur yang cukup luas karena memang Alya suka masak dan bereksperimen dengan segala macam kue-kue dan masakan lainnya.


Naik ke lantai dua Rendra menarik Alya ke arah view yang sangat indah nun jauh di sana terbentang pemandangan kota dan hunian yang seperti korek api atau lego yang di susun. Alya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Lanjut ada ruang kerja menyatu dengan ruang baca, ruang fitnes dan satu kamar utama yang masih tertutup pintunya juga satu kamar yang di peruntukkan bila suatu saat hadir buah hati mereka Rendra telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna.


Mereka berciuman lagi di teras balkon melepas kebahagiaan yang serasa memenuhi dada keduanya dan kebebasan yang selama ini mereka tinggal di rumah orangtua Alya.


"Mas kelihatan nafsu banget sih?"


"Itu sebagai tanda syukur Aku memiliki istri dan rumah impian ini Sayang."


"Jangan jangan Mas di sini sekarang menuntut Aku dan minta lebih?"

__ADS_1


"Bisa jadi, bukankah itu janji Kamu juga?"


"Aku hanya bercanda Mas!"


"Tapi Aku menganggapnya serius gimana?"


Alya diam merasa bersalah dengan ucapannya tadi.


Rendra tertawa merangkulnya lagi dan membimbingnya membuka satu kamar dan dengan perlahan masuk sambil merengkuh pinggang Alya.


Satu kamar dengan luas maksimal, tempat tidur besar dan rapi, lemari yang menjulang satu pasang sofa mini dan meja rias modern juga kamar mandi mewah di bagian satu pojoknya.


Alya memandang suaminya merasa tak percaya. Rendra mengangguk sambil membimbing Alya duduk di tepi tempat tidur. Hilang semua kata-katanya kini.


"Kita tester bad barunya Sayang?" bisik Rendra begitu dekat di telinga Alya.


"Kita sudah melakukannya dari semalam melebihi dosis minum obat Mas!" sahut Alya sambil mengusap seprei yang begitu licin dan rapi.


"Aku hanya menagih janji Kamu!"


Alya merebahkan diri dalam kepasrahan saat Rendra tangannya mulai nakal, inilah rumahtangganya kini semua telah di penuhi suaminya Rendra, dan Dirinya juga kini telah sepenuhnya menyerahkan diri tanpa penghalang apapun.


Alya dengan lincah membuka kancing kaos berkerah yang di kenakan Rendra dan terlempar entah ke mana juga pakaian yang dikenakan Alya semua tanggal. Mereka telah berada di dalam satu selimut dengan AC yang hidup dengan suhu rendah.


"Mas!"


"Hemght...." sahut Rendra asyik dengan sentuhan di bagian kesukaannya.


"Aku takut!"


"Takut apa? kan ada Aku!" Rendra melepas kuncup kecoklatan di dada Alya dari mulutnya.


"Aku takut Ibu sama Bapak tak izinkan Kita pindah ke sini!"


"Kamu itu milik Aku, jadi semua terserah Aku! Kita akan bebas siang malam di sini tanpa malu lagi sama orangtuamu setiap waktu akan seperti ini di sudut manapun Kita menginginkannya!" ucap Rendra mulai tak sabar.


Alya merinding mendengarnya, dan semua itu jadi keinginannya juga apalagi Alya pemuja kebebasan yang kini bersama suaminya.


Dua-duanya sama lagi puncak puncaknya menikmati kebersamaan yang dari kemarin banyak alasan pekerjaan dan waktu juga kendala orangtua mereka menjadikan agak tertahan semua keinginan mereka, tapi kini keduanya serasa lepas kendali langsung test tempat tidur di rumah baru mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2