Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Kegelisahan


__ADS_3

"Siapa saja yang datang katanya?"


"Pak walikota, mungkin sama sopir atau kerabatnya."


"Astagfirullah, kenapa jadi runyam begini? apa yang harus aku katakan kepada kedua orang tuaku? mungkinkah mereka akan percaya dan apa yang dikatakan walikota terhadap kedua orang tuaku ya Allah... aku sungguh tidak bisa membayangkan kedua orang tuaku, hancurnya perasaan mereka."


Dr Imam diam, membenarkan apa yang di katakan dr Prabu.


"Brengsek! brengsek! semuanya..."


"Bos tenang, minum dulu nih, jangan mengikuti emosi ingat semua rencana mu tak boleh gagal, apapun pernikahan jangan sampai gagal, juga jangan sampai bocor pada Retno dan keluarganya."


"Imam, sekarang juga masih ada keluarga Retno di sini, adiknya Dimas yang antar undangan itu buat di sebar di sini dan di Bandung.


"Ingat, apapun jangan sampai khabar ini sampai pada Retno juga keluarganya."


"Apa ini yang terbaik? jika aku tak berterus terang dari awal?"


"Tapi itu akan membuat Retno dalam dilema. Apalagi keluarganya, jangan sampai bocor dulu, sekali lagi jangan dulu semua ini bocor biar kita yang tahu, kita nanti mencari cara lain bila mungkin kita nego dengan walikota urusan akan dipending sampai selesai pernikahan."


"Ya, ampuuuuun Mam, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Retno, pasti hancur hatinya, terluka hati yang begitu dalam dan mungkin akan benci kepadaku se-benci bencinya melebihi yang sudah-sudah, aku tidak akan sanggup, aku tidak sanggup hidup tanpa dia."


"Jaga semua itu, jangan sampai terjadi."


"Imam, seminggu lagi aku menikah, kenapa semua ini harus terjadi menimpaku, apa aku orang yang salah? kotor? juga kenapa khabar itu datang di saat aku memegang undangan pernikahanku? dan kenapa orangtuaku dulu yang tahu semuanya, orangtua yang sangat aku hormati, aku hargai di atas kepalaku, mereka di jatuhkan dengan khabar yang tidak mengenakannya di saat mereka bersukacita mengantarkan aku kepada gerbang rumah tangga pernikahan."


"Sabar bos, akan ada jalan keluarnya."


"Apa yang harus aku lakukan Mam? aku marah, aku benci, aku sakit, aku cemas dan takut aku kalap."


"Sabar bos, tenang."


"Bagaimana aku bisa tenang dalam kondisi sekarang ini, keadaan kedua orang tuaku bagaimana?"


"Mereka syok, sampai sekarang Ibumu belum bisa bicara kata Intan, hanya mengurung diri di dalam kamar tak mau bicara dengan siapapun."


"Astagfirullah, Ya Allah ampunilah aku, Bapak, Ibu maafkanlah aku..."


"Dr Prabu menangis sesenggukan sambil mengacak-acak rambutnya, duduk di samping dr Iman SpOG dengan sekali-kali mengusap air matanya lupa kalau dirinya seorang laki-laki karena kesedihan yang mendalam."


"Tenangkan dulu bos, baru kita bicara lagi."


"Telephon Intan Mam, sampaikan pada kedua orangtuaku untuk tetap menjaga berita itu cukup sampai Bapak Ibuku sama Intan saja."


"Baik bos, nanti pasti aku telephon."


"Apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang? apa aku datangi tuh walikota?"


"Jangan bos, keenakan kalau dia di datangi, biarlah dia yang mencari mu."

__ADS_1


"Sampai kapan Imam? sampai Retno dan keluarganya tahu semuanya?"


"Pernikahan ini jangan sampai gagal, aib kedua kalinya menurutku bila sampai ini terjadi."


"Aku harus menikah dulu, aku nggak mau kehilangan Retno lagi apapun yang terjadi. Aku harus menjaga jangan sampai pernikahanku gagal, Apa aku egois Imam?"


Dr Imam tahu, semua serba salah. Di satu sisi seandainya Retno tahu apa yang terjadi pasti ada kemungkinan membatalkan pernikahan, apalagi kalau kedua orang tua mereka tahu hancur semuanya.


Pak walikota juga jujur tak di salahkan juga, kalau saja Alya tak hamil mungkin akan lain ceritanya, tapi ini kondisinya hamil semua orang pasti menuntut tanggung jawab, apapun alasannya tuntutan tetap pengakuan status.


Mereka masih pada diam dr Imam juga dr Prabu sibuk dengan perasaan dan pikiran masing-masing, mereka di kejutkan dengan kedatangan Retno yang tiba-tiba nyelonong masuk karena pintu tak di tutup rapat.


tok...tok...tok...


"Mas Prabu, Dimas pamit sekarang katanya."


"Oh, eh Retno i-iya, mana orangnya?"


"Itu sudah di parkiran, ayo kita antar dulu."


"Eh, ada dr Imam, dok gimana desain undangannya sudah lihat belum?"


"Belum Retno, mana ini ya?"


"Iya itu."


Sambil merengkuh bahu Retno dr Prabu mencoba keluar dari kesedihannya, berusaha menutupi suasana hatinya yang lagi kacau balau.


Retno adalah obat hatinya, penawar semua gundah jiwanya.


Akankah waktu merubahnya.


Dimas yang berdiri dekat mobilnya tersenyum melihat keakraban kakaknya dengan dr Prabu, mereka tampak begitu serasi dan begitu bahagia dalam pandangan Dimas.


Dr Prabu sama Retno menghampirinya dan berjabat erat.


"Hati-hati, jangan suka ngebut. Kalau ngantuk berhenti dulu dan istirahatlah."


"Iya Mbak."


"Sampaikan salam pada Romo juga Kangjeng Ibu aku sama Mas Prabu lusa pulangnya."


Dimas tersenyum dan mengangguk di balik kemudi, mobil pun melaju diantar tatapan dr Prabu dan Retno.


"Mas, aku ambil dulu undangan buat di sini ya, biar Mas sekalian serahkan pada panitia pelaksana di sini biar diatur"


"Iya boleh."


"Retno, sepertinya aku mau pulang dulu ke Bandung sebelum kita berangkat ke Pekalongan."

__ADS_1


"Katanya nggak pulang lagi, emang ada apa?"


"Aku mau minta izin dan do'a restu lagi sama orangtuaku, rasanya mau aja menemui mereka dulu sebelum kita berangkat nanti."


"Aku ikut ya?"


"Bo-boleh tapi kita berpisah di Bandung, aku ke Majalaya ke rumah orangtua ku kamu temui lah suster kepala Harni, bagaimanapun dia orangtuamu juga, mintalah do'a restunya secara khusus dan pamit baik-baik."


"Retno, apa kamu mengerti maksudku?"


"Apa kita nggak sekalian bareng bareng pamit keluarga Mas dulu, lalu kita mampir ke tempat kost aku sambil pulang?"


"Begitu juga bagus, tapi aku lebih menjaga privasi kamu dengan suster kepala Harni juga sahabat-sahabat kamu di rumahsakit itu, apalagi kan status kamu sekarang sudah pindah kerja apa nggak ada momen khusus dulu sebelum kamu menikah dan pindah kerja?"


"Iya, juga Mas, oke aku nggak ikut ke Majalaya, aku akan bertemu teman-teman kerjaku dulu. Makasih ya Mas, Mas pengertian banget."


Dr Prabu memeluk Retno dengan perasaannya yang begitu takut kehilangan, dan perasaan sayang yang tak terhingga.


"Mas, jangan mengambil kesempatan di sini, seminggu lagi aku milikmu, boleh peluk aku sepuasnya."


"Retno, pikiranku lagi galau aku perlu ketenangan, aku perlu nasehat orangtuaku, aku akan menikah denganmu meninggalkan semuanya, aku ingin memeluk kamu memastikan kalau ini bukan mimpi."


Retno tersenyum mengerti kegelisahan hati Mas Prabu.


Dengan memeluknya mungkin bisa menenangkannya.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya!🙏...


__ADS_1


__ADS_2