Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Tamu spesial


__ADS_3

"Eeeeh...Mbak Retno sini Mbak masuk." Intan memeluk dan sebelumnya cipika cipiki dengan Retno.


"Jadi masak Tan?" dr Prabu menggandeng tangan Retno yang berdiri saja di teras depan.


"Ayo masuk nggak apa-apa jangan sungkan, silahkan duduk." dr Prabu mempersilahkan Retno.


"Mbak Retno mau minum apa?" Intan senang kedatangan calon kakak ipar nya.


"Apa aja Tan, nggak usah repot repot."


"Aku nggak repot malah aku senang banget, lagi libur ya?"


"Iya, aku bisa bernafas dan sedikit bisa meregangkan urat syaraf."


Intan ke belakang dan kembali dengan dua cangkir teh manis hangat di nampan dan meletakkannya di depan Retno dan Kakaknya.


"Santai-santai saja ya, aku sama Bi Iyah masih menyelesaikan dulu masaknya dikit lagi."


"Aku bantu ya."


"Dikit lagi kok nggak usah, kelihatannya ada yang mau di temani heee..." Intan menaikan alisnya ke arak Kakaknya.


Retno begitu mengagumi rumah nya Mas Prabu yang begitu besar dan mewah banget, semua perabotan nya sudah komplit dan semua sudah tertata dengan apik mungkin semua ini menggunakan jasa design interior karena semua begitu pas dengan posisi dan sudut semua ruang, begitu nyaman dan menenangkan, Retno jadi teringat rumah orangtuanya yang sama begitu megah bak rumah pejabat jaman dulu.


"Retno apa kamu suka dengan rumah ini?" suara tiba-tiba dr Prabu mengagetkan Retno yang lagi melamun.


"Oh, tentu aku suka banget, aku jadi ingat rumah orangtuaku dan kangen mereka"


"Kamu kan bisa menelephon nya kalau kamu kangen."


"Iya sih Mas, tapi aku sekarang begitu sulit meluangkan waktu sejak aku KKN, aku hampir tak punya waktu, sekarang aja Sabtu aku bisa izin sama Pak Burhan dan suster kepala Harni untuk latihan dan mau ikut turnamen besoknya, biasanya cuma hari minggu bisa libur dan tubuh aku seperti remuk rasanya jadi aku habiskan buat istirahat sama mengurus keperluanku yang lainnya."


"Kamu nggak usah terlalu mengikuti aturan kan aku sudah memberi kebebasan padamu."


"Iya aku tahu Mas, tapi tetep aja lima hari dalam seminggu aku bolak balik Bandung Tasikmalaya emang tubuh aku robot apa?"


"Empat hari aja kamu ikut KKN dan sisanya buat istirahat."


"Iya nanti aku coba, pekerjaan di Bandung yang jadi masalahnya nggak enak aku kalau telat melulu."


"Iya, paling efektif nya satu setengah bulanan lagi."


"Iya Mas, pusing di pikirin di jalani aja."


"Ya ya ya..."


"Sudah berapa lama tidak pulang ke Pekalongan?"


"Aku sudah nggak ingat."


"Sebegitu sibuknya?"

__ADS_1


"Kurang harmonis dengan keluarga awalnya."


"Retno maafkan aku, aku bukan orang yang sempurna tapi mulai sekarang aku ingin berusaha lebih baik membawamu pada keluargamu kembali."


"Hidup adalah pilihan, dan aku lebih memilih jalanku sendiri walau aku tertatih sendirian, aku mulai betah hidup jauh dari keluarga dan karena kebiasaan mungkin." Retno tersenyum kecut.


"Jangan bicara begitu Retno, aku ingin bersamamu dan kita melangkah bersama lagi, keluargamu Romo mu, Ibumu, adikmu Dimas sehat dan baik baik saja?"


"Aku seperti orang yang tak punya pegangan dan sandaran Mas, lima tahun aku hanya pulang saat Romo ku sakit, aku sudah jadi orang yang tak tahu keadaan kampung halaman ku, pernah suatu hari Dimas datang ke Bandung dan menawarkan kendaraan takut aku butuh mungkin di suruh Kangjeng Ibu tapi aku menolaknya entah kenapa semua terasa menyakitkan bagiku, kehilangan Mas Prabu tanpa kabar dan jejak yang bisa aku telusuri, jadi apa yang aku perjuangkan sampai saat ini dan aku pertahankan ? keluargaku ? atau cintaku yang tak kunjung datang yang ku nanti setiap detik hari minggu bulan dan tahun?"


"Retno...!"


"Aku harus bagaimana Mas? walau kemarahan ku pada orangtuaku telah hilang berganti dengan perasaan bersalah tapi aku bukan orang yang bisa berbakti lagi, sedangkan yang aku pertahankan cinta sejati ku Mas Prabu datang dan bertemu di sini memperlakukan aku seperti itu, seperti apa hatiku Mas sebelum ini bayangkan? jujur orang yang aku tunggu dengan begitu harap dengan cinta tapi datang dengan melecehkan aku!"


"Retno, sekali lagi maafkan aku, sungguh aku bukan orang yang baik, jangan meminta maaf semua telah terjadi."


Retno memandang mata dr Prabu.


"Selesaikan dulu KKN mu, aku ingin meminta maaf terhadap keluargamu dan memintamu kembali untuk jadi istriku!"


"Masihkah perlu semua itu Mas?


mungkin keluargaku sudah menganggap ku tak ada, ada dan tiada restu dari orangtuaku sekarang sudah tidak aku anggap perlu lagi, hanya meyakinkanku saja yang perlu Mas lakukan dan Mas pegang sekarang."


"Retno jangan begitu, kemarahan mu pada orangtuamu salah!"


"Masihkah Mas menganggap ku salah? apa yang akan Mas lakukan saat posisi Mas ada di aku saat ini?"


"Retno kalau kita debat nggak akan ada ujungnya dan titik temunya, satu yang aku harapkan pulanglah pada orangtuamu, mereka mengharapkan mu kembali, aku akan mengantarmu sehabis KKN nanti."


Setitik air mata jatuh di pangkuan Retno, dan dr Prabu memeluknya dengan sejuta perasaan bersalah dan penyesalan yang tiada arti.


"Sayang kalau kamu tak memaafkan aku, aku akan menjadi orang paling menyesal sepanjang sisa hidupku."


"Mas aku tak berdaya, aku terlalu mencintaimu dari dulu sampai sekarang."


"Ya Ampun Retno, aku tak tahu harus ngomong apa lagi hanya aku ingin selalu bersamamu menebus setiap kesalahanku yang telah aku buat padamu selama ini."


Retno memejamkan matanya, di balik kecantikannya ada kekuatan maha dahsyat, dan cinta yang tulus untuk dr Prabu dan kesetiaan tak tergantikan juga rasa yang tak terbagi, haruskah aku menyakitinya lagi? dr Prabu memeluk Retno dengan erat.


"Aku tidak benci lagi pada penolakan keluargamu Retno, tapi aku takut kamu tak menerimaku lagi."


"Mas apa cinta kita telah memenangkan semua rintangan itu?"


"Iya sayang, sekarang kita telah bersama lagi apa lagi yang kamu ragukan, ini aku Mas Prabu mu masih yang dulu dengan cintaku yang masih sama seperti yang dulu."


"Terima kasih Mas, telah hadir kembali di hidupku di ujung saat aku hampir putus asa."


Retno melepaskan pelukannya dan menatap wajah simpatik dr Prabu.


"Mas."

__ADS_1


"Hemght...?"


"Mas adalah tempat ternyaman yang aku rasakan untuk bersandar, aku nggak mau ada yang lain yang menggantikan tempatku."


"Siapa yang akan menggantikan mu Retno sayang? aku juga nggak mau ada yang lain di sisimu selain aku."


Dr Prabu mencolek hidung Retno, ingin sedikit menghiburnya dan memberi semangat dan meyakinkan hatinya, Retno kamu adalah belahan hatiku yang hilang dan telah aku temukan kembali.


tok tok tok...


"Woi aku ganggu nggak nih?"


"Eh dr Imam." Retno agak malu.


"Masuk Mam." dr Prabu biasa saja.


"Oke makasih boss."


"Duduklah."


"Intan!"


"Ya Kak."


"Minum satu lagi."


"Ngapain tumben hari Minggu ke sini ada perlu? di sini nggak ada yang hamil atau mau melahirkan atau juga mau periksa kehamilan."


Dr Prabu bercanda sama dr Imam SpOG dan menggodanya.


"Sebenarnya iya boss, tapi semua itu belum saja, saya ke sini hanya mengikuti kata hati saja, dan suatu hari pasti di keluarga ini akan butuh saya dan saya sudah hapal jalannya ke sini."


"Haaa...bisa aja kamu, ngeles-ngeles aja!"


"Kita sama-sama jadi tamu spesial di sini Retno!" dr Imam menatap Retno yang tersenyum.


"Aku suka kejujuran dr Imam, apalagi soal perasaan." dr Prabu menyindirnya lagi.


"Apa aku sudah jujur?"


Retno tertawa merasa lucu melihat dr Imam yang salah tingkah dan agak grogi di hadapan Intan, dr Prabu dan dirinya. dr Prabu begitu senang mendengar tawa Retno dan dr Prabu meraih tangan Retno dan di genggamnya.


Intan datang dengan satu cangkir lagi minuman, lalu duduk di sebelah dr Imam dan suasana jadi hangat hangat kuku.


"Gimana kalau kita makan sekarang? kita coba masakan Intan apa enak secantik orangnya?" dr Prabu menggoda Intan yang salah tingkah.


"Ah Kakak, aku hanya masak biasa kalau nggak enak jangan pada protes ya!"


"Aku sama Retno mungkin protes, tapi dr Imam nggak bakalan protes pasti akan memujimu Intan percayalah." dr Prabu menggoda lagi adiknya.


"Haaaaaaaa..."

__ADS_1


Semua pada tertawa.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2