Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Ketakutan Alya


__ADS_3

Alya bangun dengan perasaan badan nggak nyaman dan kepala sakit, rasa sakit di kepala tak bisa di tahannya.


Duduk di tempat tidur sambil memijit pelipisnya, akhir-akhir ini memang kurang asupan makanan mungkin karena kesibukan. Benar kata Ibunya kalau sudah terlewatkan waktu makan tidak akan ada selera lagi.


Alya turun sambil sebelah tangannya memegang ponsel, lalu duduk di salah satu meja di sudut dekat jendela dan membuka ponselnya.


Hanya butuh beberapa langkah saja untuk menuju pada kontak yang diinginkan, Alya memijit satu kontak dan terdengar nada panggil.


"Halo, hai Al, gimana sehat?"


"Gue butuh elo! gue sakit khabar gue buruk."


"Biasanya juga sakit pura-pura."


"Kali ini serius gue sakit. Lo bisa datang ke sini nggak?"


"Sudah cek urine belum?"


"Pokoknya lo harus datang. Gue nggak terima alasan apapun dari lo, nanti ceritanya di sini!"


"Ya, gue selesain dulu urusan gue karena ini menyangkut hidup dan juga masa depan pekerjaan gue."


"Iya, pokoknya gue tunggu titik!"


"Maksa amat Neng? heee..."


"Kalau nggak di paksa kan lo nggak bakal datang."


"Iya, sabar sedikit."


"Cepetan!"


"Gue lagi di jalan bawa motor nih di pinggir. Kalau cepet-cepet gue keserempet kendaraan lain gimana, apa lo tanggungjawab?"


Sambungan telepon ditutup sama Alya dan Desty hanya menarik nafas panjang sambil membetulkan kembali helm nya.


Akhirnya Desty kalah juga sama rengekan Alya dan tak bisa menolaknya untuk tidak datang saat ia membutuhkan dirinya. Terlalu banyak hutang Budi dirinya bahkan keluarganya terhadap Alya, bisa dimaklumi kalau untuk hal yang satu itu Alya memang tidak pelit bahkan saat terang-terangan Desty membutuhkan sesuatu sedari masa sekolahnya dulu selalu Alya yang menjadi penolong nya.


Kalau bukan Si Alya nggak mungkin Desty juga akan bersikap seperti itu, tetapi Alya dan dirinya dirinya selalu saja menjadi penolong memberi jalan keluar dari setiap permasalahan mereka.


Desty membelokkan motornya ke arah cafe sahabatnya itu. Karena kesibukan akhir-akhir ini dirinya dan Alya jarang sekali bertemu tapi saat dirinya nganggur enggak ada tempat lain selain nongkrong, tidur, mengobrol di cafe tempatnya Alya.


Selang hanya sepuluh menitan Alya telah memarkir motornya di area parkir cafe milik Alya. Desty membuka helmnya dan dia sangkutin di kaca spion lalu masuk menerobos dan semua pelayannya sudah pada tahu akrab bahkan familiar dan kenal baik dengan sahabat boss nya itu.


"Bu Alya di atas?" tanya Desty pada salah satu pelayannya.

__ADS_1


"Iya, Mbak." pelayan cafe itu tersenyum.


"Makasih ya."


Desty naik tangga dan langsung masuk kamar yang serba komplit itu, dan melihat Alya sedang duduk di tempat tidur sambil melihat-lihat ponselnya.


"Hai, sakit kok kelihatan segar gitu?"


"Des, gue harus gimana sekarang?"


"Lo sudah test belum? terus lo sudah telat?"


"Gue, belum punya keberanian Des."


"Astaga! Alya kamu tuh gimana sih? pastikan dulu apa sih susahnya beli testpack?"


"Itu sudah gue beli tapi belum di lakukan, gue lebih ke merasa takut."


"Alya jaman sekarang orang beberapa jam habis melakukan "anu" di test bisa langsung ketahuan ada pembuahan atau enggak, nggak usah nunggu telat bulan kalau lo ingin kepastian dari semua masalah yang dihadapi lo sekarang."


"Tapi gue nggak ada keberanian, biarlah dulu sambil gue berpikir apa yang harus dilakukan."


"Heran ya gue sama elo, kalau menjerat orang seperti menantang gairahnya juga amarahnya begitu pintar, tapi mencari jalan keluar dari permasalahan lo begitu takut dan buntu."


"Tapi sudah berapa persen perkiraan gue kalau perut gue sudah isi, perasaan gue berbeda setiap hari Des, gue merasa lemas, pusing dan mau tidur mulu juga nggak mau makan."


"Tapi gue merasakan yang lain."


"Itu sugesti lo aja kalau menurut gue. Tidak ada jalan lain untuk jalan keluar dari masalah lo, selain lo harus test memastikan semuanya baru kita berpikir apa yang akan kita lakukan. Ya kalau enggak mau ya sudah, seperti maunya lo nunggu sampai bulan depan, nunggu paling tiga mingguan lagi sampai jadwal haid lo datang ya gue terserah."


"Sepertinya gue nunggu sampai jadwal menstruasi gue datang."


"Ya sudah, yang bisa gue bantu sekarang apa?"


"Gue menyampaikan pesan dari Ibu sama lo, kalau lo harus ngebantuin gue di semua pekerjaan gue."


"Kapan Ibu lo bilang begitu?"


"Tadi, inspeksi mendadak pagi-pagi sudah datang ke sini karena gue semalam tidak pulang mungkin cemas."


"Terus gue ngebantuin apa? kan lo tahu gue sekarang udah kerja, gue mulai suka dengan kerjaan itu menurut gue sangat menantang untuk ditaklukkan. Mungkin seperti menantangnya perasaan lo yang ingin menaklukkan hati seorang dr Prabu." Alya tertawa kecil seperti menertawakan dirinya sendiri.


"Gue mau lo kerja sama gue, lo tangani cafe ini."


"Terlambat Al, gue sudah merasa betah di kerjaan sekarang, maaf bukan ngebanding-bandingkan mungkin kerjaan yang sekarang ini sangat cocok sama gue. Kenapa? kerja gue tidak dituntut setiap hari harus datang pada waktunya dan pulang pada waktunya. Gue lebih leluasa mengatur waktu gue dan tantangannya juga ada, ada target yang harus gue capai ya berusaha, mau standard saja ya santai saja."

__ADS_1


"Jadi lo nggak tertarik mengelola cafe ini Des?"


"Bukan nggak tertarik Al, tapi gue mau merasakan dulu sampai dimana berkembangnya usaha yang gue rintis sekarang, tapi seandainya penawaran lo sebelum gue menekuni pekerjaan ini akan menjadi bahan pertimbangan mungkin."


Alya terhenyak, tak mengira jawaban Desty sahabatnya tak bisa untuk berbagi kesibukan dengan dirinya.


"Maaf ya Al, mungkin kita nggak ditakdirkan untuk jadi partner dalam usaha dan pekerjaan tapi lo jangan khawatir, gue orang yang tahu berterima kasih sama keluarga lo buktinya sekarang gue juga gue datang saat lo minta gue datang."


"Oke, gue berusaha mengerti pada posisi lo. Tapi gue minta pengen ada lo jika suatu saat gue akan gunakan testpack."


"Kok harus gue Al? emang lo nggak bisa baca hasil testpack?"


"Takut gue pingsan aja, atau gue nekad mengakhiri diri sendiri saja."


"Lo yang ngerasain enaknya, gue yang menyaksikan hasilnya sungguh tidak adil!"


Alya mendengus dan tertawa pahit.


"Akhiri aja hidup lo, konyol akhirnya. Gini ya Al, kalau sudah ketahuan lo itu hamil apapun alasannya menurut gue itu adalah perbuatan lo berdua, dan yang menyelesaikannya harus lo sama si Prabu itu dan orang tua lo bukan gue."


"Itu maksud gue Des, gue nggak bisa ngebayangin reaksi Ibu sama Bapak gue, apalagi semua berawal dari kesalahan gue."


"Bodoh amat lo Al, buat alibi pengalihan kasus jadikan si Prabu itu yang menjadi salah di hadapan kedua orang tua lo apapun caranya. Lo ngerti nggak sih maksud gue?"


"Ide seperti itu yang tak terpikirkan sama gue Des. Makanya gue selalu meminta pertimbangan lo dalam hal apapun, ini adalah bisikan lo yang gue lakukan sampai gue terbelit kasus sekarang seperti ini."


"Sudah-sudah, kalau lo di usir sama orangtua lo tinggal pindah ke sini, pokoknya gue sarankan sama lo jangan apa-apain dulu perut lo apapun bagaimanapun jadinya, gue akan berpikir jalan keluarnya."


"Masa gue hamil nggak ada lakiknya Des?" Alya tersenyum getir.


"Kan si Prabu bapak biologisnya, apapun caranya melibatkan orangtua lo mungkin semua bisa."


"Gue nggak yakin Des."


"Kok pesimis gitu?"


"Bukan pesimis Des, tapi gue lebih ke menyadari kesalahan gue."


"Tumben lo punya perasaan begitu? biasanya ingin menang dan unggul dalam segala hal."


"Alya terpekur, dalam diamnya.


Tak menyangka jalan hidupnya berubah dengan drastis, Semua menjadi tidak bergairah dan harapannya seakan sudah pupus tidak bersinar lagi semua hilang ditelan ketakutan kecemasan yang belum terbuka dan terbukti.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏

__ADS_1


Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya bertitel CAMELIA CHEN author"zain wushi" sahabat terbaikku yang paling hebat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!



__ADS_2