
Saling memasang cincin dengan senyum sumringah dr Prabu dan Retno tak henti-hentinya menebar senyum kepada semua tamu yang hadir, yang sebagian besar adalah kerabat keluarga dari kedua belah pihak orangtuanya.
Keluarga Raden Haryo Atmojo dan juga dari keluarga Raden Ayu Tri Hapsari Ibundanya Retno. Semua tamu keluarga ningrat itu seperti langsung berunding untuk kesepakatan pernikahan yang selanjutnya akan di laksanakan, di bahas serius keluarga itu.
Karena keluarga Retno akan berkunjung ke keluarga dr Prabu, jadi dr Prabu tidak ikut lagi berunding, biarlah itu menjadi urusan keluarganya hanya saja nanti seandainya pertemuan dua keluarga terlaksana, dirinya hanya ingin mengajukan jangan terlalu lama itu saja.
Dr Prabu mencium jemari Retno, Retno yang menyadari semuanya dan masih di tengah-tengah keluarga besarnya agak merona walau hatinya begitu hangat.
"Eh...eh jangan dulu cium-ciuman saru sayang... ini baru tunangan, sabar dulu nanti ada saatnya." Ibu perias dan penata busana memperingatkan dr Prabu dengan mimik lucu.
"Cium di tangan Bu, heee..." dr Prabu bela diri.
"Asalnya iya di tangan, tapi akan tak bertanggungjawab nantinya kalau sampai ke wilayah lainnya, makanya jangan memulai."
"Iya deh Bu, tapi memandangnya boleh kan?" dr Prabu terkekeh.
"Tapi jangan sampai ngeces juga memandangnya heee...." Giliran Ibu perias yang terkekeh sendiri. Retno juga tersenyum sambil memukul lengan dr Prabu.
Tak memandang dan tak ngeces gimana... semua orang yang hadir di acara pertunangan itu begitu mengagumi kecantikan putri saudagar batik terkemuka di Pekalongan itu. Retno dengan kebaya khas kebesaran yang menjadi ciri khas keluarga ningrat nya begitu mencolok diantara yang hadir di situ.
Putri kebanggan keluarga Raden Haryo Atmojo yang di harapkan menjadi penerus bagi kelangsungan usaha keluarganya di bidang batik dan bisnis per-batikan. Tapi Retno malah memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai pelayan masyarakat menjadi seorang perawat.
Keluarga yang pada awalnya begitu menentang, tak mampu merubah haluan Retno untuk berpaling dari keinginan dan cita-cita nya.
Semakin di tentang semakin kuat keinginan dan penolakan Retno, akhirnya keluarga pun menyadari semua tak bisa dipaksakan. Terlalu lama keluarga Raden Haryo Atmojo kehilangan putri dalam mencari jati dirinya.
Kerinduan yang tak tertahankan pada pada putrinya meluluhkan hati Raden Haryo Atmojo untuk merestui hubungannya dengan dr Prabu Seto Wardhana. Juga merelakan putrinya menjadi pengabdi di masyarakat menjadi seorang perawat yang tadinya itu prinsip dasar keluarga ningrat bukan melayani tetapi dilayani.
Semua sudah berubah. Retno dengan bebas menerobos aturan baku keluarganya. Walau dalam prinsip nya ada ketidak cocokan dengan prinsip Romo nya.
Disadari, dan di terima oleh keluarga besarnya, apapun itu adalah jalan hidup Retno sendiri yang menjalani. Perjuangan akan cintanya berhasil di perjuangkan walau belum finish.
Mereka makan bersama secara prasmanan, melihat Retno dalam senyuman adalah kebahagiaan dr Prabu. Juga kebahagiaan keluarga Retno yang jadi keinginannya.
__ADS_1
Menjadi anggota baru di keluarga ini, walau mungkin perlu adaptasi luar biasa tapi dengan cinta semua akan terasa biasa saja.
Raden Ayu Tri Hapsari memberi wejangan pada putrinya dan Retno begitu serius menyimaknya.
"Bahagiakan lah Romo mu, dia telah banyak mengalah terhadap Diajeng. Bukan tak merestui dengan siapapun Diajeng bersanding, tapi Romo mu punya keinginan yang tanpa perundingan dulu denganmu Diajeng."
"Ajeng tahu Bu, Ajeng banyak salah dan menentang, sekarang Ajeng hanya memohon maaf, Ajeng bukan anak seperti harapan Romo sama Ibu."
"Kebahagiaanmu yang utama, dan Ibu titipkan padamu Nak Prabu. Karena Diajeng bahagianya bersamamu."
"Semoga Bu, kami hanya meminta do'a restu dari Romo juga Ibu di sini, Insya Allah saya akan membahagiakan nya dengan sepenuh hati dan hidup saya."
"Ibu tidak tahu cara kalian berpacaran, tapi Ibu harap kalian bisa memegang tata krama, dan etika sopan santun yang baik, Ibu sama Romo percaya kalian sudah dewasa bisa memilih dan memilah mana yang baik dan tidak baik, mana yang wajar dan tidak wajar buat kalian."
Dr Prabu sama Retno sama-sama diam, dalam hati mereka penuh dengan pengakuan bersalah. Bahkan tadi juga apa yang mereka lakukan di mobil dan sebelumnya di pertemuan mereka berdua sudah keluar dari kewajaran pacaran menurut orangtua mereka.
Tapi dr Prabu dan Retno menganggap semua itu wajar sebagai bumbu dalam berpacaran, zaman sekarang dimana tontonan lebih dominan dari tuntunan membuat semuanya merasa wajar-wajar saja dan obat kala lama tak berjumpa.
Tak terkecuali Retno yang datang dari keluarga yang taat aturan dan berpegang teguh pada adat istiadat tata krama dan sopan santun. Karena dalam pergaulan tidak membawa nama ningrat dan nama besar keluarga mereka di belakangnya, tetapi dalam pergaulan hanya ada seorang Retno mahasiswi yang sama-sama nge-kost dan dr Prabu juga sama.
Dr Prabu masih diam bersama Retno menyimak obrolan serius mereka.
"Jadi Romo memutuskan akan berangkat besok bareng kita ke Bandung dan Nak Prabu tolong kabarin keluargamu agar mereka tidak terlalu kaget dengan kedatangan kami dari sini, dan pastikan mereka menerima kami sebagai calon besan." Romo nya Retno menambahkan ucapan Istrinya Raden Ayu Tri Hapsari.
"Baik Romo, akan aku kabarin kedua orang tuaku Semoga ini menjadi kabar baik kabar gembira bagi mereka. Juga pertemuan nanti akan membuahkan satu kesepakatan yang kedua belah pihak menyetujuinya."
Acara demi acara telah selesai dilaksanakan, sampai pada makan bersama sebagai rasa syukur atas terlaksananya acara dengan lancar. Lalu sebagian tamu dan kerabat mulai berpamitan Retno dan dr Prabu menerima ucapan selamat dan salam dari semua kerabatnya.
"Retno akan ada berapa orang yang akan ikut ke Bandung besok? soalnya itu akan menjadi pertanyaan kedua orang tuaku nanti."
"Paling dua mobil sama mobil Mas Prabu."
"Oh Ya sudah, aku ke kamar dulu ya, kamu mau ikut? aku mau telephon Ibu sama Bapakku."
__ADS_1
"Di teras aja, biar tak di pandang curiga sama orang lain Mas."
"Oh, iya takutnya kamu kangen sama aku yang lagi berpakaian gagah begini heee..."
"Ish... suka ngawur aja jadi orang."
Retno menemani dr Prabu menelephon kedua orang tuanya sambil santai di kursi teras depan. "Selesai sudah Retno, Alhamdulillah kedua orang tuaku dengan tangan terbuka menyampaikan terima kasihnya, juga siap menerima keluarga dari sini."
"Ya, biar aku sampaikan kembali kepada ibu sama Romo semoga mereka bisa tenang."
Malam pun beranjak temaram, menyisakan Retno dan dr Prabu bercengkrama di teras sambil memandang halaman yang benderang dengan penerangan lampu-lampu, sementara yang lainnya sibuk beres-beres.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
...Biarkan Aku Memilih Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Putri Cantik Milik Tuan Raymon"...
...By ZAFA baca, like,...
...vote dan beri hadiah...
...juga ya!...
__ADS_1