Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Tahu apa mereka?


__ADS_3

Seminggu kemudian...


"Halo Mas Prabu, sudah datang nih undangannya, Dimas lagi di kamar mess ku sekarang."


"Oh, ya ampun Retno kenapa adikmu nggak diajak ke sini ke ruangan ku? atau kalau nggak kita ajak ke rumah biar enak ngobrolnya."


"Nggak apa-apa Mas, di sini saja."


"Ya sudah, aku ke situ sekarang ya."


Klik! sambungan telephon putus. Dr Prabu bergegas keluar ruangannya menuju mess Retno yang dulu dipakai bertiga sama temannya saat masa KKN masih berlangsung.


Sekarang KKN yang sudah usai hanya diisi sama Retno sendiri karena masih belum mau untuk tinggal di rumahnya Mas Prabu. Dengan berbagai alasan yang sebenarnya hanya perasaan dirinya saja.


Siapa yang akan mempedulikan urusan orang lain? tapi itu semua tidak bagi Retno semua itu tetap dijaga nya, pembuktian pada dirinya sendiri juga sebagai kepercayaan dari orangtuanya, juga sebagai seorang pemegang adat dan tata krama yang baik.


Melihat ketetapan hati Retno juga cara mengingatkan kekasihnya semasa mereka pacaran, seperti layaknya mengingatkan dirinya sendiri, patut acungi jempol atas prinsip kuat yang dipegangnya.


Tak mau memulai sesuatu yang belum menjadi hak nya sebagai seorang istri, aturan benar-benar di pegangnya bahkan ada kata-kata yang membuat dr Prabu juga merasa lebih menghargainya.


"Jangan meminta dan memaksa apa yang tak kuberikan, karena kita tahu itu belum waktunya, sabarlah karena tantangan cinta salah satunya mungkin di situ."


"Pacaran berlebihan hanya akan menyisakan penyesalan, sehingga kita tak akan punya rasa penasaran lagi pada diri kita masing-masing."


"Tunggulah saatnya nanti, kita akan merasakannya bersama-sama."


Dr Prabu tersenyum sendiri, mengingat apa yang di ucapkan Retno dalam setiap jawaban percakapan mereka saat berduaan.


Sampai di kamar mess tampak Retno sedang memeriksa undangan, dan Dimas di seberangnya tersenyum menyambut kedatangan dr Prabu.


Setelah bersalaman dan basa-basi dr Prabu langsung nimbrung, melihat sumringahnya wajah Retno sepertinya surat undangan itu memenuhi dan cocok dengan keinginannya.


Meriksa hanya membacanya dan melihat design nya yang bagus lain dari yang lain.


"Mas Prabu, untuk di Bandung bukankah dr Imam yang sanggup dan akan bawa biar sambil apel sama Intan heee... dan Intan yang akan mengurusnya di sana nanti"


"Iya, sudah di pisahkan aja, buat di Bandung dan di sini."


"Yang di sini siapa yang ngurusnya Mas?"


"Aku sudah ngobrol jauh-jauh hari dengan suster kepala Miranti, antusias dia mau di kasih tugas heee..."

__ADS_1


"Beruntungnya kita ya Mas Prabu, banyak orang yang dengan sukarela membantu kelancaran acara kita. Di sana ada Dimas, katanya sudah di bagikan yang buat saudara di Pekalongan soalnya Romo nggak sabaran."


"Pasti, seperti nggak sabarannya kita juga."


"Mas, gimana kalau aku pulangnya bareng Dimas nanti Mas nyusul setelah beres di sini?"


"Nggak, nanti saja sama aku beda dua hari doang, aku malah nggak tenang kalau kamu jalan sama orang lain."


"Ini Dimas adikku, bukan orang lain."


"Besok aja sekalian sama aku, Aku nggak ada teman perasaan nggak enak aja tanpa kamu di sini, juga ada hal lain yang belum aku diskusikan sama kamu tentang resepsi nanti di sini."


"Iya Mbak, nggak usah maksa kalau belum beres, Romo sama Ibu pasti mengerti."


"Dia terkadang bandel Dimas, pindahin pakaian aja dia itu belum, jangankan tinggal bareng di rumahku, seperti itu keinginannya aku ikuti semuanya."


Dimas hanya tersenyum, dia bangga sama Kakak satu-satunya, karena mungkin kakaknya masih memegang teguh adat yang diterapkan orang tua mereka terhadap diri mereka masing-masing.


"Aku khabari dr Imam ya biar undangannya di bawa secepatnya."


Dr Prabu keluar melakukan panggilan telephon di luar, kelihatan bicara sangat serius dan menjauh dari kamar mess Retno.


Tak lama kembali ke kamar mess Retno dan berdiri di pintu.


"Retno sayang, aku ke kantor dulu ada perlu, apa yang buat ke Bandung undangannya sudah di pisah?"


"Sudah ini Mas."


"Aku bawa ya, biar nanti dr Imam ambil di kantorku"


"Eh Mas, sekalian aku pamit ya, sebentar lagi aku jalan repot di sana juga, soalnya Romo pesannya seperti itu."


"Apa nggak nginep dulu, bareng satu malam Dimas."


"Makasih Mas, mungkin lain kali saja."


"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, semoga cepat sampai dan selamat."


"Iya Mas, terimakasih."


"Maaf, aku jalan dulu ya, ada tamu yang mencariku."

__ADS_1


"Monggo, monggo Mas."


Dr Prabu berjalan sepanjang lorong rumah sakit dengan langkah panjang, dimana dr Imam telah menunggunya depan pintu ruangan dr Prabu.


"Ada hal penting apa rupanya Mam? sehingga begitu pentingnya dari acara pernikahanku?"


Dr Prabu menyimpan paper bag di meja sofa.


"Tenang dulu bos, silahkan duduk dulu walau ini bukan ruangan ku."


"Maaf, seribu kali maaf saya mendapat telephon dari Intan dan yang bicara adalah orangtuamu bos."


"Kok mendapat telephon dari orang tuaku, kamu minta maaf? maksudnya ada apa?"


"Orang tua Alya mendatangi keluarga bos di Bandung, Alya hamil mereka meminta pertanggung jawaban, jelasnya entah seperti apa. Yang pasti mereka telah memberitahu kedua orangtua bos."


"Hah?! apa?! brengsek banget, kenapa langsung ke orangtuaku? mereka tahu apa?"


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya!🙏...


__ADS_1


__ADS_2