Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Batik senada


__ADS_3

Hari jadi rumah sakit TMC puncaknya hari ini, semua pegawai rumah sakit sibuk dengan tugasnya masing-masing sebagai panitia pelaksana dr Imam SpOG dan suster kepala Miranti menjadi begitu sibuk luar biasa ingin mensukseskan acara itu.


Bila memungkinkan tak ada sedikitpun kesalahan tapi semua itu di luar kekuasaan kita nggak ada sesuatu pun yang sempurna, tapi minimal kita mengusahakannya dengan semaksimal mungkin agar semuanya sempurna seperti pandangan semua orang.


Retno memakai baju batik senada dengan dr Prabu, sepintas orang menyangka kalau Retno sudah menjadi istri dr Prabu. Bagi sebagian undangan yang tidak tahu sudah pasti menyangka itu adalah nyonya direktur.


Sebenarnya Retno merasa malu untuk mendampingi dr Prabu karena mereka hanya sepasang kekasih belum menjadi suami istri, tetapi karena didesak dr Prabu selalu mengatakan suatu saat juga kamu akan mendampingiku seperti ini dalam setiap acara resmi ataupun tidak resmi.


Akhirnya Retno mengalah juga, memang dipikir tidak ada salahnya untuk bisa menegaskan kepada orang lain kalau dirinya suatu saat akan berperan di rumah sakit ini.


Tinggi semampai langsing dengan penampilan mencolok dari yang lain otomatis menjadi sorotan setiap mata yang memandangnya. Jangankan kaum pria kaum hawa juga merasa senang melihat penampilan dan pembawaan Retno yang duduk dengan anggun di samping dr Prabu.


Dengan bangga dr Prabu memperkenalkan pada setiap yang bertanya dan tersenyum menggodanya.


"Mas, apa aku di sini tidak menyalahi aturan?"


"Aturan siapa?" Retno hanya diam memandang teman-temannya yang duduk bergerombol lengkap dengan almamaternya.


"Aku aja yang merasa, kalau aku merasa belum pantas berada di sini."


"Jangan banyak yang di rasa, rasakan satu rasa yang ada dalam hati kita, kamu mencintaiku dan aku sangat mencintaimu itu kenyataannya."


"Aku merasa belum saatnya saja Mas." Retno bicara sambil matanya tetap memandang ke depan dalam hatinya kenapa acara ini belum dimulai perasaan terlalu lama dirinya menunggu.


Dr Prabu menggenggam jemari Retno, juga tanpa melihat ke arah memandang wajahnya.


"Jadi saatnya yang pantas itu kapan?"


"Entahlah."


"Aku pikir, inilah saatnya semua di mulai dan dibiasakan. Saat ini juga aku menjadi orang yang paling bahagia walaupun kita akan pergi ke Pekalongan dua hari yang akan datang."


Retno mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Mas Prabu memang semua itu telah mereka sepakati bersama kalau 2 hari yang akan datang mereka akan pergi ke Pekalongan mungkin sejarah baru akan dicatat bagi mereka, dan titik awal serius hubungan mereka akan dimulai.


Sound pengeras suara pembawa acara membacakan mata rangkaian acara yang akan diadakan hari ini, dari mulai pembukaan sambutan acara inti pembagian hadiah dan penutup semua rinci telah menjadi susunan mata acara yang akan segera dimulai.

__ADS_1


"Kamu kelihatan pucat, apa nggak apa-apa?"


"Nggak, biasa aja."


"Kamu tadi kurang sarapan sepertinya ya, kenapa?"


"Malu."


"Lucu banget, kalau sarapan malu tapi di balik pintu nggak malu."


"Itu terpaksa, dan Mas Prabu yang memaksanya. Juga malu-maluin belum mandi main tangkap orang aja."


"Yang di tangkap malah yang merasa senang banget, ya kan?"


"Suka mengalihkan dan ngarang sendiri itu namanya."


"Iya deh, aku yang salah. Nanti malam nginap lagi ya?"


Spontan Retno memandang laki-laki di sampingnya itu dengan pandangan aneh, begitu tajam intuisi nya kalau dirinya harus lebih berjaga-jaga.


Dr Prabu tersenyum mengerti kegelisahan hati Retno dan juga ketakutannya belum pernah dari dulu juga mereka nginep bersama di suatu tempat bahkan tidur bersama di kursi seperti malam tadi pun baru mereka lakukan malam itu.


"Aku tidak perlu keyakinan dari Mas Prabu, kuharap aku dan Mas bisa mengerti dan menghargai posisi kita sekarang, walau kita berada di puncak kerinduan yang teramat dalam, aku mohon jangan rusak semuanya dengan ketidaksabaran."


"Ya, aku menghargaimu lebih dari apapun."


"Makasih Mas." Retno menarik nafas lega.


Sejak teman-teman nya tahu permasalahan Retno yang sebenarnya kalau dr Prabu pimpinan di rumah sakit ini adalah salah satu orang terdekat teman mereka, semakin segan saja mereka di buatnya terhadap Retno, semakin mereka tahu perjalanannya semakin kagum pada kedua pasangan itu.


Ternyata dan ternyata seperti itu kenyataannya, Retno adalah kekasih pimpinan di rumah sakit ini.


Dr Prabu menyodorkan makanan yang ada di kotak di depan mereka kepada Retno. Mereka memakan dan menikmati apa yang di suguhkan panitia.


Seketika mood dr Prabu menjadi turun saat menangkap satu sosok yang sangat dikenalnya, sedang berjalan bersama seorang temannya mengekor di belakang kedua orang tuanya yang datang ke sini sebagai tamu kehormatan.

__ADS_1


Ya siapa lagi kalau buka Alya! seorang yang menjadi duri dalam perjalanan hidupnya seseorang yang tidak begitu di sukai dari pembawaannya dari semua caranya bahkan yang terakhir dari semua kelakuannya.


Apa yang diinginkan Alya dengan hadir di hadapannya dengan memperlihatkan dirinya di sini, di acara rumah sakit ini padahal tidak ada kepentingan apapun kecuali dirinya tidak ada kerjaan.


Mengingat Alya menjadikan dr Prabu tidak tenang selalu ada yang dicurigai dari gerak-gerik dan tingkah laku Alya. Entah apa lagi yang diinginkan Alya setelah semua kejadian itu sampai saat ini belum ada satu katapun, belum pernah bertemu muka secara dekat sekalipun begitu dr Prabu tidak habis pikir, ingin segera kegiatan ini berakhir agar dirinya dan Retno bisa tenang tanpa ada lagi acara yang melibatkan pemerintahan dan instansi lainnya sebagai undangan kehormatan dalam acaranya.


Rupanya sedikit kegelisahan dr Prabu tertangkap oleh Retno.


"Entah kenapa aku tidak begitu suka dengan satu orang itu, yang selalu hadir nimbrung di acara tengah-tengah kita apa Mas tahu kalau aku tidak suka dengan Alya?"


"Biarkan saja. Tak semua orang mengharuskan kita suka, tetapi dengan tata krama dan etika kita bisa menyikapinya."


"Tapi ulat bulu gatal seperti Alya selalu mencari celah kesempatan untuk sesuatu yang dia inginkan."


"Sudahlah Retno, jangan terlalu berlebihan menilai orang jelek. Setiap orang beda-beda cara mengekspresikan keinginannya."


"Ya benar itu, tapi aku juga tak mau diusik dengan ulah rese nya.


Lihat saja aku bisa lebih liar dan kasar menanggapinya." Retno sedikit emosi.


"Ssssst... kita jangan bahas itu lagi, sebentar lagi aku ke podium menyampaikan pandanganku."


Pokoknya aku nggak terima, ingat itu Mas. Aku bisa merubah pandangan orang yang memandangku dengan lembut anggun dan berkepribadian menjadi seseorang diluar dugaan mereka jika harga diriku merasa terusik dan tersakiti."


"Iya, iya...tenangkan hatimu sudah aku menyampaikan pidato kita keluar dan tinggalkan acara ini."


Tak lama sampai pada acara sambutan direktur rumah sakit, dr Prabu meremas dulu tangan Retno. Lalu berdiri memberi hormat pada tamunya yang berjejer di deretan bagian paling depan kursi tempat duduk.


Terasa melayang kaki dr Prabu saat melewati Bapak walikota Sofyan Wijaya beserta Ibu dan seseorang yang duduk dibelakangnya mengamati dirinya entah dengan pandangan perasaan apa.


Dr Prabu mengangguk hormat sebelum sampai di podium yang telah disediakan lalu memberi salam kepada semua hadirin dan menyampaikan isi dari pidato nya. Mulai dari pembuka visi misi harapan rumah sakit ini dan sampai kepada penutup pidatonya.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...

__ADS_1


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel : "Impian Dira" author "husna_az" sahabat baikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...



__ADS_2