Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Sinyal kuat


__ADS_3

"Kita pulang Nak, semua akan terselesaikan." Bu Sofyan Wijaya mengusap airmata di pipi putrinya dengan sayang.


"Aku masih betah di sini Bu, Biarkan Aku Memilih, satu kesempatan yang tak mungkin bisa aku ulang kembali sepanjang hidupku di sini." Alya bicara meyakinkan Ibunya.


Tapi Ibu begitu khawatir dengan keadaanmu Nak ,cukup kamu mengabdi di sini, cukup kamu berbagi dengan sesama disini. Pikirkan Ibu sama Bapakmu yang begitu cemas setiap hari memikirkan mu."


"Bu, aku tidak bisa sekonyong-konyong pulang begitu saja ikut Ibu sama Bapak, tapi setidaknya ada hal yang harus aku selesaikan dulu.


Aku harus bertemu sama anak-anak dulu di pengungsian dan membekali dulu mereka dengan motivasi saat mereka kembali ke rumahnya." Alya memberikan pengertian yang begitu membuat kedua orang tuanya bengong.


Bapaknya mengerti dan mengangguk, tapi Ibunya masih saja ingin segera berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya. Kekhawatiran seorang Ibu tak bisa di sembunyikan.


Rendra hanya senyum dan Desty diam menatap sahabatnya.


"Mungkin begini Bu, Neng Alya akan pulang tapi setelah dia merasa telah menyelesaikan tugasnya di sini, bukankah begitu Neng Alya?" Ibunya Rendra berusaha menjadi penengah diantara keduanya.


"Iya, Bu aku begitu senang berada di tengah tengah anak-anak yang mulai begitu akrab dan selalu mencariku."


"Iya, biarin Neng Alya menikmati dulu suasana di sini, sampai dirinya merasa siap untuk pulang jangan khawatir Rendra anakku bisa menjemputnya nanti. Dia selalu bolak-balik, pulangnya bisa bareng nanti."


"Baiklah, Ibu mengizinkan, tapi jangan terlalu lama ya sayang. Pulanglah! tempatmu adalah di tengah keluargamu, Ibu sama Bapak begitu kehilangan, sampai sakit dan mungkin setengah gila karena memikirkan mu." Ibu Sofyan Wijaya berharap anaknya masih bisa luluh.


"Maafkan Alya Bu, Alya janji akan pulang tapi nanti setelah pamit sama anak-anak, ibu-ibu dan panitia, semua sudah seperti keluarga."


"Jadi lo nggak pulang ikut kita Al?" Desty menatap sahabatnya.


"Nggak dulu Al, sorry ada sesuatu yang harus gue selesaikan. Kita ketemu di sana saja nanti, kecuali lo mau ikut nimbrung kita di barak pengungsian yang mulai ada satu persatu yang pulang."


"Waduh, kan gue punya kerjaan, kalau nggak punya tanggungjawab gue mau banget."


"Sepertinya Bapak juga begitu Nak, Bapak sekarang tahu kamu dimana, berada di tengah keluarga yang begitu baik jadi Bapak merasa tenang, tinggallah di sini sampai kamu merasa kangen rumah sendiri, hanya Bapak menitipkan pada Nak Rendra biar nanti pulangnya bisa bareng."

__ADS_1


Desty berdehem, Alya merasa malu, Rendra seperti kaget, Ibunya Rendra tersenyum dan Bu Sofyan Wijaya mengangguk sambil memandang putrinya.


Suasana akrab kini terjalin sudah mereka bercerita tentang asal dan keluarga besar mereka masing-masing menjadi topik pembicaraan selanjutnya. Rendra Desty dan Alya berjalan-jalan di luar melihat dan bercerita bekas erupsi gunung yang masih terasa, pasir dan segala macam material yang sampai ke kampungnya.


Desty melihat ada sorot lain dari kedua pasangan insan ini, Alya yang seperti malu saat bicara sama Rendra tapi Rendra lebih bisa menguasai diri begitu menjaga perasaan Alya, berbicara sambil di selingi bercanda.


"Mas, mau berapa hari di sini?" Alya menatap sekilas Rendra yang ada di sampingnya.


"Berapa hari ya? perasaan aku masih betah." Rendra malah balik nanya dengan senyuman yang menawan.


"Sudah ngambil cuti aja, biar tambah betah, kan ada teman yang bikin betah heee ...." Desty berusaha menggoda keduanya.


Alya melotot pada Desty, yang malah nyengir sendiri.


"Boleh deh, aku ambil cuti barang beberapa hari, biar nanti kamu selesaikan semua tugasmu


kita bisa pulang bareng."


"Ehemght..." Desty merasa senang dan sinyal diantara keduanya semakin kelihatan kuat.


Di dalam rumah...


"Ya ampuuuuun... Bapak sama Ibu ternyata pejabat daerah, saya sekeluarga merasa terhormat kedatangan Bapak sama Ibu di rumah kami yang hanya begini keadaannya." Ibunya Rendra begitu merendah.


"Ish...jangan bicara begitu Bu, justru kami yang kagum pada keluarga di sini, Bapak sama Ibu bisa menjadikan anak, mendidik menyekolahkan sampai kuliah dan berhasil sampai jadi pimpinan salah satu Bank di daerah kami." Pak Sofyan Wijaya bicara sambil manggut-manggut.


"Alhamdulillah, mungkin karena anak kami pada pinter dan anak yang nurut sama orangtua, rezekinya juga tidak sulit, malah saya tidak di kasih tahu awalnya apa pekerjaan anak saya, karena setiap pulang Nak Rendra seperti saat masih kuliah saja, pulang naik bus, bawa ransel kucel kami sendiri tidak yakin dengan jabatannya."


"Ibu sama Bapak telah sukses mengantarkan anak pada kedewasaan, juga menjadikan anak sholeh, baik, dan sayang sama orangtua."


"Semoga seperti itu Pak." Ibunya Rendra tetap merendah.

__ADS_1


"Bapak sama Ibu menginap lah barang semalam di sini, biar saya bisa menjamu Bapak sama Ibu, jalan-jalan lah di sini, mau mancing ada kolam kami, mau potong ayam kampung ada, atau mau melihat-lihat ke barak pengungsian dulu sama Neng Alya barangkali monggo silahkan." Ibunya Rendra seperti memaksa.


Bapak dan Ibu Sofyan Wijaya berpandangan dan tersenyum lalu mengangguk tanda setuju.


Ibunya Rendra tak terkira senang hatinya, dan semakin yakin anaknya juga bisa mendengar apa yang di inginkan nya, Bukan seorang walikotanya, atau pejabatnya yang di pandang dari keluarga Pak Sofyan Wijaya, tapi dirinya seperti duluan sudah jatuh cinta pada sosok Neng Alya tanpa melihat masa lalunya.


Kebersamaan di rumahnya yang dilalui bersama, pagi-pagi membikin sarapan, dan beres-beres rumah, Alya lanjut ke barak kadang pagi bikin kue dulu untuk di bawa sebagian ke barak. Sepertinya Alya dikirimkan untuk menghangatkan rumah ini, dan memenuhi harapan dirinya untuk segera memiliki seorang pendamping anaknya, seorang menantu yang segala pintar.


Mamanya Rendra kelihatan bahagia banget, rumahnya jadi ramai dan semua tampak bahagia, dirinya menjadi yang paling sibuk ingin memberikan penghormatan pada tamunya menjamu dengan kekhasan daerahnya.


Satu lagi kebahagiaannya, sepertinya Rendra mengerti keinginannya, Alya itu kurang apa? cantik, pintar, segala bisa jangan pikirkan yang lain-lain apalagi masa lalunya, kita juga belum tentu jadi orang yang benar. Tatap dan mantapkan hati untuk masa depan.


Saat Rendra sama Alya sama-sama ke dapur Ibunya Rendra tersenyum, sepertinya kedatangan orangtua Alya membuka hati Rendra juga, Alya bukan dari keluarga berantakan itu saja sudah menjadi penilaian dan respon baik Rendra.


Alya membawa minuman buat Desty, mereka ngobrol di teras, Ibu sama Pak Sofyan Wijaya melihat kolam dan mengambil ikan juga menangkap ayam ayam bersama Bapaknya Rendra.


Rendra bersama Ibunya ngobrol di dapur, memang Rendra biasa seperti itu selalu membantu kegiatandan pekerjaan Ibunya apa aja.


"Ibu ingin tetapkan hatimu Nak, pandanglah Neng Alya secara dewasa, lihatlah betapa baiknya kedua orangtuanya Neng Alya, dan Ibu juga malah jatuh cinta duluan sama si Neng nya."


Rendra bersemu merah, memang di akui dirinya juga merasa tertarik, tapi sebelumnya ingin tahu keluarganya hanya demi kehati-hatian saja, tapi setelah tahu semuanya hatinya semakin yakin Alya adalah pilihannya, entah karena seringnya bertemu, ngobrol dan bersama-sama pergi berdua juga Alya begitu bisa beradaptasi dengan keluarganya dan tinggal di rumahnya.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2