Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Temani dr Imam sama Intan


__ADS_3

"Mas, Aku mau istirahat ngapain ikut naik, temenin dr Imam sama Intan ngobrol sekalian jadi Satpam bagi mereka, jiwa muda mereka mengkhawatirkan seperti Mas sendiri tak pernah merasakannya!" Retno bicara keluar kamar dari mandi, selalu begitu kebiasaannya mencuci tangan dan kakinya kalau habis keluar rumah.


Mencerminkan seorang perawat begitulah kebiasaan selalu ingin bersih dari penampilan dan barang-barang yang ada di dekatnya, semua itu retno selalu perlihatkan di hadapan suaminya dan terhadap orang lain termasuk suami sendiri bahkan bisa dibilang lebih bawel.


Entah kenapa selalu terasa gatal dan tak enak saat melihat seseorang jorok atau berperilaku kurang bersih.


"Ngapain nemenin yang lagi pacaran?" Dr Prabu malah merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Memandangi tiap gerak gerik Retno istrinya yang lagi hamil.


"Mas lap dulu leher sama ganti t-shirt nya, pasti ada rambut itu! aku nggak mau pada jatuh di seprai ku, biasanya potongan rambut itu gatal." Retno melirik suaminya yang lagi memandangi dirinya.


"Lap dong sama kamu, Sayang."


"Ya sudah, diam di situ buka kaosnya!" Dr Prabu tersenyum, melihat punggung istrinya balik lagi ke kamar mandi.


"Sama celananya nggak?" Dr Prabu manja banget menggoda istrinya, kelihatan banyak maunya. tapi Retno tahu semua serba dibuat-buat dan akal-akalan hanya untuk mengerjainya.


"Buka aja sekalian biar aku mandiin lagi, mau?" jawab Retno seperti ingin menantang suaminya.


"Nanti habis 'praktek' baru mandi bareng." seloroh dr Prabu. Retno mulai mengelap leher suaminya. Dan tangan dr Prabu mulai menelusuri area kesukaannya. Mengelus perut istrinya, menciumnya dan selalu seperti itu saat berduaan.


Dr Prabu seperti tak ingin kehilangan momen yang paling berharga di dalam hidupnya pengalaman pertama sepanjang hidupnya. Melihat perkembangan buah cinta mereka yang paling berharga, cucu pertama dari kedua belah pihak dari hitungan Prabu sendiri dan juga dari Retno karena mereka adalah anak pertama.


Jelas kehadiran seorang cucu adalah sesuatu hal yang sangat di tunggu.


Retno hanya diam, sambil mengelap leher dan sepotong punggung bagian atas tubuh suaminya, hanya sedikit potongan anak rambut yang kelihatan tersisa di situ.


"Mas! konsultasi sana sama dr Imam di bawah, Aku takut Mas belum bisa mengurangi jatah prakteknya, apalagi libur gini siang malam apa nggak bahaya buat kehamilanku?" seloroh Retno sambil mengusap pipi suaminya yang begitu licin dan bersih.


"Ngapain konsultasi pada dr Imam? paling dia nyaranin lanjutkan saja kalau sama-sama doyan, kalau istri dan kandungannya nggak ada keluhan nggak masalah, Aku juga tahu batasan Sayang kalau kamu merasa nggak nyaman Aku kurangi dikit aja ya!"


"Maksud Mas kurangi dikit itu gimana? aku takut apa-apa dengan kandunganku ini."


"Ssssst ... maksud Aku tarikannya nggak kencang-kencang amat, tapi jatah berkunjung tetap, hahaha...Aku juga seorang dokter Sayang walau bukan dr SpOG, sedikit banyak tahu walau tak mempelajari khusus tentang itu.


Kita melakukannya dalam keadaan aman sayang ...."


"Jadi sekarang mau lagi?" Retno seperti menantang. Beranjak membawa lap sapu tangan basah ke belakang


"Iya lah, sebelum bobo siang, jangan lama-lama simpan lapnya!" dr Prabu sedikit berteriak membuat Retno melirik dan memandang seperti seorang guru pada muridnya yang ketahuan nakal.


Retno tersenyum sambil beejalan menyimpan sapu tangan handuk ke kamar mandi.


"Aku hanya ingin mengusap-usap perut kamu dan anak kita," ucap dr Prabu setelah Retno kembali ke tempat tidur, dr Prabu masih belum berpakaian, terlihat atletis perawakannya dengan perut sixpack.


"Nggak usah banyak alasan mau yang mana-mana juga ayo." Retno membuka pakaiannya sendiri.

__ADS_1


"Gitu dong ..." Dr Prabu tertawa dengan senangnya.


Memeluk dan mengusap-usap perut Retno duduk dengan kepala di senderin ke bantal yang di tumpuk, Retno melihat-lihat ponselnya.


"Simpan dong sayang ponselnya." dr Prabu mengusap dan mencium kembali perut Retno yang sudah membesar.


"Mas mau ngapain?"


"Mau sesuatu yang masih di angan-angan dan khayal kan dr Imam sama Intan!"


"Iya ya Mas, dulu juga kita selalu berkhayal, bagaimana rasanya kalau sudah berdua seperti sekarang ini jadi suami istri."


"Jadi gimana rasanya sekarang?" tanya dr Prabu


"Nyaman, tenang, dan ...."


"Apa hayo?"


"Nggak mau jauh!"


"Sayang, sama aku juga nggak mau jauh, akyu semakin cinta sama kamu, kamu khayalanku sejak dulu sekarang ada di hadapanku."


"Mas Prabu, aku juga hampir nggak percaya, padahal kita telah menikah hampir setahun, dan ini adalah cinta kita." Retno menunjuk perutnya.


Dr Prabu mencium perut itu sekali lagi, "Sehat-sehat ya sayang, Mama sama calon Dedek nya, kalian adalah kebahagiaanku."


Kini mereka begitu siap menyambut masa depannya dengan kebahagiaan dan kesetiaan cinta mereka.


Menjalani kehidupan rumahtangga dalam manis madu cinta yang mereka reguk, tak pernah bosan setiap saat mereka menikmatinya.


Selalu ada ciuman, usapan dan belaian dan saling mendengarkan pendapat masing-masing dalam segala hal, ini rumahtangga kita jadi kita yang jalani semuanya, juga kita yang nikmati semuanya.


Pasang surut kehidupan telah mereka lalui dari masa-masa mereka pacaran, walau dalam rumahtangga belum genap satu tahun, tapi dr Prabu dan Retno ingin menciptakan kehangatan masa pacaran itu tetap ada dan selalu menikmati setiap momennya.


Dua suku yang berbeda, dua adat yang berbeda di satukan oleh cinta salam restu orangtua mereka mantap menapaki berdua mengarungi bahtera rumahtangga yang begitu indah.


"Mas!"


"Iya sayang."


"Kok malah pindah?"


"Aku maunya disini, 'Biarkan Aku Memilih' mana yang aku suka."


"Mas kalau bermain main di situ terus aku jadi nggak tahan."

__ADS_1


"Aku sengaja biar kamu nggak tahan sayang!"


"Tapi aku nggak tahan mau pipis."


"Ah kamu sayang, di kira mau penyelesaian akhir."


"Mas aku serius mau pipis dulu!"


"Titip aja pipis kamu di aku"


"Ah Mas, jangan suka ngaco gimana caranya?"


"Mau tahu caranya?"


"Nggak! aku sudah menduganya akan seperti apa."


"Silahkan pipis dulu nanti aku praktekan."


Dengan menahan tawa Retno bangun dan masuk ke kamar mandi. Hal wajar seorang Ibu hamil apalagi hamil usia mulai akhir masa-masa mau melahirkan, jadi sering buang air kecil.


Dengan tak sabar dr Prabu menyusul istrinya ke kamar mandi, dan membimbingnya kembali ke tempat tidur.


Mereka berciuman, memulai semuanya. Hari libur yang begitu menyenangkan bagi mereka, merasakan kebersamaan dalam penyatuan cinta kesenangan mereka.


"Mas itu bukan aku yang titip pipis, tapi Mas yang barusan titip di aku!"


Retno melirik suaminya yang kecapaian di sampingnya. Meraba mukanya yang tampak licin dan bersih.


"Mas!"


"Hemght ...."


"Mau lagi nggak?"


"Hah? yang bener aja sayang?"


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2