
Resepsi yang sangat melelahkan dengan tamu yang hadir begitu membludak, mau tidak mau membuat dr Prabu dan Retno tetap harus menebar senyuman kepada para tamu sebelum acara benar-benar usai sekitar jam 20:00 malam.
Dalam lelah tapi bahagia mereka meninggalkan ruang resepsi, yang terletak di halaman depan rumah megah model joglo modern itu.
Mereka tak menghiraukan apapun di tengah kesibukan panitia yang membereskan segala macam pernak-pernik dan peralatan pesta yang telah usai. Dan mereka pun tidak memperdulikan apa-apa selain tugasnya masing-masing yang menjadi tanggung jawab mereka.
Dr Prabu menggandeng tangan Retno saat berjalan memasuki kamarnya.
Dua gelas minuman mungkin jamu dan dua piring entah makanan apa menyambut mereka di atas meja rias Retno.
tok...tok...tok...
Mereka agak kaget walau memang belum ngapa-ngapain. Mereka berpandangan.
Retno bergegas membuka pintu munculah Ibu penata rias dan langsung masuk, pemandu tata laksana adat dan prosesi yang segala bisa itu meminta maaf sambil tersenyum penuh arti.
"Maaf ya, masih di ganggu sebentar saja kok, takut Ajeng nggak bisa buka dandanannya yang begitu banyak menempel ini, jadi Ibu bantu dulu sebentar."
"Kalau buka yang lain biar aku aja Bu heee..."
"Tentu, tentu saja. Ini hanya aksesoris dan kelengkapannya saja."
Ibu penata rias tak henti-hentinya tersenyum, Retno menjadi merona wajahnya dan begitu hangat muka dan hatinya.
Selang beberapa saat selesai sudah semuanya, hiasan dan aksesorisnya sudah masuk koper kecil.
"Satu lagi, sebelum memulai apapun itu bacalah do'a, dan jamunya itu jangan sampai lupa!"
Pintu tertutup kembali dan dr Prabu langsung menguncinya, menyergap Retno yang masih duduk depan cermin.
Membimbingnya berdiri dan meraih pinggangnya, memeluknya dengan penuh hasrat.
"Mas, aku bersih-bersih dulu kita coba minum jamunya juga, itu makanan bernutrisi khusus untuk stamina lho."
"Oh ya? semangat banget aku, sekarang mau memakannya."
"Mas makan, aku ke kamar mandi dulu ya, nanti kita gantian."
"Iya sayang, tapi beri aku satu ciuman panas mu, sekarang kita sudah jadi suami istri."
Retno jinjit mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya dan inisiatif memberikan kecupan ciuman hangat.
Lalu sekilat melepaskannya dan bergegas masuk ke kamar mandi, takut malah keterusan, sedang dirinya sudah tak tahan ingin mengganti pakaian dan mencuci muka.
Dr prabu mencium makanan dan minuman yang tersaji begitu apik, pakai tatakan kecil di tutup pula bagian atasnya.
Mencoba mencicipi, enak juga semacam dodol beras ada rasa rempahnya, ada yang asin juga ada yang manis, entah karena lapar atau enak dr Prabu makan lumayan banyak.
Retno keluar kamar mandi telah ganti pakaian tidur yang tipis hampir tembus pandang kalau saja warna terang, ini warna merah hati menjadi kontras dengan tubuhnya yang putih mulus.
"Mas udah makan? enak nggak?"
"Enak, tapi aku belum minum."
"Ayo kita minum, mungkin ini jamu penghilang capek."
Retno meminumnya dalam beberapa teguk.
__ADS_1
Dr Prabu mencium dulu lalu meneguknya. Ekspresi nggak enak di perlihatkan pada Retno sambil tertawa.
"Minuman apaan sih ini?"
"Enak?"
"Nggak."
"Tapi ini adalah sesuatu yang bermanfaat, bukti kasih sayang orang tua kita."
"Demi kamu dan malam ini, aku telah makan dan minum yang nggak enak ini."
Retno mendorong tubuh dr Prabu yang tak sabar memepetnya terus sambil tertawa. Biar ke kamar mandi dulu membersihkan diri.
Retno melanjutkan mencuci mukanya yang terasa tebal depan cermin dengan face tonic, lanjut menyemprotkan parfum kesukaannya.
Dr Prabu keluar kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan underwear yang di lilit handuk.
Retno meliriknya terkesiap, jantungnya langsung berpacu tak karuan, dada bidang berbulu dan perut kotak-kotak khas olahragawan membangkitkan gejolak hatinya.
Tak ada kata terucap saat dr Prabu menyodorkan tangannya dengan senyuman, Retno menyambutnya dengan sedikit panas dingin dan berdiri berhadapan.
Dr Prabu menarik tali gaun tidur Retno dengan perlahan membiarkan terbuka bagian depannya. Pemandangan indah memanjakan mata dr Prabu dan menarik daya tahan gelora asmaranya yang meronta.
Dr Prabu menempelkan tubuhnya seraya melepaskan pengikat dada istrinya dari belakang. Saat dada mereka yang telanjang bersentuhan tanpa jarak dada Retno terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, lalu memeluknya dengan memejamkan mata menikmati kehangatan yang pertamakali di rasakannya.
Tangan dr Prabu tak henti-hentinya mengusap punggung Retno yang sudah polos tanpa pengaman.
Tungkai Retno terasa lemas tak bertenaga, dalam keadaan berdiri membiarkan suaminya menyentuh apapun yang sudah menjadi haknya.
"Mas, jangan biarkan aku berdiri terus di sini, kakiku terasa tak bertenaga."
"Ish...Ya ampun, iya sayang maafkan aku."
Dengan entengnya dr Prabu membopong tubuh istrinya dan menidurkannya dengan hati-hati.
Tempat tidur warna pink yang di taburi bunga mawar dan melati menghadirkan harum yang meleburkan debaran hati kedua pasangan yang baru mau merasakan kenikmatan itu.
"Sayang, apa kamu bahagia malam ini?"
"Iya, Mas."
"Boleh aku buka semuanya dan ingin melihat keindahan mu?"
Retno mengangguk sambil tersenyum.
Dr Prabu membuka dengan perlahan satu lagi penutup area sensitif istrinya, menatapnya dan menyelusuri nya dengan ciuman panas di semua titik, dan berhenti di tiap titik tertentu.
Retno menggelinjang mencoba mengimbangi dan menahan gejolak rangsangan yang di lancarkan.
Entah dari mana semua harus di mulai, semua tampak menarik untuk di nikmati setidaknya itu yang ada dalam pikiran dr Prabu.
Memeluknya dengan penuh perasaan, mencium leher bibir dan bawah telinganya dan beralih ke dada yang begitu ingin berlama-lama menikmati dan merasakan itu.
Terasa kejang tubuh Retno dengan ******* halusnya, memberikan efek semakin semangat yang mengungkungnya.
Muka dr Prabu tenggelam diantara belahan dada Retno, begitu hangat, begitu lembut, dan begitu nikmat mencicipinya.
__ADS_1
"Mas, udah..."
"Bentar lagi sayang, aku masih nyaman di sini."
"Mas, ahhh."
"Apa kita coba yang satu itu?"
Retno tak menjawab hanya menggigit bibirnya sambil mengangguk pelan, merasakan sekujur tubuhnya seperti terkena aliran listrik menjadi kaku dan kejang menanti sentuhan selanjutnya yang Retno pun ingin menuntaskan nya memberikan sesuatu yang berharga buat seseorang yang dicintainya.
"Aku coba dengan pelan dulu ya..."
Penjelajahan mencapai finish nya, belantara belum terambah kini sudah terjamah sudah, menyisakan erangan kecil Retno saat suaminya berhasil melewati rintangan dan penghalang, menjadikan jalan itu bebas berlalu lalang.
Mereka berpelukan saat puncak gelora asmara telah mereka jajaki dan satu fase rumah tangga baru mereka mulai.
Dr Prabu mengusap peluh yang membasahi kening Retno dengan lembut, menciumnya dengan penuh perasaan, nafas yang masih belum teratur, berdua terlentang memandang langit-langit kamar.
"Sayang, sakit nggak?"
"Sakit."
"Maafkan aku ya." dr Prabu memeluk Retno yang agak sulit bergerak.
"Iya, Mas kenapa meminta maaf kan itu sudah hak Mas dan kewajiban ku sebagai istri untuk memenuhi kewajiban suami istri."
"Jangan sakit ya, kan itu baru permulaan."
"Tapi aku masih sakit."
"Awal-awal iya pasti sakit, tapi nanti jadi enak."
Retno tertawa sambil memeluk suaminya dan membenamkan mukanya di dada bidang itu.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta! habis baca...
..."Biarkan Aku Memilih"...
...Jangan lupa mampir ke karya...
...terbaik bertitel,...
..."Pesona Aryanti"...
...By Enis Sudrajat juga, baca, like,...
...vote dan beri hadiah ya!...
__ADS_1