
"Mbak Retno, Intan minta maaf ya kalau Intan nanti nggak bisa hadir di pertandingan semifinal Mbak Retno" Intan tiba-tiba hadir di hadapan dr Prabu dan Retno saat dr Prabu menggenggam tangan Retno.
"Oh. enggak apa-apa Intan kamu jadi pulangnya? kapan? terus enggak nonton juga dong nanti saat Kakakmu turun?"
"Kemungkinan enggak Mbak, sebenarnya ini juga sudah harus masuk tapi perasaan betah banget kalau lagi liburan, serasa tak ingin beraktifitas kembali."
"Sepertinya Intan disini sudah kena virus Mas Prabu." Retno setengah berbisik kepada dr Prabu.
"Tak salah lagi itu, walaupun kamu enggak Kakak ajak jalan-jalan ke mana-mana Intan, jujur Kakak minta maaf karena banyaknya kesibukan. Tetapi Kakak melihat liburan kamu kali ini adalah yang paling berkesan."
"Biasa aja, liburan ya begini santai tanpa beban, tanpa tugas, kenyang tidur, kenyang dengerin musik dan plus kenyang nongkrong di rumah sakit."
"Heeee... jangan gitu dong Intan, kan akhirnya di rumah sakit ini juga ada hati yang terpanah."
"Pokoknya Intan mau minta pendapat dan sekaligus ngasih tahu dan minta izin sama Kak Prabu sekalian juga sama Mbak Retno, kalau Intan sama Mas Imam sudah jadian." Intan berkata malu-malu.
"Sengaja cowoknya di umpetin dulu ya, baru kalau sudah dapat izin di panggil masuk gitu?"
"Aku nggak merasa diumpetin. Aku siap membuka diri dan membuka semuanya secara terang benderang, Maaf sebelum nya kami memang sudah menyatakan perasaan kami masing-masing dan kami akui kami sama-sama tertarik dan mungkin jatuh hati satu sama lain." Dr Imam datang ke ruang tengah menyusul Intan yang sudah duduk dari tadi.
"Aku sudah menduganya, cuman sebelum aku mengizinkan ada satu pertanyaan buat kalian berdua." dr Prabu berhenti sejenak dan menatap semuanya.
"Maksud kalian itu minta izin sama aku maksudnya izin pacaran, izin mau menikah duluan dan juga aku heran apa nggak terlalu cepat kalian menyatakan perasaan cinta?"
"Idiiiih... Kakak, menikah apaan pacarannya aja belum, lulus kuliah juga belum, mungkin Mas Imam minta izin pacaran."
"Ya kali aja, mau melangkahi aku."
"Maaf boss, sekalian sekarang aku deklarasikan deh, lo gue aku ganti jadi aku dan kamu demi adab sopan santun dan tata krama, dan izin aku sebagai sahabat menjadi adik yang baik."
"Sudah-sudah aku tahu dan mengerti semuanya, pacaran-pacaran aja!"
"Kok Kakak begitu sih izinin nya?"
"Emang harusnya bagaimana?"
"Intan juga nggak tahu, tapi sepertinya ada yang lebih baik lagi daripada kata-kata Kakak yang seperti itu 'pacaran-pacaran aja!' seperti nggak ikhlas gitu?"
__ADS_1
"Harusnya begini? Dr Imam aku ikhlaskan adik aku Intan Juwita berpacaran sama kamu dengan syarat satu, jaga dia baik-baik, jangan kecewakan dia, jangan sakiti dia dan kalau sampai itu terjadi kamu akan berurusan sama aku! Dua..."
"Iiiiiiiiiih...Kakak udah ah, pokoknya Intan udah bilang, intinya cuman itu."
Intan menarik dokter Imam keluar lagi dan membiarkan kakaknya kembali berdua bersama Retno.
Terdengar suara mobil dihidupkan dan tak lama mereka menghilang mungkin dr Imam mengajaknya jalan-jalan entah kemana mungkin perpisahan sebelum Intan pulang besok.
Dr Prabu sama Retno berpandangan setelah Intan dan dr imam keluar dan mereka senyum-senyum berdua. Angan mereka ingat saat dulu mereka jadian juga saat awal-awal mulai berkenalan sampai pada pacaran yang di awali dengan tidak sengaja.
"Apa rencana mu dalam waktu dekat ini sayang?"
"Sebaiknya apa, Mas?"
"Begini saja, kamu ajuin dulu surat pindah kerja kamu, pindah ke sini, karena kuliah sudah masa-masa akhir mungkin selesai KKN ini tidak memerlukan intensif ke kampus dan itu masih bisa via telepon jika tidak ada yang urgent kan tidak mengharuskan tiap hari tatap muka paling yang dihadapi kamu saat ini adalah persiapan skripsi."
"Kalau aku nggak bisa kerjanya pindah ke sini gimana?"
"Itu gampang, aku tahu Pak Burhan, masa iya tidak ijinkan kamu pindah kesini."
"Jadi seandainya aku bisa pindah ke sini, kuliah aku yang jadi jauh dong?"
"Itu mah senangnya Mas Prabu aja."
"Kamu juga senang juga kan?"
Retno hanya diam terasa berat memang menjalani semuanya setelah sekian lama di tempat kerjanya dengan suasana yang sangat akrab. Atasannya Ibu Harni juga teman-teman sesama perawat dan juga di tempat tinggalnya terasa Bu Harni yang sudah seperti orangtuanya, semua itu akan menjadi suatu kehilangan bagi Retno.
Juga di sisi lain selain kuliahnya menjadi jauh walaupun tinggal akhir-akhir masa kuliahnya, tetapi tetap membayangkan betapa jauh antara tempat tinggalnya sekarang di Tasikmalaya dan kuliah harus ke Bandung Retno jadi berpikir lagi dan entah bagaimana solusi terbaik yang ditemukannya.
"Sudah nggak usah terlalu dipikirkan, sambil berjalan aja kita merencanakan semuanya."
"Iya, Mas."
"Retno kapan kamu terakhir pulang bertemu kedua orangtuamu, dan bagaimana kondisi Romo mu saat ini?"
"Aku sudah lama banget Mas, Romo ku sekarang berangsur sehat kembali, aku hanya dapat kabar dan selalu bertelepon dengan Ibuku, waktu awal-awal Romo ku masih menentang dan aku memutuskan menentang balik atas keinginan Romo ku, waktu itu aku masih merasa terpuruk. Aku putuskan untuk tak akan pulang, akan tetapi aku mendapat kabar kalau Romo ku jatuh sakit aku pernah satu kali entah di bulan apa aku sempat pulang menyempatkan diri keluar dari rutinitas dan aktivitas sehari-hari."
__ADS_1
Dr Prabu hanya diam.
"Tadinya aku biarkan Romo ku dalam kemarahan, aku juga ya itu sama-sama marah, sampai akhirnya Romo ku sakit aku pulang telah melihat perubahan..."
Retno menatap dr Prabu dalam bicaranya.
"Romo ku telah menyadari bahwa tindakan menolak Mas Prabu saat itu adalah kesalahan, diprotes sama aku dengan pergi dari rumah dan tak pulang-pulang dan keluar dari ekonomi masuk keperawatan. Menjadi satu tohokan yang jauh dari perkiraan orang tuaku dan juga keluarga besarku."
"Aku berontak saat itu, membenci siapapun termasuk Mas Prabu sendiri dalam 5 tahun ini aku hanya beberapa kali pulang selebihnya aku hidup sendiri."
"Terus bagaimana sekarang menurut perkiraanmu sikap kedua orang tuamu dan keluarga besarmu memandangmu saat ini?"
"Aku hanya bisa mengadu kepada kanjeng Ibu dan aku mendapatkan satu keyakinan dari seorang Ibu kalau Romo ku sudah memaafkan ku, menerima apa yang aku pilih dan mungkin Mas Prabu juga."
Dr Prabu tersenyum, merasa penantian Retno dan perjuangannya telah memberikan hasil yang begitu manis.
Dr Prabu mengusap tangan Retno dan menggenggamnya. Ingin bersama dan tetap bersama memberikan kekuatan yang lebih lagi.
"Berarti kalau kita pulang dan aku melamar kamu kembali aku nggak bakal ditolak lagi?"
"Sepertinya tidak Mas karena Ibu pernah berkata begini ditelepon, 'Pulanglah bawa kembali pilihanmu karena Romo telah mengijinkan."
Dr prabu mengangguk dan tersenyum.
"Tapi waktu itu aku malah sedih jangankan membawa Mas Prabu kembali kepada kedua orang tuaku, bertemu saja tidak pernah atau mendapatkan kabar pun tidak."
Dr Prabu memeluk Retno dengan erat, ingin melepaskan semua beban yang begitu berat di hatinya juga hati Retno. Ingin menatap masa depan bersama akankah semua berjalan seperti yang diharapkan, hanya harapan terbaiknya dari lubuk hati terdalamnya.
"Mungkin karena syok, Romo ku sakit."
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai doping up nya 🤦😆💝🙏
Sekalian rekomendasi ya pembaca setiaku, boleh di baca juga novel berkarakter temanku, 'Simfoni Temaram Takdir' karya
terbaik author Tita Dewahasta,
Like, komen, hadiah, vote dan kedipan mata juga boleh 😆😆😆
__ADS_1
Baca, baca, baca!!!