
Sore hari Alya sedang santai di dalam kamarnya tiduran sambil melihat-lihat ponselnya, mengingat pertemuan tadi siang dengan dr Prabu yang terasa aneh.
Ya, memang sekarang di rasa aneh, tak seperti dulu saat dirinya mengejarnya dengan segera cara dilakukannya agar menarik perhatian, dan bisa mendapatkan hati dari dr Prabu.
Kini hanya perasaan bersalah yang memenuhi ruang dalam hatinya, kini kemana rasa itu hilang dan pergi? Alya tidak tahu mungkin hilang oleh perasaan bersalahnya atau juga karena status dr Prabu yang sekarang telah berkeluarga dan punya istri?
Alya berpikir berkali-kali untuk mencintai orang yang telah berkeluarga, satu kesalahan yang begitu menyakitkan saat dirinya mencintai seorang dr Prabu yang tidak mencintainya. Berarti dirinya telah mencintai orang yang salah.
Menghadirkan masalah dan mendatangkan petaka bagi dirinya, keluarganya ikut terseret arus permasalahan, merasakan terpuruk, malu kecewa dan segala rasa nggak enak dari akibat perbuatannya. Itu disadari betul sama Alya kini.
Bayangan seorang Rendra di pelupuk matanya menari dan berputar di atas langit-langit kamar menjadi sketsa yang tergambar dengan jelas segala yang telah di lakukan Rendra selama ini pada dirinya, dari mulai dalam perjalanan bus malam dan kebersamaan mereka di sini. Menggantikan sosok dr Prabu yang dulu begitu dipujanya, sampai-sampai begitu ingin memilliki dengan cara apapun.
Rendra kenapa kamu begitu memenuhi ruang otak dan perasaanku? kenapa tak bisa hilang? apa mungkin dia juga mengingatku?
Alya tak berani jauh berharap walaupun Ibunya Rendra selalu begitu antusias saat berbicara tentang anaknya, yang sekarang telah menjadi pimpinan cabang dari sebuah bank swasta di Kota Tasikmalaya.
Semua pernyataan dan obrolan Ibunya Rendra begitu mengingatkan Alya akan sosok Rendra yang begitu lembut saat bicara dan begitu sayang pada kedua orangtuanya. Alya yang awalnya tak mengira Rendra seorang Kepala cabang sebuah Bank swasta di kira Alya Rendra hanya pegawai rendahan biasa, mungkin seorang pekerja kasar lainnya, tetapi tak disangka ternyata Rendra adalah seorang pimpinan dari kantor cabang sebuah Bank terkenal.
Alya sadar diri, dirinya tak mau jauh menggantungkan harapan dan menitipkan rasa pada seorang Rendra. Alya sadar terlebih dirinya hanya raga dan tubuh yang mungkin sudah tidak berarti dan memiliki arti lagi bagi seorang laki-laki sebaik Rendra. Alya menyadari siapa dirinya, tak pantas untuk di cintai karena kesalahannya sendiri.
Rendra seorang laki-laki sederhana yang terbaik di matanya. Tapi setidaknya mereka telah menjadi sahabat baik dan itu akan tetap Alya jaga sampai kapanpun.
Rendra telah menyadarkan dirinya dari kesalahan, Rendra telah membawa perubahan bagi dirinya untuk bisa hidup keluar dari keterpurukan, Rendra telah mengangkat dirinya dan memberi tempat layak dan penuh kasih sayang di rumahnya, Rendra telah membawa dirinya kepada pendewasaan saat dirinya dititipkan di rumah orang tuanya, begitu banyak kebaikan yang tidak bisa dihitung sama Alya.
Ada perasaan aneh dan nyaman dalam hati Alya saat dirinya berboncengan ke barak pengungsian, dan juga saat dirinya diantar untuk mengontrol kehamilannya.
Perasaan aneh tak bisa di jabarkan artinya, hanya Alya merasa ada rasa damai dan tenang juga nyaman saat ada Rendra di dekatnya.
__ADS_1
Rendra seorang kepala pimpinan cabang sebuah Bank swasta begitu mengagetkannya, Alya masih merasa ragu apa yang di ungkapkan Ibunya waktu itu. Malah hampir nggak percaya.
Alya tertidur dalam lamunannya, sampai sampai ada yang memberi salam di luar tak begitu di hiraukan nya antara ingat dan tidak Alya kembali tertidur.
Ibunya Rendra melongok keluar dan menjawab salam. Serasa nggak percaya Ibunya Rendra melihat anaknya pulang, dengan seorang bapak-bapak, dan dua orang perempuan paruh baya dan sesama Neng Alya satu orang.
"Oh alah, anak Ibu sudah pulang lagi?"
Ibunya Rendra menyambut kepulangan anaknya dan memandang semua tamu yang dibawanya. Tak aneh memang sejak dulu zaman sekolah dan kuliah Rendra selalu membawa orang-orang baru ke rumahnya, baik itu temannya atau sesama penyuka naik gunung yang satu hobi dengan mereka.
"Bu, Alya Ada?" Rendra pertama yang di tanyakan hanya Alya.
"Duduk dulu apa, ajak tamunya juga duduk." Ibunya Rendra tersenyum melihat anaknya seperti dalam kecemasan.
"Bu, itu orangtuannya Alya." Rendra bicara seperti berbisik.
"Alhamdulillah, kamu bisa membawa mereka ke sini Nak."
"Ibu, Bapak juga temannya Alya, sebelumya saya mohon maaf kemarin lusa itu ada kejadian yang membuat kami merasa kaget dan tegang, berawal dari Neng Alya bikin kue-kue untuk dibagikan kepada anak-anak di barak pengungsian. Dia bersikeras ingin mengantar nya sendiri diantar sama anak tetangga naik motor dengan bawaan yang banyak, mungkin karena keberatan atau tidak seimbang atau jalan yang jelek akhirnya Neng alya jatuh tidak jauh dari barak pengungsian yang ada di kantor Desa."
"Astaghfirullahaladzim, gimana keadaannya sekarang Bu apa Alya baik-baik saja?" Ibu Sofyan Wijaya tak bisa menahan diri untuk segera tahu khabar anaknya.
"Ibu, Bapak tenang dulu, Alya tidak apa-apa hanya kemarin itu Alya mengalami pendarahan mungkin karena akibat jatuh, Alya di bawa seorang dokter relawan ke rumahsakit, tapi sayang kehamilannya harus mengalami keguguran dan sudah di tangani. Dokter melakukan tindakan kuretasi dan Alya sekarang ada di kamarnya sedang istirahat."
"Astagfirullah Pak...hiks...hiks...
hiks...Desty, Alya keguguran. Ya Allah kamu sendiri di sini Nak jauh dari kami orangtua, merasakan sendiri berada di rumahsakit dalam keadaan seperti itu."
__ADS_1
"Tenang Bu, Alya akan baik-baik saja." Pak Sofyan Wijaya memeluk istrinya sambil mengusap-usap punggungnya.
Rendra terpekur sendiri di kursi terpisah. Desty hanya diam dalam kesedihan entah apa yang asa dalam pikirannya.
"Bu tolong saya antar menemui Alya, aku begitu banyak salah juga pada dia, hingga dia berada di sini mungkin itu juga salah kami sebagai orang tuanya yang tidak bisa memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk berada di rumah."
"Alya sudah mulai tenang dan sehat kembali, mari saya antar ke kamarnya." Ibunya Rendra berjalan duluan menuju satu kamar yang ditempatin Alya.
Ibunya Rendra berjalan diikuti Ibu Sofyan Wijaya, membuka sedikit pintu yang tak rapat di tutup terlihat Alya sedang tidur.
Dengan kesedihan yang tertahan Ibu Sofyan Wijaya mendekat pada putrinya yang terbaring, Air matanya tak bisa di bendung.
Tangannya mengusap kepala putrinya, seketika Alya terbangun dan kelihatan sangat kaget mendapati Ibunya ada di atasnya dengan linangan air mata.
"Ibu? Ibu sama siapa? kapan datang?" Alya bangun memeluk Ibunya sambil menangis juga.
"Maafkan Alya Bu, Alya banyak salah."
"Ssssssssst..., Ibu, Bapak, sama Desty sudah dengar semuanya, sudahlah segalanya telah terjadi telah berlalu, kita tatap masa depan dengan harapan baik."
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️