
"Ella aku belum bisa istirahat dengan tenang kalau aku belum minta izin sama suster Harni, kenapa ya aku begitu ceroboh? perasaan kemarin ponselku aku masukin saku jaket tapi nggak ada."
"Minta saja izin supaya bisa nelephon dari kantor sama Mas Prabu mu itu Mbak, pasti ada nomor telephon tempatmu kerja kan masih satu naungan."
"Aku bukan siapa-siapanya lagi Ella, bahkan mungkin aku bukan orang yang pernah di kenalnya."
"Itu mungkin perasaan Mbak Retno saja, yang sebenarnya mungkin tak begitu, saya melihat kepanikan Mas Prabu mu itu kemarin, juga semalem gimana rasanya waktu di bopong?"
"Yang aku rasakan hanya sakit jiwa dan ragaku Ella, hilang semua rasa yang aku simpan selama ini mendapatkan kenyataan seperti ini." Retno kelihatan sedih sambil makan bubur yang nggak ada rasanya.
"Mungkin Pak Prabu ada unsur bercanda kali Mbak."
"Bercanda bukan seperti itu Ella, sudahlah semua akhirnya aku temukan kebenarannya, tak ada yang di tunggu lagi, tak ada harapan lagi yang nyata Mas Prabu sendiri sudah dengan perempuan lain sekarang."
"Sabar Mbak mungkin jalannya Mbak bertemu dengan Pak Prabu harus seperti ini, kita hanya berencana tapi Allah lah yang mengatur dan menentukan segalanya."
Retno menyudahi makannya dan meminum obat, mencoba merefresh otak dan fikirannya dengan tidur, bergidik rasanya saat dr Prabu membopong dengan panik tubuhnya, nafasnya beradu dengan nafasnya yang jaraknya hanya beberapa centimeter saja,njuga saat Retno masih sadar dr Prabu menggenggam tangannya dan di simpan di mulut dan hidungnya dan berkali-kali mencium keningnya apa rasa itu masih ada?
Waktu menunjukkan jam 10 pagi Retno bangun dari tidurnya yang lelap, setelah minum obat pagi-pagi tadi dengan perasaan tubuhnya agak lumayan mendingan enak dan agak ringan tapi masih tetap lemas, masuk seseorang dr Imam SpOG dan sudah tersenyum sejak membuka pintu.
"Hai, gimana khabarnya kok malah di rawat bukankah kemarin sudah mendingan?"
__ADS_1
Retno hanya tersenyum kecut.
"Tahu nggak dari pagi entah berapa kali dr Prabu menengok kamu yang masih tidur bolak balik saja seperti ayam mau bertelur heee... kelihatan banget khawatirnya."
"Siapa yang di khawatirkan orang munafik itu dokter? aku atau siapa? semua sama munafik nya seperti dr Imam sendiri!" dr Imam tertegun Retno bisa bicara begitu pedas.
"Sama-sama brengseknya mengerjai aku seakan akan belum tahu siapa aku, padahal kalian dokter-dokter yang terhormat tahu siapa aku! pura-pura baik mengajak berteman menggali informasi dan bertanya ini itu pasti dr Imam di suruh dr Prabu kan?"
"Retno aku tidak seperti itu, aku akui dari awal kamu KKN aku tahu siapa dirimu, dr Prabu memberitahukannya padaku, tolong bedakan aku dengan dr Prabu bahkan aku tidak mendukung dr Prabu mengerjai mu waktu itu aku tulus ingin berteman dengan mu."
"Aku tak bisa mempercayai siapapun di rumah sakit ini semua pada gila, ada yang pura pura baik, juga yang jelas-jelas tak suka juga ada, terimakasih untuk persahabatan pura-pura nya dr Imam! aku bisa jadi gila di sini dan aku tak akan memperpanjang masa KKN ku di sini, aku ingin pulang ke Bandung."
"Retno! kamu harus mendengar penjelasan, baik dariku suster kepala Miranti juga dari dr Prabu sendiri, apa kamu tahu dr Prabu juga sama tersiksanya seperti kamu, menunggu dan menunggu khabar dan mencari kamu, kenapa sampai saat ini dia masih sendiri dan juga kamu juga masih sendiri? itu karena kalian masih saling cinta!"
"Retno, Retno! kamu salah besar menilai aku, dr Prabu, dan suster Miranti kamu tak akan mengerti kalau tak bisa memberi kami kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
"Aku tak mau lagi penjelasan apapun melihat dan mendengar nama-nama itu dr Imam hatiku sudah kelewat sakit! dan berdarah, apa yang ada di depan mataku kemarin dan sebelumnya itulah kenyataannya, aku ingin pulang, aku begitu terhina di sini aku kecewa, do'a-doaku, penantianku selama lima tahun terjawab sudah, aku ingin hidup untuk diriku sendiri dan mulai memikirkan masa depanku bukan menunggu masa lalu yang menyakitkan."
Datang dr Prabu dengan perasaan tak menentu berusaha menenangkan amarah Retno.
"Retno sayang kamu kan lagi sakit, harusnya istirahat bukan emosi dan marah-marah seperti ini sudah-sudah istirahat lagi ya biar aku tungguin."
__ADS_1
Retno malah bangun dengan beringas dan mata berair merah seperti macan lapar yang di bangunkan dari tidurnya.
"Hai dr Prabu yang terhormat, apa yang kamu inginkan dariku sekarang? aku tidak akan pura-pura seperti kalian, seperti orang bodoh yang sembunyi di balik mejanya, aku Raden Ajeng Retno Ayuningtyas anak Raden Haryo Atmojo berani meninggalkan rumah dan orangtua demi mengejar cintanya, aku menentang titah orangtuaku sendiri, menentang satu keramat di hidupku yaitu Romo ku sendiri aku pergi dari rumah dan mencoba hidup sendiri dalam penantian yang entah sampai kapan, aku tak terima perlakuan orangtuaku pada orang yang aku cintai saat itu, aku protes keras pada orangtuaku aku keluar kuliah dari ekonomi dan beralih ke kesehatan dengan harapan akan lebih bisa mudah bertemu dengan kekasihku."
Retno berhenti dan menangis pilu sambil menepis tangan tangan yang menenangkannya.
"Apa kalian tahu? Romo ku marah dan tak membiayai hidupku, aku hidup sebatang kara hanya dengan sahabat-sahabatku, Romo ku syok mengetahui aku tak pernah pulang dan aku pindah kuliah, akhirnya Romo ku sakit- sakitan sampai sekarang, apa pengorbananku belum cukup? untuk sebuah kata cinta yang aku pertahankan? mulai detik ini aku lepaskan cincin ini dr Prabu, aku tidak akan memakainya lagi, aku benci kalian semua! aku hanya ingin meminta maaf pada Romo ku aku bersalah telah menentang nya hanya untuk memperjuangkan seseorang yang malah menginjak-injak harga diriku."
Retno membuka dan membanting cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin terpental entah kemana, Retno benar-benar sakit hati dan terluka.
Dr Prabu menyergapnya memeluk Retno erat-erat dan tak melepaskannya walau Retno berontak sekuat tenaga, hatinya perih mendengar pengakuan Retno dan perjalanan panjang dalam kesendiriannya menanti dirinya, dr Prabu mengusap-usap dan menenangkannya dan memberi kode pada dr Imam untuk mengambil air minum yang dari tadi hanya berdiri melihat dan mendengar Retno memuntahkan amarahnya.
"Minum dulu sedikit saja biar kamu tenang."
Retno masih mengatupkan kedua bibirnya dengan gigi di satukan, perasaan marah benci dan lainnya masih menguasainya, semakin benci dan ingin keluar berlari sejauh mungkin saat suster kepala Miranti datang menjenguknya.
Suster kepala Miranti tertegun saat melihat pimpinan dr Prabu sedang memeluk suster Retno yang lagi menangis dan mengurungkan niatnya menjenguk sambil mencolek tangan dr Imam suster kepala Miranti mengajak dr Imam keluar ruangan.
"Menangis lah aku tidak melarang kamu menangis, biar hatimu sedikit lega." dr Prabu memandang wajah yang selama ini selalu di hatinya, kini berurai air mata di hadapannya.
Retno balas memandang wajah simpatik dan tampan itu dengan perasaan benci, dasar wajah penuh kepura-puraan dalam hati Retno berkata dan mengumpatnya.
__ADS_1
"Aku telah mendengar semuanya, hanya kata maaf yang aku mohonkan padamu, dan satu lagi lihat aku juga selalu memakai cincin ini walau kamu telah melepaskannya dan membuangnya."
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝