Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Memilih diam


__ADS_3

Retno keluar di gandeng dr Prabu, setiap berpapasan dengan semua orang pada mengangguk sopan, dan bersikap begitu hormat begitu terpesona dengan keserasian antara Retno dan dr Prabu yang begitu ramah pada siapa saja yang ditemuinya, terpaksa Retno juga berusaha tersenyum walaupun pada kenyataannya begitu di paksakan.


Hatinya masih saja kesal dengan kecerobohan suaminya dalam bersikap, Retno tak mau hal apapun terjadi pada rumah tangganya kini, cukuplah semua cobaan menjelang awal pernikahan mereka dan setelah mereka menikah Retno merasa tak rela rumah tangganya ada yang mengusik siapapun itu.


Cukup di rasa Retno semua cobaan terberatnya, usai sudah semuanya tak ingin terulang lagi, perlu perjuangan lima tahun menanti sampai akhirnya cinta sejati mereka bisa bersatu dengan berbagai rintangan dan hambatan akhirnya mereka bisa melintasi satu demi satu cobaan, melewati sampai pada gerbang rumah tangga mereka yang kini dijalani.


Apapun akan Retno perjuangkan dan hadapi dengan sekuat tenaganya apapun itu yang merongrong kebahagiaannya.


"Nggak bertemu dulu dengan Intan?" tanya dr Prabu sambil melihat Retno di sampingnya.


"Nggak! Aku mau pulang saja mungkin Intan juga lagi sedikit bermasalah dengan dr Imam, Aku tak mau menambah dengan permasalahan kita yang begitu nggak enak," ucap Retno tidak melihat ke sampingnya.


"Urusan Intan bukan urusan kita, biarlah Dia dewasa belajar menyelesaikan permasalahannya, semua akan ada waktunya," tutur dr Prabu melirik pada Retno di sampingnya.


"Tapi setidaknya Adik tak usah tahu kelakuan Kakaknya yang tidak menjadi contoh dan teladan yang baik, kasihan Intan mungkin akan menjadi satu pikiran di tengah masalahnya sendiri." Retno bicara membuat dr Prabu tertegun, menyadari kalau semua perbuatannya menyakiti istrinya.


Ada rasa lain mungkin kalau sudah jadi pasangan suami istri, ada apa-apa akan masuk ke perasaannya mungkin suatu pertanda yang datang tanpa bisa di kendalikan.


Sesuatu yang jarang Retno main dan datang ke rumahsakit, tapi kenapa siang itu begitu bertepatan, tepat saat Alya ada di hadapannya satu meja dan sedang ngobrol walau bukan ngobrol hal lain, tapi di hadapan Retno istrinya semua itu tetap salah.


Merasa bersalah dr Prabu, memilih diam, demi menenangkan hati istrinya.

__ADS_1


"Ya sudah, mau tunggu di mana ikut ke parkiran apa tunggu di lobby depan?" Retno tak menjawab berjalan saja ke lobby seakan malas sekedar bicara pada suaminya, hatinya masih saja kesal Mas berapa seolah mengentengkan masalah, padahal bagi orang yang memanfaatkan kesempatan begitu mudah cara itu untuk dimasuki.


Retno tidak suka dengan segala yang ada di diri Alya selain sama-sama seorang perempuan tetapi seperti Alya tidak mencerminkan status sosialnya yang begitu tinggi di antara orang-orang sekitarnya dia menghancurkan harga dirinya dan reputasi keluarganya demi ambisi yang sebenarnya semua semu.


Bencinya Retno sama Mas Prabu hanya demi sopan santun dan tatakrama juga etika yang di junjung tinggi malah sendirinya dijatuhkan dan dimanfaatkan.


Dr Prabu mengerti kemarahan istrinya, semua tak akan terulang lagi, jatuh pada kesalahan yang sama seharusnya semua harus bisa diantisipasi.


Mobil dr Prabu masuk melewati halaman lobby rumahsakit, Retno membuka pintu dan naik tanpa sedikitpun bicara.


Dr Prabu menelephon dr Imam kalau ponsel Intan ada di kantornya, sedang dirinya memberitahukan mau mengantar Retno pulang.


"Mau ke pasar dulu nggak? beli buah atau apa aja sekalian keluar? tanya dr Prabu melirik Retno yang duduk di sampingnya.


"Atau mau makan di luar?" tanya dr Prabu lagi menawarkan.


"Aku sekalian mau pergi jauh," jawab Retno sekali menjawab membuat dr Prabu meliriknya.


"Mau ke mana? tinggal bilang mau ke mana juga biar Aku antar," jawab dr Prabu melayani Retno yang bicara masih dengan kemarahannya dan menyindir dirinya.


"Aku mau pergi dimana tak melihat orang-orang yang bersandiwara dan begitu memaksakan diri memasuki rumahtangga kita, Aku merasa tak bisa hidup dengan nyaman di tengah orang-orang munafik yang mencari alasan mengikuti keinginannya," jawab Retno begitu kena di hati dr Prabu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa Kamu marah seperti itu? apa sudah hilang semua kepercayaan dan rasa yang pernah kita miliki bersama-sama? jangan bicara seperti itu, jangan menyakiti diri sendiri Aku tak bisa hidup tanpa kamu, berulang kali Aku mengatakan kepadamu dalam kehidupanku sekarang Aku tidak berpikir apa-apa hanya pekerjaan, keluargaku dan buah hati kita Aku berusaha untuk membahagiakan Kamu kalau ada sedikit permasalahan itu adalah proses, tapi Aku bukan orang yanga sepeti kamu sangka, hanya kamu dan buah hati kita yang ada di hidupku," ujar dr Prabu sambil menepikan mobilnya dengan perlahan. Pikirannya menjadi tidak fokus menerima keluhan, protes keras dan komplain dari istrinya


"Aku merasa akan ada masalah datang ke dalam rumahtangga kita, entah itu sugesti atau feeling atau entah apa lagi, Aku hanya merasa nggak enak hati, cemas dan perasaan nggak nyaman lainnya, sebelum ke rumahsakit juga Aku bimbang antar tidak ponsel Intan apa telephon saja Mas Prabu? tapi kenyataannya Aku datang juga dan mendapatkan kenyataan yang tak mengenakkan. Lantas Aku berpikiran akan seperti apa kalau Aku tidak datang? dan Mas Prabu akan semakin jauh mendengar curhatan si Alya mendengar pembicaraan yang sebenarnya itu tidak penting," Retno bertutur segala uneg-uneg nya.


"Jangan bicara begitu Retno Sayang, jangan terlalu berburuk sangka seperti itu," jawab dr Prabu memegang bahu Retno.


"Itu pengalaman Mas, jujur apa yang kalian obrolkan tadi soal apa? tak mungkin bicara pekerjaan karena kalian berbeda profesi tak mungkin kalian hanya berbasa-basi saling bertanya kabar untuk apa? paling si Alya bicara tentang hati dan perasaannya, mungkin juga rumah tangganya yang belum di karunia anak, mungkin juga ketidak harmonisan rumahtangganya karena sebagian hati dan perasaannya tertinggal di hati Mas! Apa pentingnya bagi Mas mendengar semua itu?" cecar Retno begitu pandai menerka dan semua itu benar adanya.


Deg! dr Prabu seperti di tonjok dengan tonjokan yang sangat keras tepat di jantung hatinya.


Semua omongan Retno benar adanya memang dirinya tidak ada kepentingan untuk berbicara apapun dengan Alya, Alya dan kisah masa lalunya adalah sesuatu yang telah membuat dirinya sadar kalau dirinya begitu mudah diperdaya, masa lalunya yang seharusnya ditutup untuk apapun tetapi dr Prabu selalu berpikir dan melihat kharisma orang tuanya Alya yang penguasa di wilayahnya menjadikan semua itu berubah sikapnya seketika di hadapan Alya.


Dr Prabu diam Retno benar banget dalam hal ini, seharusnya itu adalah sesuatu yang harus di hindarinya.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2