
Dr Imam dan dr Prabu berjalan berdampingan ke luar dari GOR.
"Tadi belum sempat di jawab pertanyaan nya sorry Boss."
Dr Prabu melirik dr Imam dan menunggu jawabannya.
"Itu anak-anak KKN lagi mau ada acara kerohanian malam nanti pengajian di mushola rumahsakit."
"Ketemu Retno tadi?"
"Heeee... iya." dr Imam nyengir sendiri.
"Apa bareng dari Bandung-nya habis malam mingguan ke sini?"
"Nggak dia datang sendiri siang agak sorean gue pulang malamnya juga."
"Jadi sekarang tugas kamu menjaga dia, ini perintah atasan dan sahabat."
"Maksudnya?"
"Aku ingin dia baik-baik saja."
"Haaaaaaaa..."
"Apa boss percaya sama saya?"
"Terpaksa, bukannya percaya."
"Oke, gue terima mandat ini."
"Kirim no telephon Retno."
"Waduh, emang boss belum punya?"
"Terus apa yang kamu dapatkan informasi tentang Retno?"
"Banyak boss."
"Ayo kita mampir ke cafe, walaupun kamu kalah kali ini pengecualian aku yang traktir."
"Haaaaaaaa... boss bisa aja."
"Jujur kamu tak mencintainya kan?" dr Prabu menatap dr Imam penuh selidik setelah duduk depan depanan dan melihat sekeliling cafe yang lumayan rame
__ADS_1
"Wah, kalau itu gue nggak berani boss gue justru punya " janji hati" sama Retno juga sama boss sendiri, gue nggak akan serius dengan jalan hidup gue dan seorang wanita sebelum melihat boss selesai dengan Retno apa itu berakhir atau bersatu kembali."
"Kok kamu ikut-ikutan punya janji hati segala?"
"Gue ikut-ikutan aja heeee...dan prihatin maaf boss, dengan cerita perjalanan boss dan Retno." dr Imam balik menatap sahabatnya.
Dr Prabu diam.
"Intinya kalian sama-sama masih mencintai, dan tersiksa dengan kerinduan dan tak bisa pindah ke lain hati, saling menunggu khabar mau sampai kapan? boss tahu siapa Retno tapi Retno belum tahu di mana sekarang keberadaan dr Prabu Seto Wardhana!"
Dr Prabu hanya diam. Cerita dr Imam sama seperti cerita suster kepala Harni di Bandung waktu itu semua menceritakan kesetiaan Retno menunggu sesuatu yang tak pasti, dan Retno tetap saja pada keyakinannya suatu saat pasti akan bertemu.
"Gue kasihan sama Retno, sepertinya gue menangkap konflik antara Retno dan keluarganya."
"Maksudnya?"
"Gue nggak tahu jelas boss tapi seperti itu kelihatannya, dari cara Retno selalu mengalihkan saat bicara tentang keluarganya."
Dr Prabu diam dan mengocek jus yang tinggal setengah lagi.
"Akhiri semuanya boss agar bisa melihat apa reaksi Retno, setelah tahu siapa yang ada di depannya."
Dr Prabu masih diam dan akhirnya mengajak dr Imam pulang tanpa memberi jawaban atas pertanyaan yang baru saja di omongkan nya, dr Imam maklum dan hanya mengikuti saja, bangkit berdiri dan menuju area parkir mereka berpisah di situ.
Satu yang ingin segera dr Prabu tahu, setelah sekian lama Retno sendiri tanpa menata masa depannya dengan siapapun apa sikap kedua orang tuanya sudah mencair kah? atau masih pada pendiriannya dengan prinsip kolotnya dan dengan mengikuti alur leluhur dan keturunannya?
Hanya Retno sendiri yang tahu jawabannya, dan kelihatan Retno jarang pulang juga dengan kesibukan dan kepadatan yang terlihat sendiri oleh dr Prabu.
Terlihat Retno semakin kurus saja mungkin capek atau dengan beban perasaan atau juga masalah keluarganya, atau masihkah dia puasa senin kamis nya seperti masa-masa dulu saat kuliah bareng dengan dirinya, mungkin juga sudah nggak lagi melihat kesibukannya dan seakan perputaran waktu itu begitu kurang bagi Retno dan padatnya jadwal mengharuskan punya stamina yang ekstra.
Mengingat semua itu sakit dada dr Prabu, kehidupan Retno saat ini habis dengan memburu waktu dan di perjalanan menuju dan pulang daru kegiatan KKN dan bekerja, tapi walaupun agak kurus tak menghilangkan kecantikan putri darah biru ningrat Jawa nya, diantara sekian banyak mahasiswa dan suster-suster tetap Retno paling bening dan mengkilat.
Sebelum pulang dr Prabu mampir ke barber shop langganannya dan membabat habis semua jambang kumis dan jenggotnya yang hampir sebulan ini tak di urusnya, juga merapikan rambutnya sekalian, terasa ringan di wajah dan kepalanya juga terlihat kelihatan muda ah...!
"Akhirnya di pangkas juga boss heee... geli ya pada takut anak-anak kecil?" celoteh tukang cukur yang sudah begitu akrab.
"Tadinya buat bersembunyi dari kenyataan, tapi tak nyaman."
"Wajah ganteng memang tak bisa di sembunyikan boss haaaa..."
"Ah kamu bisa saja, buktinya saya masih sendiri sampai saat ini."
"Boss nya aja yang nggak mau dan membuka hati kali, cewek cewek pada ngantri boss."
__ADS_1
"Kayak di pembagian sembako gratis saja ngantri, ngaco aja kamu!"
"Iya boss, boss ganteng banget tapi tak memanfaatkannya heee..."
"Memang kalau kamu ganteng mau seperti apa?"
"Wow, pasti sudah mencari yang cantik-cantik biar mereka ngantri minta di pacari heee...gini-gini juga muka pas-pasan aku punya dua pacar boss."
"Busyet, kemaruk banget kamu buat aku satu dong!"
"Haaaaaaaa..."
Dr Prabu seneng banget mendengar obrolan tukang cukur di barber shop itu polos dan apa adanya, terlepas bualan atau kenyataan tapi dirinya selalu terhibur dan orang itu nggak tahu siapa sebenarnya dr Prabu, hanya akrab saat lagi kontak ada perlu saja, akrab memang satu keharusan untuk yang berurusan dengan layanan publik biar kita tidak monoton walau hanya sekedar basa-basi dan ngobrol hal yang ringan-ringan saja.
"Habis bulu tangkis boss?"
"Bukan habis mencangkul!"
"Haaaaaaaa... boss bisa saja masa habis mencangkul bersih gini."
"Lagian tanya ya lihat-lihat dandanan dong."
"Apalagi jago bulu tangkis pasti cewek-cewek tambah ngantri kali boss."
"Kamu bisa main bulu tangkis nggak?"
"Nggak boss, dari keluar sekolah aku belajar cukur-mencukur, orangtuaku bangga anaknya jadi tukang cukur."
"Ya payah, belajar sana biar ceweknya nanti pada ngantri, terus kalau sudah ngantri yang dua tadi mau di kemana kan?"
"Ya, mau di koleksi saja boss haaa..."
"Koleksi itu perangko sama duit kuno bukan cewek, sudah sudah selesai semuanya kan?"
"Iya boss, silahkan sisir sendiri dan kelihatan banget boss sekarang ganteng maksimal."
Dr Prabu mematut dirinya di cermin, terlihat garis membayang bekas jambang kumis dan jenggotnya dan dr Prabu serasa melihat dirinya lima tahun ke belakang dan yakin kini semua orang akan mengenalinya.
Dalam perjalanan pulang teringat Intan adiknya, beli apa ya kira-kira yang Intan suka aku nggak tahu banget selera anak sekarang, cowok seperti dirinya paling makanan yang standar saja seperti martabak atau kue-kue di toko bakery gitu males lihat antrian seperti minuman yang lagi viral dan makanan yang lagi heboh dan kebanyakan makanan seperti itu rasanya pedas pedas, nggak masuk banget di selera dr Prabu, malah ada makanan dan minuman adopsi dari Thailand, dari Korea sudah banyak sekali dan semua tak kenal semenjak dirinya nggak punya cewek dan jarang jajan juga makan-makan.
Soal makanan dan jajanan dr Prabu yang terlintas di fikirannya adalah sosok seorang Retno, dengan kesederhanaannya masih mau saja menghidangkan tempe mendoan dan coklat susu hangat, apalagi di makan dan minum saat hujan, dan di sampingnya ada kekasih tercinta yang menyandarkan kepalanya di sebelah pundaknya, benar-benar tempe mendoan dan susu coklat hangat menjadi satu moment yang sangat sakral.
Biarin lah biar si Intan pesan sendiri paling aku mau beli buah buahan saja, yang paling gampang dan pasti di makan.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan votenya✌️💝