Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Harapan seorang Ibu


__ADS_3

Pembicaraan mereka di kursi teras didengar oleh Ibunya Rendra dari dalam. Ingin rasa hati Ibunya berbicara langsung di hadapan keduanya seperti apa keinginannya seperti apa juga harapannya.


Ibunya mendengar semua pembicaraan sejak mereka datang dan duduk duduk di kursi teras depan rumahnya.


Kurang lebih sebulan Alya tinggal di rumahnya tidak memperlihatkan kesalahan sedikit pun, juga tidak memperlihatkan kalau dia gadis yang kurang baik, rajin membantu beres-beres rumah, membantu di dapur, dan rajin juga beribadah juga pulang pergi pamit, sedikit cela di mata Ibunya Rendra gadis seperti Alya kenapa sampai hamil duluan? dan minggat dari rumah. Satu lagi siapakah orang tuanya kenapa tidak mencarinya orang mana dia?


Itulah yang ada dalam pikiran kedua orang tua Rendra terhadap Neng Alya, begitulah Ibunya Rendra biasa memanggil, dan saat ini dirinya menemukan fakta lain di kedua mata anak dan gadis yang dibawanya sebulan lalu ke rumahnya ini, ada sorot lain dari keduanya.


Juga hanya dengan alasan ingin menyampaikan donasi anaknya belum genap sebulan sudah pulang kembali apa karena Alya? atau memang karena di kampungnya lagi ada bencana alam? entahlah.


Sudah berapa lama mereka berteman dan sedekat apa mereka sebelumnya?


Akhirnya Alya masuk duluan ke kamarnya, mungkin mau mandi duluan setelah ngobrol sekian lama dengan Rendra di teras depan rumah.


Kini giliran Ibunya yang duduk di samping Rendra sambil mengusap pundaknya, Rendra mengerti Ibunya seperti apa, seperti ada yang ingin dibicarakan pada dirinya dan Rendra membuka peluang untuk mendengarkan.


"Kamu sudah pulang Nak gimana kabarnya di barak pengungsian? apa jembatan yang diperbaiki sudah terhubung dengan desa sebelah?"


"Alhamdulillah Bu semua lancar, sekarang jembatan sudah bisa dilalui walaupun dalam keadaan darurat yang penting logistik bisa sampai kepada orang-orang yang membutuhkan."


"Syukurlah, Nak. Ibu mau bicara, apa kamu tak keberatan seandainya Ibu banyak pertanyaan untukmu?"


"Oh, nggak Bu silahkan ada apa?"


Rendra balik memandang Ibunya.


"Soal Neng Alya, Ibu tidak tahu apa ini kecemasan Ibu saja sebagai seorang Ibu terhadap anaknya, Ibu hanya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan yang Neng Alya? kenapa orangtuanya tak mencarinya? kenapa pula dia malah meninggalkan rumah dalam keadaan hamil seperti itu? apa tidak ada musyawarah dengan keluarganya?"


"Ibu, itu di luar kewenangan kita untuk bertanya terlalu jauh akan masalahnya, tapi setidaknya aku sebagai sahabatnya tahu sedikit banyak tentang ceritanya, biarlah Alya tenang dulu, biar dia sendiri yang mengambil keputusan nya. Saya sebagai sahabat hanya memberikan saran yang menurut pemikiran aku baik tapi kan belum tentu baik menurut pemikirannya."


"Nak, apa kamu menyayanginya?"


Deg!

__ADS_1


"Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"


"Ibu melihat keakraban diantara kalian tetapi Ibu tidak bisa memastikan apa diantara kalian ada riak riak tersambung satu rasa? Ibu tidak tahu."


"Ibu, aku belum terpikirkan ke arah situ apalagi dengan Alya yang saat ini dalam banyak masalah, kalau pun aku berpikir ke arah situ mungkin bukan Alya orangnya."


"Kenapa Nak? carilah tahu kedua orang tuanya pastikan dia keluarga baik-baik kenapa tidak kamu mencoba untuk menjadi penolongnya? dan rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya setelah kalian bersama-sama."


Deg!


Kenapa Ibunya berkata seperti itu sungguh Rendra tidak tahu apa maksud Ibunya. Apa Ibunya menjodohkan dirinya dengan Alya? sesuatu yang tak terpikirkan oleh Rendra dirinya harus mencintai seorang wanita yang hamil tanpa identitas yang jelas dari mana, siapa dia hanya tahu dari mana asalnya saja.


"Lalu kapan kamu akan mulai serius membina hubungan dan lebih jauh membina rumah tangga? Ibu Bapakmu semakin tua. Ibu setuju kamu menikah dengan siapa pun asal dari keluarga baik-baik dan dengan orang yang sama punya tujuan baik untuk berumahtangga, menyayangimu dan menyayangi keluargamu apa yang kamu tunggu? bekerja sudah, kehidupanmu sudah layak, Ibu lihat hidupmu sederhana banget rajin menabung untuk apa uangmu itu Nak?"


Rendra terpekur sendiri mendengar ucapan yang disampaikan Ibunya, memang ada benarnya dirinya telah dewasa untuk ukuran seorang laki-laki. Telah mapan dalam kehidupan dan karir tetapi untuk mencintai Alya seseorang yang hamil diluar nikah dengan anak yang dikandungnya apa dirinya siap?


"Ibu tolong, jangan bicara begitu aku memang belum punya pacar dan calon istri yang bisa aku kenalkan pada Ibu tetapi setidaknya aku sedang berusaha mencari yang terbaik."


"Aku belum memikirkan itu Bu."


"Lalu kapan kamu mulai akan memikirkannya? ada seorang perempuan baik di hadapanmu kenapa tidak jadi pemikiran mu Nak? walaupun dia tidak sempurna kebaikannya, walaupun punya masa lalu kelam tapi bisa kamu bimbing untuk menuju ke arah yang lebih baik."


Semua kata-kata Ibunya tidak ada yang salah. Hanya satu kekurangan Alya punya masa lalu yang belum bisa dimengerti nya belum bisa dipahami dan belum bisa diterimanya, itu saja.


Tapi kenapa dirinya pulang sebelum satu bulan sebelum dua bulan dari kebiasaannya sebelumnya? kalau bukan karena Alya yang ada di rumahnya?


Rendra tidak jujur pada dirinya akan hal ini.


Semuanya malah bikin pusing Rendra. Tadinya Rendra berpikir Ibunya akan berbuat kurang baik terhadap Alya tetapi sebaliknya kenapa Ibunya bersikap di luar dari perkiraannya?


Ibunya malah mendukung dirinya untuk bisa lebih dekat secara pelan-pelan, bahkan untuk bisa menjadi penolong bagi Alya mungkin menyelamatkan harga dirinya. Mungkin kalau secara gamblang jadilah suaminya sebagai penolong untuk menutupi kehamilannya tidak ada salahnya memang seperti itu tetapi hatinya apakah siap?


Apa karena Ibunya begitu mendamba seorang menantu? seorang perempuan yang dirinya bawa kerumah sebagai calon seorang istri apakah Ibunya terlalu terobsesi sehingga memudahkan masalah? tetapi tidak ada salahnya juga memang dirinya harus tahu asal-usulnya dulu yang sebenarnya siapa Alya orang mana dari mana dan orang tuanya ada.

__ADS_1


"Ibu aku Mandi dulu belum ashar."


"Pikirkan apa yang Ibu katakan itu semata-mata untuk kebaikanmu, untuk kebaikan Alya juga kalau kamu ikhlas menjalaninya akan ada kebaikan tolonglah seseorang yang dalam kesusahan suatu saat tanpa diperkirakan kamu akan ditolong oleh seseorang tanpa diduga-duga."


"Iya Bu, akan coba Rendra pikirkan walaupun mungkin langkah pertama bukan mengiyakan kata-kata Ibu, tetapi Rendra ingin tahu dulu dari mana dia berasal, di mana orang tuanya, di mana rumahnya, aku akan mencari tahu dulu itu."


"Ibu tahu sikapmu akan seperti, Ibu tidak memaksamu hanya ibu memberikan referensi seandainya terpikirkan seperti yang Ibu pikirkan."


Rendra tersenyum bimbang.


"Mandilah kita nanti makan bareng, Ibu sudah masak yang enak kapan kamu berangkat lagi?"


"Besok Bu."


Ibunya Rendra tersenyum memandangi putra kesayangannya beranjak dan masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, Masa Lalu Sang Presdir


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


__ADS_1


__ADS_2