
Ibu Sofyan Wijaya berkunjung ke cafe nya Alya. Karena dari kemarin Alya tidak pulang-pulang, dengan alasan sibuk dan banyak kerjaan jadi tanggung untuk pulang, tutup cafe sudah malam sekalian langsung tidur saja di cafenya.
Bukan karena tak biasa, Alya memang sudah biasa tidak pulang kalau saat sibuk, capek dan banyak urusan lainnya. Tapi Ibu Sofyan Wijaya merasa ingin pagi ini menengok anaknya yang dari kemarin nggak pulang-pulang.
Sengaja datang agak siang sedikit karena takut tidak ada yang membuka pintu, karena cafe baru buka sekitar jam sembilan pagi. Naluri seorang Ibu memang bekerja sangat baik membaca akan segala hal yang ada pada diri anaknya.
Saat Bu Sofyan Wijaya datang cafe sudah mulai buka baru di awal-awal masih pada bersih-bersih dan penataan segala yang ada di dalam maupun di luar halaman yang di jadikan parkiran.
Satu pegawai cafe berlari kecil membukakan pintu saat tahu Ibu Sofyan Wijaya datang turun dari mobil di antar sama seorang sopir. Sambil membungkuk pegawai cafe itu tersenyum mempersilahkan masuk.
Seperti yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu, Ibu Sofyan Wijaya melihat-lihat sekeliling ruangan yang selalu berubah-rubah untuk menambah suasana baru di dalam cafe itu.
Waktu terakhir kesini penataannya bukan seperti ini, dan ini memang ide anaknya Alya, yang selalu memberi kejutan dengan pencapaiannya.
Ibu Sofyan Wijaya tersenyum sendiri saat memasuki ruangan khas anak muda, semua properti semakin bertambah dengan segala hiasan dan lampu-lampu yang mungkin membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di cafe itu.
Di tambah dengan ruangan mini dengan peralatan musik, organ juga drum yang terpajang. Sekarang selalu di suguhkan musik life tiap malam atau malam-malam tertentu mungkin.
"Neng Alya masih di atas ya?"
"Oh, Iya Bu."
"Mau saya antar ke atas Bu?"
Seorang pelayan perempuan menawarkan jasanya kepada Ibu Sofyan Wijaya untuk mengantarnya ke atas tetapi Ibu Sofyan Wijaya menolak malah duduk di salah satu kursi meja cafe dan melihat jam dinding takut kedatangannya mengganggu istirahat putrinya.
Memang seharusnya jam segini orang-orang kebanyakan sudah bangun dan sudah beraktifitas tetapi lain dengan Alya. Kalaupun di rumah juga susah untuk dibangunkan terkadang Ibu Sofyan Wijaya perlu waktu lama hanya untuk mengingatkan subuh dulu nanti tidur lagi tapi mungkin rasa tanggung kalau tidak datang dari hati semua akan susah.
Setelah puas melihat-lihat semua keadaan di bawah Ibu Sofyan Wijaya beranjak naik ke tangga ke lantai dua. Semua lantai dua diperuntukkan untuk gudang dan satu kamar yang begitu luas untuk tempat istirahat Alya.
Satu kamar yang begitu lengkap dengan segala macam peralatan komplit layaknya sebuah rumah tangga, tempat tidur, lemari pakaian, meja rias, kursi di balkon depan, sofa mini, televisi dan segala perangkat yang menunjang kebutuhan kehidupan Alya.
"Sayang. ini Ibu, kamu bangun sudah siang."
Tok ...tok ...tok...
Ibu Sofyan Wijaya dengan sabar menunggu pintu dibukakan dan mengulang kembali memanggil dan juga mengetuk pintu.
"Al. Alya, bangun sayang!"
Setelah sekian lama baru terdengar ada pergerakan di dalam anak kunci dibuka dan Alya melongokan kepalanya melihat siapa yang datang dari balik pintu, dengan muka khas bangun tidur yang masih sangat ngantuk.
__ADS_1
Ibu Sofyan Wijaya menerobos masuk. Sama seperti di bawah tadi menyapu semua ruangan dengan pandangannya ke semua sudut kamar besar anaknya, semua tertata begitu rapi.
"Ibu sama siapa ke sini?" Alya mengikat rambutnya duduk bersila di tempat tidur.
"Itu Pak Udin."
"Oh."
"Iya begitu, kalau bangun tidur jangan dulu kemana-mana duduk bareng 5 menit agar menyetabilkan tekanan darah dulu baru bergerak, apalagi bangun langsung mandi itu sesuatu yang dilarang menurut dokter.
Alya menarik nafas dalam, saat Ibunya mengatakan kata dokter.
Seakan mengingatkannya pada seseorang yang ada di pikirannya.
Alya beranjak. "Mandi dulu ya Bu, nanti kita sarapan bareng, Ibu mau apa?"
"Apa aja."
Alya masuk kamar mandi dan Bu Sofyan Wijaya membereskan tempat tidur. menyimpan kembali sapu lidi di atas lemari dan biasa mungkin seorang Ibu untuk melihat sesuatu di kamar anaknya, menengok meja rias, membuka lemari yang sedikit berantakan.
Tak banyak pakaian yang disimpan di situ. Ibu Sopyan Wijaya matanya tertuju pada satu kantong plastik besar di bawah pakaian yang digantung lalu mengambilnya dan mengeluarkannya, satu sprei mungkin pasti kotor dan belum sempat Alya membawanya untuk dicuci di rumahnya, lalu membawanya turun dan keluar Pak Udin menyimpannya di bagasi mobil.
Setelah lama menunggu. akhirnya Alya turun juga. Tampak cantik dengan celana panjang coklat slim dan atasan cream berkerah santai longgar, memberikan sedikit pengarahan pada karyawannya, semua personil cafe sudah siap dengan tugasnya masing-masing dan Alya menghampiri Ibunya yang lagi melihat lihat cafe dari luar.
"Ayo Ibu ikut aja." Ibu Sofyan Wijaya memandang anaknya.
"Ke bakery aja ya, kita sarapan di sana."
Tanpa menjawab lagi Alya sama Ibu Sofyan Wijaya naik ke mobil yang di bawa pak Udin, dan Pak Udin sigap membukakan pintu buat Ibu Sofyan Wijaya.
"Sibuk banget sampai jam berapa kalau malam?" Ibu Sofyan Wijaya melirik anaknya yang sejak naik mobil dan mobil berjalan diam saja.
"Sampai jam sepuluh, kalau malam minggu sampai jam dua belas."
"Ada musik live kok Ibu nggak tahu?"
"Baru dua minggu, hanya di akhir pekan."
"Oh."
Hening.
__ADS_1
Alya sibuk dengan ponselnya. Ibu Sofyan Wijaya tidak mengajak lagi mengobrol karena respon dari anaknya seakan tidak lagi mood untuk mengobrol. Entah karena masih pagi Alya belum begitu kelihatan bergairah atau karena dibangunkan dengan setengah paksa karena kehadiran dirinya? Ibu Sofyan Wijaya hanya diam.
Menjalani hari mulai dari menengok Alya anaknya, membangunkannya, menunggunya dan menemani sarapan di toko bakery nya dan menemani Alya memberikan arahan pada karyawan bakery nya. Mengecek semua pesanan tak terasa hari menjelang siang.
Satu keheranan yang membuat Ibu Sofyan Wijaya, Alya kelihatan pucat entah karena kecapean atau lagi kurang enak badan, Sarapan juga tak kelihatan seperti biasanya bahkan saat Ibu Sofyan Wijaya bertanya tentang Desty sahabatnya Alya tak begitu merespon dan menjawab singkat-singkat.
Semua itu tak luput dari perhatian Ibu Sofyan Wijaya, tapi walaupun begitu Ibu Sofyan Wijaya tidak bertanya terlalu jauh tidak berani bertanya lebih lagi kepada anaknya takut malah menjadi beban bagi Alya. Melihat kesibukannya dari pagi terus mengatur orang-orang, melihat pesanan tak terasa Alya kembali lagi ke cafe sambil bawa hasil produksinya kue-kue untuk memenuhi konsumsi pelanggan di cafenya, haripun sudah siang.
"Jangan nginep di cafe lagi Neng, jadi kurang istirahat nanti pulang ke rumah ya."
"Iya Bu."
"Kamu tuh kelihatan lesu banget, nanti sore pokoknya pulang makan di rumah, Ibu masakin sop kesukaan mu."
"Paling Alya bisanya malam Bu."
"Jangan terlalu malam nggak baik tiap malam kurang tidur, jadi pola hidupnya nggak beraturan.
Kamu jangan sampai selesai cafe tutup, kamu bisa Istirahat dan pulang duluan kasih sama karyawan kamu tanggung jawab itu."
"Belum bisa Bu."
"Loh, kenapa belum bisa? semua harus bertahap mulailah mengurangi tenaga kamu, percuma punya karyawan kalau belum bisa mengurangi kehadiran dan tenaga kamu."
"Iya Bu akan Alya coba."
"Harus itu, sampai-sampai Ibu mau ketemu juga sulit."
Alya diam saja, memahami apa yang di sampaikan Ibunya. Dan memang akhir-akhir ini dirinya terlalu sibuk, ataukah menyibukkan diri dan menenggelamkan permasalahan yang lagi melingkupi kepalanya.
Temanmu si Desty kemana sekarang? kenapa tidak kamu manfaatkan di rekrut gitu, selain kamu jadi punya teman juga kamu bisa lebih bebas mengatur segalanya kalau dengan orang yang sudah biasa, bukan dengan orang baru menjelaskan dan menanamkan kepercayaan juga kamu udah tahu hitam putihnya. Jadi kalau sudah dekat dengan seseorang akan gampang merasa cocok dalam pekerjaan.
"Dia kerja Bu"
"Kerja? di mana-mana juga akan sama, intinya penghasilan dan kesibukan kerja sama kamu aja gitu bilang Ibu yang minta."
Alya hanya diam.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta habis baca 'Biarkan Aku Memilih' jangan lupa mampir ke karya bertitel "CINTA BUTA" Author Redwhite sahabat terbaikku yang paling hebat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!
__ADS_1