Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Nostalgia kelam


__ADS_3

"Siap?"


"Siap Kak," sahut Intan, sambil melirik Kakak iparnya Retno di sampingnya.


Sebenarnya Intan merasa tidak siap tapi di siap-siap kan saja semuanya.


Retno yang ikut juga ke rumah sakit merasa ingin mendampingi Intan, walaupun tidak sampai ke hal-hal yang lebih spesifik, mungkin Retno hanya duduk-duduk manis di ruangan kantor suaminya.


Aktivitas keluar rumah memang menyenangkan bagi Retno, walau di rumahnya juga banyak fasilitas yang bisa di manfaatkan


Hanya ingin mendengar cerita pengalaman pertama Intan kerja, sepertinya lucu tapi lebih ke ingin mendukung dan support semangat juga meyakinkan kalau dunia kerja itu tak kurang atau lebih dari KKN yang pernah di lakukannya.


Retno hanya melihat perkembangan di rumah sakit sebelum semuanya di putuskan, apa di mana mau melahirkan apa masih dengan dr Imam SpOG atau jadi pindah ke rumahsakit lain.


Dr Prabu merasa berkewajiban bicara apapun pada istrinya kini, sekedar meminta pendapat atau semacamnya.


Semua ingin baik-baik saja semua di jalani saling terbuka dengan tenang.


"Mau minum? biar Aku pesan. Rasanya malas kerja kalau ditemenin maunya nostalgia," ujar dr Prabu membimbing Retno duduk di sofa ruangannya.


"Nostalgia apa? nostalgia kelam?" sahut Retno sekenanya.


"Kok kelam Sayang? kita kenang yang manis-manisnya dong," ucap dr Prabu sambil mengusap punggung Retno.

__ADS_1


"Kelam, kelamaan saling menunggunya akhirnya kelamaan jomblonya," jawab Retno sambil duduk.


"Hahahaha.... lucu juga Sayang emang kita sama-sama egois tapi semua itu kini telah berubah, sekarang sudah jadi istriku yang Sholehah," ucap dr Prabu sambil mencium pipi Retno dengan senyuman.


"Mas, gimana ya Intan saat menemani dr Imam praktek?" tanya Retno sambil mendorong dada suaminya sedikit menjauh, kini ada rasa malu kalau sudah jadi suami istri bermesraan di luar walaupun di dalam ruangan takut orang lain melihatnya, misal tiba-tiba ada yang perlu dengan suaminya dan datang dengan menerobos masuk, itu akan jadi hal memalukan.


"Sepertinya dua-duanya senang, seperti kita dulu, rasanya senang banget kalau Kamu ada di ruangan ini Sayang, ada satu tempat favorit Aku di sini tebak di mana hayo?" dr Prabu tersenyum di hadapan Retno yang sudah duduk. dr Prabu memegang kedua lutut Retno dengan jongkok di hadapnnya.


"Yang pasti di kursi dan meja itu kan?" tebak Retno begitu pede. Menunjuk meja kerja suaminya.


"Bukan dan salah!" jawab dr Prabu.


"Lantas di mana lagi?" potong Retno merasa heran dengan jawaban suaminya yang mengatakan bukan.


Retno tak mengerti merasa tak ada tempat favorit di manapun sama saja, tapi mungkin kalau di rumah ya kamar pribadinya yang menjadi tempat privasi mereka menuangkan cinta kasihnya.


"Sayang, bagiku setiap tempat yang memberikan ingatan manis tentang kita semua akan selalu kuingat, masa Kamu tidak ingat selalu merah pipimu setiap Kamu Aku cium di balik pintu itu?" ujar dr Prabu sambil terkekeh sendiri, membuat Retno langsung merah pipinya dan mengusap muka suaminya sambil tertawa juga.


"Itu dulu pemaksaan tahu!"


"Tapi karena yang dipaksa nya merasa senang jadi kebiasaan deh," jawab dr Prabu lalu mereka tertawa bareng.


Memang terasa indah mengenang sekelumit kisah cinta unik mereka, liku-likunya yang penuh perjuangan, Prabu yang di sukai banyak orang dan Retno yang punya kecemburuan tinggi tapi dua-duanya sama-sama mengagungkan cinta mereka.

__ADS_1


Mengenang dan mengecapnya semua kenangan itu serasa mereka kembali pada memori saat itu, dan semakin mensyukuri nikmat cinta yang mereka rasakan juga menambah rekat kasih sayang diantara keduanya.


"Lalu sekarang jadi pengen pulang nggak?" tanya Retno di sela senyumnya.


"Pengen sih tapi tanggungjawab kerja adalah panggilan juga Sayang, nanti nostalgianya kita lanjutin di rumah sekarang Aku mau lihat agenda rapat hari ini," sahut dr Prabu sambil membereskan pakaiannya dan mengontrol dasinya karena merasa kusut setelah berpelukan.


Dr Prabu duduk di balik mejanya dan Retno mengambil majalah dari bawah meja sofa dan kelihatan asyik membaca.


Retno kini istrinya lagi hamil juga buah cinta kasih mereka, semakin bertambah saja rasa cintanya, tak ingin dirinya menyakiti atau membuatnya kecewa, tapi selama hidup cobaan pasti saja ada datang.


Mengingat cemburunya Retno membuat dr Prabu tersenyum, berarti cintanya juga begitu besar.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2