Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Bicara berdua


__ADS_3

Sampai rumahnya dr Imam melihat ruang depan dan keluarga lengang dan tak menemukan siapa-siapa.


Mungkin masih pada dikamar pikirnya. Tapi saat naik tangga melihat kamar Vionna yang sepertinya terbuka terdengar isak tangis dan dua koper sudah di luar pintu.


Dr Imam berjalan ke arah pintu kamar Vionna dan melihat Vionna sedang menangis sama Ibunya sambil berpelukan.


"Nanti Ibu tunggu lagi di sini dengan keluargamu ya," suara Ibunya dr Imam di sela isak tangisnya.


Vionna hanya mengangguk. Apa maksudnya?


"Ibu sekali lagi akan memastikan kalau Nak Imam siap menikah nanti, dan secepatnya Ibu akan kirimkan kabar setelah mendapat persetujuannya Kamu jangan khawatir."


Tok tok tok


Dr Imam mengetuk pintu yang sedikit terbuka.


"Ibu ada apa pagi-pagi ber-tangisan begini?" tanya dr Imam sambil mendorong pintu ke dalam.


"Akhirnya Kamu pulang, Nak Vionna mau pulang hari ini dan Ibu mau bicara dengan kalian berdua," ucap Ibunya dr Imam sambil menyeka airmatanya.


"Bicara apalagi Bu?" dr Imam merasa telah menyampaikan semuanya semalam.


"Nak tolong mengerti Ibu satu kali ini saja! dan jangan membangkang. Apa yang telah kalian lakukan di malam malam sebelumnya? Kamu itu dokter spesialis kandungan apa Kamu tidak tahu resiko tidur bareng? Ibu menemukan bukti pakaian dalam Nak Vionna di kamarmu Apa artinya semua itu? kenapa Kamu menolak untuk menikah apa harus aib dulu muncul baru kalian mau menikah? sekarang Vionna mau pulang beri kepastian biar kita nanti datang untuk menentukan tanggalnya Kamu menjadi laki-laki harus bertanggung jawab dengan semua yang telah kamu lakukan!"


"Ibu!"


"Jangan membantah!"


"Aku tidak pernah tidur dengan siapapun dan tidak akan ada pernikahan. Aku tidak mencintai Vionna ada Intan yang lebih dulu Aku cintai dan Kami saling cinta juga janji yang telah kami sepakati bersama."

__ADS_1


"Jangan berbohong Nak, Ibu melihat sendiri bukti itu! bukan atas laporan Nak Vionna lalu Kamu akan meninggalkan Vionna begitu saja? katanya tak mencintainya tapi kenapa kalian telah tidur bareng?"


"Ah, susah bicara sama Ibu!"


"Kamu tak usah bicara apapun Ibu sudah tua cukup mengerti dengan semua perasaanmu perasaan bersalah mu cukup meyakinkan Ibu dan Kamu tinggal mengikuti Apa keinginan Ibu menikah dengan Vionna sudah selesai," ucap Ibunya dr Imam berusaha tetap dengan keyakinannya kalau pagi itu masuk kamar Anaknya menemukan pakaian dalam perempuan di kamarnya bukan hanya satu tapi berceceran dan kamar Anaknya dalam keadaan berantakan juga anaknya sendiri tidur dalam keadaan telanjang dada. Semua bukti itu cukup meyakinkan kalau semua telah terjadi.


"Aku sekali lagi menolak Bu!"


"Kenapa Nak? Nak Vionna sekarang pulang Kamu Antar ke stasiun minggu depannya kita yang akan berkunjung ke tempatnya dan memastikan tanggal dan kesepakatan semuanya."


"Kenapa Ibu begitu memaksakan? Apa Ibu tidak berpikir akan seperti apa rumahtanggaku nanti? kalau di dasari dengan tidak saling cinta?"


"Tapi Aku mencintaimu Mas, Kita bisa belajar sambil jalan memang semua tidak instan perlu waktu, tapi Aku yakin seiring berjalannya waktu semua akan baik-baik saja," sela Vionna seperti mengompori ketegangan diantara mereka.


"Tuh dengar, begitu dewasanya cara berpikir Nak Vionna kenapa tak Kamu pertimbangkan dan kamu pikirkan lagi Nak?"


"Tuh dengar apa kata Nak Vionna begitu dewasanya Dia dalam berpikir. Kenapa kamu masih berpikir jauh dari kata dewasa?"


"Beri waktu Aku ingin bicara berdua sama Vionna!" pinta dr Imam sambil memandang Vionna yang kelihatan tenang tanang saja.


"Boleh Nak silahkan Ibu keluar sekarang juga!"


Ibunya dr Imam keluar membiarkan mereka berdua di dalam kamar dr Imam menutup pintu dan duduk di pinggir tempat tidur di mana Vionna duduk.


"Vio, jujur Aku bertanya apa yang mendasari Kamu begitu ngotot menginginkanku? bagaimana karirmu di sana? sedang Aku juga di sini tak mungkin bisa mengikuti mu di sama jelas diantara kita banyak perbedaaan dan satu lagi Aku tegaskan Aku sudah punya rencana masa depan sendiri jadi tolong pahami semua itu."


"Karirku hanya sementara tapi rumahtangga untuk se-sisa umur kita, semua bisa Kita jalani perlahan, semua bisa Kita mulai dari awal. Masalah karirku tak usah di pikirkan semua bisa di atur jadi apa masalahnya?" Vionna malah balik memberi pertanyaan pada dr Imam.


"Bagiku tak semudah itu Vio, menjalani rumah tangga bukan untuk coba-coba perlu keseriusan menjalaninya," jawab dr Imam.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak serius menjalaninya? ya kita jalani dengan serius?"


"Sudah Aku tegaskan Aku punya masa depan sendiri, dan Aku tidak akan mengingkari janjiku sendiri."


"Semua masih bisa berubah kalau Mau,"


Habis daya dr Imam menjelaskan memberi pengertian dan memasukkan paham pada Vionna semua mental tak ada masuknya.


"Satu lagi kenapa Kamu menjebak dengan pakaian dalam yang Kamu tinggalkan di kamarku? apa tujuanmu kenapa sekotor itu Kamu lakukan semuanya? malah membuat Aku tidak simpatik dengan caramu itu membuat penilaian orangtuaku menjadi salah padaku, bukan malah membuatku luluh tapi malah membuatku muak!"


"Jangan bilang itu jebakan, jujur saja Kamu tertarik juga padaku kan? terbukti kalau sudah dekat hampir tak bisa menahan. Tapi bukan itu masalahnya Aku bukan meninggalkan pakaian dalam tapi tertinggal sendiri tak ada kesengajaan bahkan Aku tak menyangka kalau Ibumu masuk mau membangunkan mu melihatnya di situ masalahnya," ucap Vionna membela diri seakan dirinya tidak ada kesengajaan dan merasa tak bersalah.


"Aku tidak bisa Vio, kita tidak akan cocok satu sama lain sekali lagi tidak bisa kalau bisa tolong yakinkan orangtuaku, dan Kamu Aku antar pulang sekarang ke stasiun," ucap dr Imam melembut.


"Kita belum mencobanya menjalin hubungan tapi Mas sudah bilang Kita tidak akan cocok, makanya kita sepakat jalin dulu hubungan artinya pacaran dulu bareng beberapa bulan, setelah itu kalau memang kita tidak cocok Aku janji akan mengalah, tapi minggu depan gantian keluarga Mas yang datang ke tempat gimana?"


Semakin bingung saja kelihatannya dr Imam, ucapan lembut tapi mengikat seperti jebakan halus yang tanpa terasa akan mengungkungnya dan dr Imam nantinya tak bisa berkutik lagi.


Berjuta keraguan saat Vionna menarik tangannya dan memeluknya dr Imam menolaknya, tapi walau hanya pelukan dr Imam merasa bersalah pada penghianatan dirinya sendiri.


Antar aku ke stasiun dan kita sepakat jalin hubungan walubjaraknjauh tapi nanti kita lihat saat Mas datang sma orangtua Mas ke tempatku kita putuskan nanti di sama bagaimana?" ucap Vionna dengan perlahan.


Dr Imam mengiyakan biar semua cepat selesai


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2