Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Naik turun pegel


__ADS_3

tin, tin, tin ....


"Bi, suara klakson mobil coba lihat siapa yang datang?"


"Iya Bu." Bi Iyah tergopoh-gopoh berjalan ke depan melihat siapa yang datang.


"Oh, alah Neng Intan sama Pak dokter rupanya."


"Kak Prabu sama Mbak Retno ada Bi?" Intan tersenyum melongokan kepalanya dari kaca mobil.


"Ada Neng." sahut Bi Iyah sambil menutup kembali pintu pagar.


Intan masuk duluan di susul dr Imam. Bi Iyah dengan senang hati menyambut adik Pak dokter dan dr Imam calonnya.


"Halo bumil? apa khabarnya sehat selalu ya!" Intan memeluk kakak iparnya.


Dr Imam juga menyalami Retno, sambil tersenyum.


"Nggak ada keluhan kan Bu Prabu?" seloroh dr Iman.


"Alhamdulillah dokter, kalau ada keluhan pasti sudah menagih janji untuk periksa dan konsultasi gratis ke tempatmu praktek."


"Haaaaaaaa ... masih saja ingat kamu Retno."


"Heeeee ... iya lah ingat, janji orang pasti diingat-ingat tapi kalau janji sendiri pura-pura lupa!"


"Haaa ...."


"Bos lagi ngapain?"


"Itu di belakang, lagi lihat kebun baru Pak Min. Menunggu matang mau sarapan, kita sekalian sarapan ya." Retno menawarkan.


Dr Imam ke belakang menghampiri dr Imam, kelihatan dari pintu mereka bersalaman dan mengobrol.


"Sini biar Intan bantuin, Mbak Retno duduk aja, itu susu nya belum di minum."


Intan meneruskan kerjaan Retno yang mengiris bumbu mau bikin tumisan dan goreng ayam saja, Bi Iyah lagi menggoreng ayam.


Dr Prabu dan dr Imam masuk rumah, mereka duduk di teras depan sambil ngobrol. Intan sama Retno juga ikut bergabung saat di dapur tinggal penyelesaian sama Bi Iyah.


Dr Prabu mengusap-usap punggung Retno, yang duduk di sampingnya.


"Jorok banget sih Kak Prabu! kenapa itu jambang nggak di cukur-cukur?"


"Retno senang banget aku begini, tapi aku rayu akhirnya dia mau aku cukuran. Habis sarapan mau aku ajak jalan-jalan sekalian membabat semuanya." Dr Prabu melirik istrinya yang tersenyum saja.


"Ah, masa iya Mbak Retno suka? aku nggak percaya!" Intan bengong karena rata-rata perempuan suka yang rapi dan bersih.


"Iya Intan, nggak tahu kenapa semenjak hamil aku suka suamiku brewokan, apa karena idolaku seorang Brad Pitt ya? heee ... tapi nanti cukuran kok."


"Bu dokter juga semuanya, itu sarapannya sudah siap, silahkan pada sarapan terutama Bu dokter yang katanya dari tadi sudah lapar." Bi Iyah datang kalau sarapan sudah siap.


"Iya Bi, makasih. Ayo semua kita sarapan kesiangan atau ini makan siang sekalian? heee ... nggak apa-apa mari dr Imam, Intan!"


Mereka sarapan sambil tetap ngobrol.

__ADS_1


"Intan, nginep kan di sini?"


"Iya Mbak, tapi mau jalan-jalan dulu heee ...."


"Nggak apa-apa, Mbak juga mau keluar dulu beli buah juga sekalian antar Mas Prabu mau cukuran."


Mereka menuntaskan sarapan masing-masing, Intan kelihatan begitu senang, melihat Kakak sama Kakak iparnya begitu harmonis saling menyayangi, suasana seperti ini yang ingin di lihatnya sejak awal pernikahan mereka.


*****


"Hai Bos, lama nggak ketemu, itu jambang sudah seperti orang pulang bertapa aja."


"Memang aku habis pulang bertapa di dalam kamar melulu, tuh hasilnya!" dr Prabu menunjuk ke arah Retno yang duduk sofa ruang tunggu barber shop sambil melihat-lihat ponselnya.


"Mantap Bos! berarti pengantin baru nih? tajam banget, celup langsung jadi, kembung dong haaaa .... jadi ngiler aku."


"Tajam lah, diasah tiap malam."


"Nggak geli nih istrinya, sudah rimbun gini?" Dr Prabu langsung duduk di kursi, depan cermin lalu di pasang penutup badan dari leher, biar potongan rambut tidak kena ke baju.


"Makanya, aku datang ke sini biar sepuluh tahun kelihatan muda. Mau mencoba klimis, Istriku bosan di seruduk dengan bulu lebat gini."


"Di seruduk bagian lain cewek kayaknya malah enak kali Bos."


"Kamu itu ngomongnya banyak plusnya! sudah dewasa belum?"


"Haaa ... sudah Bos, sudah pengen bertapa seperti Bos di dalam kamar mengasah pedang sampai tajam, tapi keadaan belum memungkinkan."


"Sudah cepet kerjanya, kasihan istriku lama nunggu, juga kamu mengambil waktu liburku lebih lama. Aku sudah ingin berduaan sama istriku."


"Mantan!"


"Buset, mantan masih di bawa bawa saja! haaa ...."


"Maksudku mantan kekasih yang sekarang sudah jadi istri! kamu punya mata nggak?"


"Maksud Bos apa? mata, ya punya lah Bos."


"Itu istriku lagi hamil, dia yang minta aku nggak cukuran, sekarang dia bosan minta aku cukuran. Masa aku bawa cewek orang lain yang lagi hamil?"


"Heeee ... enak ya Bos bisa nyenengin istri, apalagi saat hamil."


"Ya iya seneng banget! koleksi pacarmu yang banyak itu gimana nasibnya? sudah kamu nikahin, apa di buang jadi mantan semua?"


"Aku ketahuan selingkuh Bos, jadi aku di putusin sepihak, pacarku tinggal dua lagi."


"Alah, alah, kamu itu sepertinya bukan tipe orang setia ya? pacar di gandeng gandeng gitu?"


"Haaa ... cadangan Bos"


Retno yang samar mendengar percakapan suaminya dan tukang barber shop itu merasa geli dan pengen tertawa karena agak nyeleneh, tapi suaminya senang menggodanya.


Retno ingin segera mencubit suaminya, karena mengobrol terlalu bebas dengan tukang cukur di barber shop langganannya itu.


"Sudah Bos! cakep banget, pasti istrinya pangling dan kelihatan lebih muda."

__ADS_1


"Nih bayar, cepet nikah jangan hanya mengkoleksi pacar saja, biar tak banyak mengkhayal dan bisa merasakan bagaimana mengasah pedang!"


"Haaaaaaaa .... Bos bisa saja."


Dr Prabu keluar dengan merengkuh pundak Retno, lalu naik kendaraannya.


"Sayang kita kemana lagi?"


"Sudah kan? belanja sudah, cukuran sudah kita pulang saja aku mau tiduran."


"Kalau denger tiduran otakku jadi nggak konsen sayang, jadi pengen cepat sampai rumah heee .... "


"Otak Mas sama mesumnya sama tukang cukur itu!"


"Haaa ... mesum dia sayang, nggak tahu itu cerita benar apa tidak yang pasti aku menganggapnya hiburan dan selalu terhibur aja kalau aku cukuran di situ, walau yang di bahasanya hanya soal pacar dan masalah pribadinya."


"Mas nggak mau kemana-mana lagi kan?" Retno malah balik tanya.


"Aku pengen cepet sampai kamar aja, dan mencium perut kamu."


"Bener hanya mencium perutku saja?"


"Ya itu awalnya sayang, nanti ke arah atas kesukaanku dan yang bawah apalagi."


"Ada Intan lho Mas!"


"Dia kan senengnya berdua pacaran, ngapain kita ganggu mereka? hari liburku buat berdua sama kamu sayang."


Mobil memasuki halaman, dr Imam yang membukakan pintu pagar karena mereka lagi ngobrol di kursi teras berdua sama Intan.


Intan mengambil belanjaan Retno dan membawanya ke belakang.


"Santai aja di sini Mam, aku ke kamar dulu istriku mau istirahat."


"Siap Bos! eh Bos, kalau hamilnya sudah gede hindari naik turun, kalau bisa Bos di bawah aja!"


"Maksud kamu Mam?"


"Iya tinggal di kamar bawah jangan di atas, kasihan istrimu naik turun tangga, kan pegel."


"Oh, di kira 'naik turun' yang lain, aku hampir protes karena nggak terima! kalau untuk menempati kamar bawah itu sudah aku pikirkan."


Dr Imam tertawa ngakak.


"Dasar, dr SpOG kebelet nikah!"


"Hadeuuuuuuuh ... sue!" Dr Imam menepuk kepalanya sendiri.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir ( Karya baru yang baru beberapa Bab) By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2