
Deru suara mobil memasuki halaman rumah dr Prabu, Bi Iyah membukakannya dan mobil langsung masuk terparkir di halaman.
Dr Prabu dan Retno yang lagi malas malasan bikin kusut seprai mengelus perut dan bicara pada janinnya bangkit melihat siapa yang datang dari atas ke halaman bawah. Memastikan siapa yang datang
"Siapa Mas?" ucap Retno bangu dari tidurannya.
"Dr Imam!"
"Kok Mas nggak turun?" ucap Retno lagi karena melihat suaminya kembali ke posisi semua.
"Mungkin datang bukan buat Kita, tapi buat Intan," jawab dr Pabu sambil kembali menciumi perut Retno yang semakin membuncit.
"Mas, tapi sapa dulu sana siapa tahu ada perlu sama Mas!"
"Kalau perlu nanti Bi Iyah akan memanggilku, Aku juga lagi ada perlu sama Kamu Sayang," sahut dr Prabu tersenyum nakal.
"Mas perlu apa sama Aku?"
"Perlu banyak."
"Ah, nggak jelas!"
"Biar jelas kita matiin lampunya ganti ya?"
"Apaan jam segini matiin lampu?"
"Biar jelas maksudnya mau apa!"
"Aku mau turun, silahkan tiduran sendiri!"
"Mau apa? bilang saja nanti Aku ambilkan," sahut dr Prabu sok perhatian.
"Mau di urut sama Bi Iyah kakiku pegal sambil nonton TV juga makan cemilan dan minumnya lemon tea hangat," jawab Retno sambil menatap wajah dr Prabu yang tersenyum.
"Ya sudah!"
"Kenapa senyum?"
"Karena Aku mengerti keinginan Ibu hamil, jadi ayo kita turun!" dr Prabu tahu itu kebiasaan Retno selalu lapar sehabis makan sore karena demi kesehatan makan malam mereka di ganti dengan makan sore dan harus selalu ada cemilan untuk malamnya.
Padahal itu sama saja makan walau bukan makan berat.
Mereka turun dengan perlahan ruang tamu terlihat terang kalau dr Imam sudah berada di dalam mungkin bersama Intan.
__ADS_1
Bi Iyah lewat dari depan membawa baki kosong dan menawari Retno minum juga.
"Iya Bi lemon tea hangat ya sama Mas Prabu mau minum apa Mas?" jawab Retno sekalian bertanya pada suaminya.
"Samain aja tapi pakai madu Bi biar kuat," sahut dr Prabu di sambut tatapan Retno.
"Kuat apa maksudnya?" sahut Retno sambil mencubit pinggang suaminya dan tak melepaskannya. Senang rasanya melihat suaminya mengaduh padahal cubitannya tidak sebenarnya.
"Aw, sakiiiiit ampuuuuun! maksudku kuat menahan cubitan!" dr Prabu terkekeh sendiri.
Bi Iyah datang menaruh minuman dua gelas di meja juga cemilan dan buah.
"Bu dokter mau diurut?"
"Iya Bi. Rasanya pegal banget di bawa jalan-jalan tadi di rumah sakit," jawab Retno sambil selonjorkan kakinya di karpet ruang keluarga.
Bi Iyah mengambil minyak zaitun di laci lemari obat dan mulai mengusap usap bagian kaki Retno.
"Bibi belum ngantuk?"
"Belum Bu," sahut Bi Iyah sambil matanya melihat layar TV.
"Bi, Intan sama dr Imam ya di depan?"
"Kenapa Bibi tahu mereka lagi marahan?"
"Karena mereka pindah-pindah dari ruang tamu ke teras, lalu ke halaman dan ke ruang tamu lagi," jawab Bi Iyah apa adanya.
Dr Prabu tertawa mendengar penuturan Bi Iyah yang begitu polos.
"Itu baru marahan biasa Bi, kalau marahan beneran pindah rumah mereka!" sela dr Prabu sambil tertawa.
Retno juga jadi tersenyum.
Entah apa yang dibahas dan di bicarakan Intan sama dr Imam sampai Retno merasa ngantuk dan Bi Iyah juga beberapa kali menguap mereka belum masuk masuk dan dr Imam belum pamitan.
Akhirnya Retno menyuruh Bi Iyah tidur dan dirinya juga suaminya naik ke kamarnya.
"Mas ngantuk nggak?"
"Enggak. Kenapa memang?"
"Gimana hasil rapat radi sore?"
__ADS_1
"Maaf Sayang. Forum melihat manfaat dari apa yang di tawarkan Yayasan itu sebagian besar menyetujuinya dan Aku tak bisa menolak keinginan sebagian besar anggota rapat jadi rumahsakit ini menjadi anggota penyumbang tenaga pada Yayasan itu."
Retno terhenyak. Berarti akan selalu ada hubungan suami dan rumahsakit ini dengan Alya untuk kedepannya.
Sudah seperti dugaannya semula, tapi semoga tak mendatangkan masalah bagi keluarga kecilnya ini
"Sayang, itu keputusan bersama. Percayalah semua akan baik-baik saja." Dr Prabu berusaha meyakinkan Istrinya.
"Aku hanya tak ingin bertemu saja dengan orang sombong itu. Tadi Aku ngobrol sama dr Imam waktu Mas lagi rapat, dr Imam memberiku support luar biasa walau Aku masih pikir-pikir dan akhirnya memutuskan Aku akan melahirkan di sini saja bersama de Imam dan akan mengunjungi orangtuaku kalau Aku sudah lahiran nanti membawa Anakku pada orangtuaku."
"Benarkah itu Sayang? terimakasih ya..." sambut dr Prabu begitu senang.
"Hanya Mas harus berhati-hati saja, Alya bukan saja mengancam Mas tapi pada dr Imam juga seperti itu mungkin dr Imam hanya mengingatkan saja," ucap Retno menyadari kalau keinginannya tak seperti yang di harapkannya tetap suaminya patuh pada keputusan rapat dan suara terbanyak.
Walau begitu tak ingin ada kaitan hubungan apapun dengan yang namanya Alya tapi semua tetap akan berjalan seperti itu.
"Ajeng, kalau memungkinkan kita bisa tak berhubungan dengan Alya dan keluarga walikota itu sebenarnya keinginanku juga demi ketentraman dan kepercayaan Kamu, tapi semua di luar kemampuan kita, maafkan Aku ya belum bisa sepenuhnya memberi ketentraman padamu jauh dari kata membahagiakan Kamu Sayang," lirih ucapan dr Prabu sambil memeluk Retno.
"Iya Mas, Aku juga sebagai istri hanya membuat Mas tidak tenang tapi sepenuhnya Aku mendukung apapun keputusan Mas, mungkin permintaanku A antar nanti saat Anakku sudah lahir berkunjung ke Pekalongan ingin memperlihatkan buah hati kita pada Kangjeng Ibu dan Romo juga keluarga besar ku."
"Tentu Sayang, karena itu adaah kebahagiaan mereka juga."
Retno mengusap kedua pipi suaminya dan membawanya ke pelukannya lalu ke perutnya merasakan kontraksi gerakan dari dalam perutnya.
"Sepertinya minta ditengok. Boleh ya Sayang?" ujar dr Prabu sambil mengusap perut Retno sampai ke bagian bawahnya.
Retno mengangguk perlahan. Memenuhi permintaan pasangan adalah kebahagiaan bagi semua pasangan, penyatuan nyata adalah bukti cinta kasih yang sebenarnya.
Kebahagiaan yang akan mereka genggam kini sebentar lagi akan terwujud dengan akan datangnya buah cinta mereka di tengah tengah keluarga.
Semakin manja Retno dan semakin perhatian dr Prabu menghadirkan kehangatan bagi keduanya, semakin nggak ingin cinta mereka jauh dan terusik oleh orang lain.
Usapan, ciuman, belaian dan pelukan jadi momen manis mengiringi langkah menunggu hadirnya buah hati yang begitu di tunggu kedua keluarga.
Memadukan rasa dan cinta setiap waktu menjadi hal yang tak pernah bosan mereka lakukan.
.
.
.
.
__ADS_1
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️