Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Dikira putri solo


__ADS_3

Retno masuk lagi ke ruangan suster kepala Miranti dan memberitahukan kalau tugasnya selesai,dan suster kapala Miranti memandang iba pada Retno dan Retno berjalan masuk ke ruangan suster jaga kembali.


Retno membanting ballpoint sampai berantakan sesampai di ruangan suster jaga dan teman temannya memandang keheranan dan menghampirinya.


"Mbak, ada apa?"


"Pimpinan macam apa dia? tampang masih muda elegan kelakuan seperti kakek kakek!"


"Emang Mbak Retno habis ketemu pimpinan? kenapa nggak omong langsung pengajuan keringanan?"


"Oh iya ya? bego juga aku ini oh alaaah kenapa tak kepikiran sama sekali?" Retno mengusap usap dahinya sendiri.


"Huh dasar otak buntu! apalagi di rayu sedikit lah...buat dia meleleh setelah lumer apa sih yang nggak bisa? Mbak Retno kan bintang kampus jadikan itu referensi dong." Ella menyayangkan apa yang tak Retno lakukan, memang Retno bukan tipe seperti Ella yang dengan reflek bisa aji mumpung dan asas manfaatkan kesempatan, sungguh tadi itu tak terpikirkan sama Retno sama sekali, yang ada di fikirannya selesai dan kembali ke ruangan suster jaga.


"Yah elo fikirannya mesum melulu sih harus di vaksin tuh otak jelek lo." Retno menunjuk kepala Ella.


"Haaaaaaaa..."


"Gimana yang namanya pimpinan itu ? tua, botak, beruban, pakai kaca mata, bawel, otoriter?" Ismi memborong sendiri pertanyaan pada Retno.


"Sebaliknya semua Ismi, ganteng, muda, tinggi, walau nggak jelas juga sih seberapa gantengnya karena pakai kacamata dan aku nggak bisa melototi terus muka dia emang aku cewek gatel kayak elo elo?" Retno menjawab.


"Haaaaaaaa...serius Mbak, dia masih muda dan ganteng?"


"Anjir deh jadi penasaran." timpal Ella.


"Terus Mbak Retno ngapain ke ruangan pimpinan tadi kepentingannya?"


"Aku di suruh suster kepala Miranti membersihkan meja pimpinan dan mengirim air minumnya karena pimpinan mau lembur." Retno menerangkan pada teman temannya yang super kepo.


"Oh alaaah, masa kita rangkap jabatan jadi OB juga, kasihan predikat bintang kampusmu Mbak Retno, sungguh tak berperikemanusiaan dan pri keadilan tuh orang, tak melihat orang cantik dan menarik juga tak melihat tampang simpatik Mbak Retno kali ya? apa sudah pikun?"


"Nggak apa-apa Ella aku senang senang aja mengerjakan tugas apapun tak terbatas pada khusus bidang kita, malah aku kalau di suruh membersihkan ruangan pimpinan lagi mau, biar ada kesempatan aku mengajukan keringanan kehadiran siapa tahu pimpinan berubah fikirkan." Retno pasrah dalam harapnya.

__ADS_1


Sebenarnya tuntutan Retno tidak berlebihan itu yang ada dipikirannya tuntutan yang sangat masuk di akal dan rasional dalam seminggu minta jangan hadir dalam 6 hari kerja tapi cobalah minta di fahami posisinya sekarang jarak yang begitu jauh dan harus ditempuh setiap sehari semalam 6 jam bolak balik waktu di perjalanan, wajar dirinya mengajukan dan melakukan protes kepada pimpinannya meminta dikurangi waktu kehadiran di lokasi KKN.


Tuntutan yang sangat wajar menurut Retno melihat masih begitu mudanya pimpinan mereka masa iya tak ada sedikit toleransi? tapi apapun keputusan tak bisa merubah segalanya yang menurut kita begitu simpel tapi bagi orang lain begitu sulit di kabulkan.


"Sudah lah Mbak jangan terlalu di fikirkan yang penting kitanya sehat."


"Iya Ismi."


"Tapi aku heran kayaknya sentimen banget tuh macan betina Miranti pada Mbak Retno, saya perhatikan nggak ada manis manisnya dan ramah ramahnya sedikit juga, kenapa ya? terbukti saat Mbak Retno mengajukan keringanan kehadiran seperti tak di tanggapi, malah saya berfikir macan betina itu tak menyampaikan pada pimpinan pengajuan Mbak Retno itu. Dari empat orang yang mengajukan begitu ketara pilih kasihnya kan hanya Mbak Retno sendiri saja yang tidak di beri keadilan juga Mbak Retno yang di pilih untuk menggantikan tugas OB, harus di teliti ini." Ismi jadi emosi sendiri.


Retno hanya diam tak berani berasumsi apa apa dan lebih menerima apapun yang di tugaskan pada dirinya.


Tapi memang benar juga apa yang dikatakan ismi dan Ella dari awal dirinya mengajukan keringanan kehadiran orang lain yang sama-sama kerja malah yang kerja dengan jarak begitu dekat tidak dikenakan kewajiban seperti dirinya, yang dituntut untuk hadir setiap hari kerja di lokasi KKN hanya dirinya sendiri yang tidak dikasih fasilitas keringanan tapi Retno tak mau berburuk sangka terhadap siapapun biarlah mungkin ini nasibnya juga cobaan pada dirinya yang harus tetap sabar dan menjalani semuanya.


"Sudah pulang kali tuh macan betina, perasaan eneg banget gue melihatnya." sungut Ella.


"Syukur kita bagian sif malam biar nggak selalu melihat tampang sombongnya!"


"Hush...jangan begitu sama orang, gitu gitu juga atasan kita." Retno mengingatkan.


"Ya sus..." Retno dan semua temannya rampak menjawab dan berdiri.


Mereka sudah di beri instruksi akan mendampingi dr apa dan juga suster dinas dan semua itu akan bergilir merasakan mendampingi dokter semua, Dan itu sudah menjadi keseharian Retno di tempat kerjanya.


Retno kebagian mendamping dr Imam SpOG, semua tata cara tak begitu berbeda mengabsen kembali semua pasien yang hadir, tensi darah, timbang badan, dan menunggu giliran antri di periksa dan konsultasi kesehatan dan mahasiswa KKN hanya di beri tugas yang ringan ringan saja, dan tetap di dampingi suster dinas seperti memanggil pasien, memperhatikan dan melaporkan saat timbang badan dan membimbing juga menyelimuti pasien saat mau USG. Namanya juga masih kuliah dan sekarang belajar langsung di lapangan mempraktekan semua teori yang di dapat di bangku kuliah.


"Ini mahasisawa KKN dari mana ya?" dr Iman SpOG memandang Retno dengan tersenyum saat pasien mulai longgar, dan di sela sela istirahat antara pasien satu dan yang lainnya.


"Oh saya Retno dok dari Universitas Bina Potensi Bandung"


"Oh ya? banyak teman saya di situ." sahut dokter dengan senyumnya yang semakin membuat Retno kikuk.


"Asli mana suster Retno?"

__ADS_1


"Pekalongan dok."


"Oh sepintas saya sudah bisa memperkirakan."


"Memperkirakan apa maksud dokter?"


"Kalau nggak putri Solo pasti bukan dari Jawa Barat heee..."


"Ah dokter bisa aja." Retno merona pipinya dalam hatinya berkata cowok di mana-mana juga sama nggak dokter nggak apa lihat yang bening pasang jurus puji dan gombal.


"Serius suster Retno pokoknya beda sama yang lainnya."


"Beda apanya dok?"


"Maksud saya beda kalau dari Jawa Barat pasti namanya Ratna, bukan Retno ya kan?"


Mau tidak mau Retno tertawa kecil, dan dr Imam SpOG memang menjebaknya dengan kata katanya, di kira Retno dokter Imam SpOG akan lanjut memujinya dengan mengatakan lebih cantik atau lebih ayu.


"Oh ya dulu teman saya punya pacar orang Pekalongan, tapi sudah lama bubar nggak berlanjut, sepertinya cinta mati dia sampai sekarang belum tergantikan haaa..."


Retno ikut juga tertawa sekedar partisipasi saja dan toleransi menghargai dokter Imam yang dengan nikmatnya tertawa, yang Retno sendiri tak tahu apa yang di tertawa kan nya itu, mungkin yang di sebutkan nya tadi yaitu temannya.


Dan praktek pun dilanjutkan sampai selesai, Retno kembali ke ruangan jaga suster dan mulai lagi keliling dengan suster dinas ke kamar kamar ruang perawatan memberi obat dan memeriksa infus juga segala keperluan pasien, dan waktu tak terasa sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


"Mbak Retno, sudah pulang saja duluan ke mess dan tidur biar besok dini hari bisa cus ke Bandung absen aku yang gantikan absen kertas doang bukan sidik jari ini kok." Ismi temannya Retno begitu pengertian.


"Nggak enak Is ini hari pertama kita resmi KKN, biar lah aku juga masih segar kok tapi nggak tahu kalau nanti sudah berjalan ada sebulan atau dua bulan."


"Ya sudah, terserah mbak Retno saja "


"Makasih ya atas semua kerjasamanya Ismi."


_ Lanjut ? semoga merasa senang๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

__ADS_1


Tinggalkan jejak dan dukungannya, mohon๐Ÿ˜† komen, like, hadiah dan vote nyaโœŒ๏ธ๐Ÿ’


__ADS_2