Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Mulai ada riak


__ADS_3

"Paaaaak...! bagaimana ini kok Alya dua hari ini nggak ada pulang, ke mana dia dengan siapa? dalam kondisi dan keadaan seperti itu Ibu sangat khawatir banget."


"Apa? bukannya Ibu selalu memantau dan bersama-sama dengan dia? mengikuti kegiatannya mengikuti dia bekerja? Kok bisa sampai kehilangan jejak dan tak tahu kemana dia pergi?"


Ibu Sofyan Wijaya menangis di ujung sambungan telepon, membuat hati Pak Sofyan Wijaya tak enak dan nyaman lagi untuk bisa meneruskan bekerja.


"Pokoknya Bapak Ibu minta pulang sekarang, Ibu nggak bisa sendiri dirumah dalam keadaan seperti ini, Ibu cemas Ibu takut akan hal-hal yang terjadi dengan anak kita, Bapak pulang sekarang!"


"Iya, Ibu tenang Bapak pulang sekarang."


Sambungan telepon terputus Ibu Sofyan Wijaya baru saja menelepon ke kafe dan ke bakery biasa Alya berada dan bekerja, tetapi karyawannya menyampaikan dikira Ibu Alya ada di rumah tapi ternyata di rumah tidak ada, di kafe tidak ada juga di bakery nya tidak ada juga.


Dari situ timbul kecemasan dan ketakutan seorang Ibu mengetahui anak gadisnya hilang tanpa khabar, apalagi sedang terbelit masalah, tiba-tiba menghilang tanpa jejak walaupun belum jelas Alya hilang.


Mungkin saja Alya pergi menenangkan diri dengan temannya Desty, mungkin juga Alya pergi kemana untuk sekedar menghibur diri, atau juga kemungkinan-kemungkinan baik lainnya.


Satu lagi Ibu Sofyan Wijaya telah menghubungi satu-satunya teman dekat Alya yaitu Desty tapi Desty belum bisa dihubungi entah kenapa.


Hatinya tambah risau dan cemas, dalam kacau pikirannya tak ada tempat mengadu selain kepada suaminya. Selain itu di rumahnya juga tidak ada siapa-siapa karena pembantunya sedang tidak ada di rumah minta izin cuti karena ada keluarganya yang sakit di kampungnya, terkadang anaknya Alya pulang malam dan pergi lagi paginya.


Terasa sempurna kini kesedihan itu Sofyan Wijaya, mengingat permasalahan dalam keluarganya yaitu permasalahan anaknya yang kini sedang ada di hadapannya, membelit tanpa bisa menemukan jalan keluar yang terbaik.


Menangis berurai air mata sambil memanggil nama anaknya, yang entah dimana kini keberadaannya. Harus bertanya pada siapa anaknya kini bersama siapa.


Deru suara mobil suaminya yang pulang masuk di halaman yang dibawa sama Pak Udin, membuat Ibu Sofyan Wijaya bergegas menyambutnya ke teras depan.


Pak Sofyan Wijaya memeluk istrinya yang bercucuran air mata, dan membawanya ke dalam kedudukannya di ruang keluarga.


Pak Sofyan Wijaya mengambil minuman dari dispenser dekat meja makan, meminumnya beberapa teguk dan membawakan sisanya untuk istrinya diberikannya gelas itu disodorkan kepada istrinya. Ibu Sofyan Wijaya meminumnya beberapa teguk serasa air tidak bisa masuk seret di tenggorokannya.


Pak Sofyan Wijaya melonggarkan dasinya dan membuka jasnya lalu menyimpannya di sandaran kursi sebelah, dan duduk di samping istrinya.


"Atas dasar apa Ibu punya kesimpulan kalau Alya itu menghilang?"


"Karena Alya nggak ada pulang, nggak ada di dua tempat usahanya."


"Apa sudah di telephon temannya?"


"Desty satu-satunya teman akrab Alya tidak aktif ponselnya, kita harus bagaimana Pak?"


"Apa Ibu tahu rumahnya?"


"Desty? kalau persisnya Ibu tidak tahu tetapi wilayahnya kayaknya Ibu tahu, kita pergi kesana Pak kita bertanya pada satu-satunya harapan kita siapa tahu Desty mengetahuinya."


"Soal bertanya pada Desty itu gampang. Kita tunggu saja dulu sampai nanti ponselnya aktif baru kita telephon, mungkin dia lagi sibuk bekerja jadi tidak mengaktifkan ponselnya, atau kalau masih tidak aktif kita cari ke rumahnya. Apa tidak lebih baik sebagai jalan keluar siapa tahu Alya memberi kabar kepada dr Prabu."


"Maksud Bapak, apa kita mencoba telepon dokter Prabu?"


"Ya, sepertinya begitu."


"Ibu setuju saja, apa baiknya menurut Bapak."


"Kita kasih tahu yang sebenarnya, karena waktu datang kepada orang tuanya sampai sekarang tidak ada respon baik dari dr Prabu sendiri, ataupun dari kedua orangtuanya yang menurut pikiran Bapak tidak mungkin orang tuanya tidak menyampaikan kedatangan kita kepada anaknya."


Pak wali kota melihat jam dinding yang menempel di dinding ruang keluarga nya waktu menunjukkan jam 15: 04 sore, mungkin waktu yang tepat untuk bicara karena mungkin saat ini dr Prabu masih dalam cuti pernikahannya.

__ADS_1


Pak Sofyan Wijaya mencoba menyambungkan telepon dan menunggu dengan kecemasan, sambil mempersiapkan kata-kata yang ingin disampaikan.


Nada panggil tersambung dengan tampilan berdering.


Telephon persis berdering di depan Retno yang lagi berdandan didepan cermin meja riasnya. Masih dalam tersambung soket charger.


Dr Prabu baru keluar kamar mandi, menggosok gosok rambutnya mengeringkannya dengan handuk.


Retno tertegun melihat siapa tampilan nama yang memanggil


'Pak Wali kota' Deg! hati Retno seakan di beri jalan untuk mulai membuka menelisik pertanyaan setelah suaminya menerima panggilan itu!


"Siapa sayang?"


"A-aku nggak tahu Mas, nggak jelas namanya angkat aja dulu."


Dr Prabu menghampiri meja rias dimana Retno duduk di kursinya. melihat siapa yang memanggilnya, matanya langsung melotot dan dahinya berkerut, lalu mengambil Ponsel dan mematikannya.


Retno memperhatikan gerak gerik suaminya walau telah beranjak dari depan meja rias pura-pura membereskan tempat tidur dan melipat selimut.


Dr Prabu mengambil ponselnya dan melihat semua pesan yang masuk, kelihatan serius membuka dan melihat ponselnya tanpa melihat pada Retno yang memperhatikan setiap gerak geriknya.


Terlihat ketegangan di raut dan roman mukanya.


Retno menghampirinya sambil memeluknya, berusaha mencari celah, akankah jujur atau masih akan menyembunyikan semuanya.


"Siapa sayang? kok nggak diangkat telephonnya?"


"Nggak tahu, mungkin telephon nyasar."


"Iya, mungkin aku akan melihatnya, aku minta waktu ya sayang."


"Oh, silahkan aku juga baru mau melihat ponselku."


Dr Prabu keluar kamar, Retno membiarkannya, membiarkan membuka semua panggilan dan pesan masuk.


Retno mengambil ponselnya, melihat semua pesan dan chat juga panggilan masuk di ponselnya.


Retno mencoba melihat suaminya dan ikut keluar kamar menuruni tangga, dan Retno mencari suaminya tapi tak menemukannya.


Dr Prabu ada di taman samping rumah kelihatan lagi bicara dengan seseorang, menyadari kehadiran Retno segera mengakhiri pembicaraan dan mematikan ponselnya.


Retno menghampirinya lalu menamprak tangannya di hadapan suaminya meminta ponselnya.


"Aku mematikan ponselnya karena tak ingin di ganggu di masa cuti ku."


"Aku mau melihat ponselmu Mas."


"Untuk apa?"


"Aku ingin tahu, Mas barusan ngobrol dengan siapa, kenapa datang aku Mas menutup pembicaraan."


"Retno, bukan siapa-siapa hanya dr Imam mengabari kalau mereka sudah sampai di Bandung."


"Aku nggak percaya, aku mau melihatnya, apa salahnya?"

__ADS_1


"Sudahlah Retno, itu semua tidak penting."


"Apa yang tidak penting? bukankah kalau Mas menyembunyikan hal yang tidak penting malah membuat aku curiga? bagiku semua itu penting karena itu menyangkut kejujuran."


Retno memandang suaminya yang tetap bersikeras tidak memberikannya, malah dr Prabu memasukkan ke saku celana pendeknya dan Retno mencoba meraihnya.


"Mas! aku mau melihat ponselmu, berikan sini."


Dr Prabu memeluk Retno dan mengajaknya masuk dan bicara ke soal lain untuk mengalihkan.


Retno berontak, merasa ada yang di sembunyikan suaminya dan memang begitu adanya.


"Stop! Mas mau memberikan ponsel Mas atau kita tidur terpisah malam nanti!?"


"Retno! apa-apaan?"


"Aku serius, kenapa hal sepele soal ponsel harus ada yang di sembunyikan? lucu memang ada apa? lihatlah ponselku, buka semua fiturnya aku tak ada yang di sembunyikan!"


"Itu temanku yang iseng, hanya menggoda."


"Teman yang mana?" si A si B?"


"Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu temanku, aku banyak memiliki teman tanpa sepengetahuan mu."


"Kenapa Mas begitu nggak suka aku ingin melihat ponsel Mas dan tahu Mas bicara sama siapa?"


"Itu hanya teman Retno, sudahlah!"


"Kenapa Mas jadi begitu tegang? juga kelihatan tak senang padaku hanya karena aku ingin tahu siapa yang bicara sama Mas di telephon?"


"Aaaaah! susah bicara sama kamu!"


"Oh, jadi Mas nggak suka sama istri sendiri?"


"Baiklah! aku tak suka di bohongi dengan hal sepele, kita baru saja berucap ijab Qabul, tapi kenapa Mas mulai nggak senang dan menggertak aku?"


"Retno, aku tekankan lagi itu bukan siapa-siapa tolong mengerti."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya πŸ€¦πŸ˜†πŸ’πŸ™


Hai, readers tercinta! habis baca


"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, MENITI PELANGI


By Enis Sudrajat juga, baca, like,


vote dan beri hadiah ya!


Slow ya, karena Author punya on going dua boleh baca dua-duanya di jamin melelehπŸ‘©β€β€οΈβ€πŸ’‹β€πŸ‘¨πŸ™

__ADS_1



__ADS_2