Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Jujurkanlah hati


__ADS_3

Cinta kan membawamu kembali di sini


Menuai rindu


Membasuh perih


Bawa serta dirimu dirimu yang dulu


Mencintaiku


Apa adanya....


Saat dusta mengalir jujurlah lah hati...


"Haaaaaaaa...sepertinya lagu itu kira-kira yang berdendang riang mengisi ruang hati Mbak Retno sekarang." Ella masuk ruang perawatan Retno sambil menyanyikan lagu Dewa 19 dan di iringi tepukan tangan Isti.


"Apaan sih kalian ini suka ada ada aja, nggak melihat suasana hati orang saja! sungguh tak ada toleransi dan tak ada perasaan banget."


"Ya elah.. sensitif banget Mbak, sebenarnya kita ikut senang Mbak ada sedikit titik terang dari permasalahan yang Mbak hadapi."


Iya juga kali apa memang aku terlalu sensitif memandang sesuatu itu? mungkin dari rasa tak terima hatiku akan perlakuan orang-orang terhadapku selama ini, Retno introspeksi dirinya sambil senyum di paksakan menyambut kedatangan dua sahabatnya.


"Ssssst...sudah sudah jangan dulu ngebahas yang lain-lain fokus sehat titik!" Ella mengusap dan memegang tangan Retno dan Retno tersenyum senang melihat betapa care nya semua teman-teman dekatnya.


"Malah saya melihat Mbak Retno sudah kelihatan segar sepertinya nih, apalagi di tambah ada seseorang dengan setianya nungguin siang malam semakin cepat sembuhnya ya Mbak? heeeee..." Ismi dengan muka gembiranya melihat Retno yang sudah agak segeran, dan tetap saja ingin menggoda sekalian menghibur tujuannya.


"Semua tak seperti yang kalian bayangkan, aku benci dan nggak mau bicara apapun sama dia, terlalu menyakitkan perbuatan dan perlakuan dia padaku selama ini kepura-puraan dia padaku sungguh tak bisa aku maafkan."

__ADS_1


"Mbak jangan membenci terlalu berlebihan karena kata pepatah benci dan cinta itu begitu tipis penghalangnya, dan perbedaannya, bahkan mungkin tak ada penghalangnya sama sekali, maaf bukan aku sok memberi wejangan tapi istirahatkan dulu fikiran Mbak Retno,nemosi tak akan menyelesaikan masalah apapun,


introspeksi diri kita, kesalahan masing-masing dan seberapa kita saling mencintai?"


Retno diam terkadang Ella dewasa juga dalam berpikirnya dan melihat permasalahan dirinya dengan begitu dewasa dan di rasa sangat bijaksana.


"Pokoknya cepat sembuh dan pulih kembali kami semua mengandalkan Mbak Retno lho biar membawa nama baik mahasiswa KKN juga bisa unjuk gigi dan bisa di andalkan di event rumah sakit ini."


"Maksudnya apaan La?" Retno tak mengerti apa yang diucapkan Ella.


"Iya, ya Mbak Retno belum tahu kabarnya kalau rumah sakit ini akan mengadakan turnamen bulutangkis antar karyawan terbuka untuk umum dan mahasiswa KKN juga di kasih jatah memasukkan pemainnya untuk ikut andil meramaikan ulang tahun rumah sakit ini."


"Aku nggak bisa janji Ella, aku sudah lama tidak latihan dan olahraga habis semua waktuku untuk kerja dan kegiatan KKN, juga kondisiku seperti ini apalagi masalahku yang menyita fikiran dan energi ku."


"Alah alaaah... orang yang biasa dan terbiasa tak memerlukan adaptasi lama seperti yang belum biasa memegang raket, pasti akan lain...dengan yang baru belajar, dengan latihan sebentar saja semua biasa lagi ayo semangat sembuh dulu Mbak Retno nya."


"Aku sepertinya tak bisa melanjutkan kegiatan KKN lagi di sini Ella, Ismi..."


"Ella permasalahan ku tak sesederhana itu, dan lain dengan yang kalian fikirkan, begitu mudah kalian memberi solusi tapi menjalaninya aku sanggup tidak?"


"Maksud Mbak apa?" Ismi memandang Retno.


"Aku akan lebih tersiksa dan tak bisa berpura-pura biasa di hadapan mereka, kalau menerima intimidasi dan sangsi untuk kesalahanku itu aku jalani dengan sukarela, aku terima, aku akan bertanggung jawab dengan kesalahanku sendiri walau aku rasa semua kesalahanku selama ini begitu kecil, tapi bila melihat Mas Prabu dengan kekasihnya, berjalan bergandengan dan masuk ruangannya di hadapanku terus terang aku nggak sanggup Ella,bmelihat kebersamaan mereka lalu-lalang di depan mataku, aku mungkin nggak akan setegar hati orang lain melihatnya, dan ini mungkin perasaanku yang rapuh."


"Berarti Mbak masih cinta kalau gitu?"


"Jujur aku menunggunya, aku masih mencintainya lima tahun kurang lebih dengan bertumpuk harapan, perasaan itu yang selalu aku jaga dan selalu ku pupuk dengan kerinduan yang teramat sangat, tapi setelah melihat Mas Prabu menggandeng seseorang mungkin itu jawaban dari pertanyaan ku selama ini, juga perlakuannya yang seperti balas dendam pada orangtuaku dan di lampiaskan padaku apa yang harus aku lakukan dan aku pertahankan? semua di luar ekspektasi ku, apa aku harus tegar menjadi penonton bagi mereka? tidak! aku harus bangkit menatap masa depanku sendiri."

__ADS_1


Ella dan Ismi hanya diam dalam kesedihan atas keputusan Retno.


"Ella, Ismi kalaupun aku lanjutkan KKN ini apa aku akan mendapatkan nilai di sini? dengan direkturnya seorang dr Prabu yang begitu dendam pada orangtuaku? juga perlakuannya yang seperti kemarin kemarin itu padaku? aku tak yakin dengan semua itu, aku memandangnya dan menduga dr Prabu sepertinya ingin aku hancur, ingin gagal, jangan-jangan baik padaku juga saat aku sakit saja dan hanya pura-pura belaka."


"Tapi Mbak jangan berburuk sangka dulu, aku melihat kepanikan dr Prabu saat Mbak pingsan di ruangannya, juga saat mbak muntah-muntah dini hari kemarin itu, sepertinya Pak Prabu menjaga Mbak Retno di luar kamar mess kita semalaman."


"Ah masa Ella?"


"Aku yakin, kan aku menabraknya saat aku panik mencari suster dan dokter jaga."


"Sudahlah Mbak istirahat saja mungkin sakitnya Mbak Retno ada hikmahnya buat semuanya Aamiin..."


Tok tok tok...


Dr Prabu datang dengan keranjang parsel di tangannya dan tersenyum begitu manis, baru kali ini Ella dan Ismi melihat dengan jelas wajah simpatik tinggi yang gantengnya diatas rata-rata, wow...senyumnya begitu memukau memperlihatkan gigi yang putih dan rapi pakaian yang serasi dengan rompi rajut dan dandanan eksekutif muda masa kini.


Retno menahan tangan dua sahabatnya untuk tidak pergi dan ingin di temani, Ismi dan Ella tersenyum melihat tingkah Retno, dan mengerti kegelisahan hatinya, galau jiwanya dalam ketidak pastian kenyataan.


"Gimana masih lemas? makan paginya nggak habis, sekarang makan siangnya harus habis, tuh sudah ada makanannya, mau makan sendiri? apa temannya yang suapi atau aku yang suapi?"


Retno hanya diam dan menutup mukanya dengan ujung kerudungnya, Ismi dan Ella menahan tawa.


"Hai hai...ini waktu makan, seorang suster jangan suka pintar ngasih tahu sama pasiennya saja, giliran sendiri sakit nggak mau ikuti aturan itu, nih buahnya di makan juga bukan pajangan mau di kamar perawatan terus atau mau sembuh?"


Tak ada pilihan bagi Retno selain makan sendiri dengan di temani dr Prabu, karena Ismi dan Ella tahu diri dan langsung pada keluar, dengan membalikan badan membelakangi dr Prabu Retno makan jatah makan siangnya dan sekalian di habiskan entah karena emosi atau memang lapar atau juga biar dr Prabu cepat pergi.


"Heeeee... kalau begitu kan pasti cepat sehat lagi, nih minumnya, dan ini obatnya" ingin rasanya dr Prabu membalikan badan Retno dan menatap wajahnya dalam dalam hanya untuk mengobati kerinduannya selama ini, tapi di tahannya saja takut malah Retno meradang lagi dan berontak.

__ADS_1


Memang harus sabar dan sabar agar semua bisa jelas juga mengerti melihat permasalahan yang ada.


Tinggalkan jejak dan dukungannya, setengah mohon😆 komen, like, hadiah dan vote nya✌️💝


__ADS_2