Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Perjalanan


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Ingat, apa nggak ada yang ketinggalan coba ingat-ingat lagi."


Dr Prabu mengingatkan kembali Retno saat mereka telah duduk di jok mobilnya siap berangkat pagi itu.


"Nggak, semalam aku sudah periksa sampai sedetil detilnya semua sudah komplit, tinggal persiapan hati kita aja heee..."


"Kenapa dengan hatimu?" Dr Prabu melirik Retno di sampingnya.


"Seperti ada yang tertinggal, padahal hanya kenangan dan masa lalu kita, padahal suatu saat nanti kita akan kembali ke sini."


"Masa lalu kita memang teramat manis, seperti manisnya kamu heee..."


"Memang aku manis?"


"Manis banget, nanti aku buktikan. Jadi, jangankan orangnya kenangannya juga teramat manis untuk di lupakan."


"Buktikannya gimana?"


"Nanti, aku cium kamu."


"Yeeeee...suka sembarangan aja."


"Bilang sama orangtuamu prosesi jangan terlalu ribet yang paling simpel dan sederhana saja, nanti kita malah kecapaian heee..."


"Sabar Mas, tiga hari lagi kamu bebas mau ngapa-ngapain juga. Tapi prosesi ya diikuti lah."


"Baiklah, aku ikuti apapun juga."


"Gitu dong, jangan mempersulit diri sendiri."


"Datang-datang kita langsung di pingit dan perawatan, sepertinya Mas Prabu tinggal di rumah Pakde ku."


"Sama kamu juga?"


"Ya aku, di rumahku lah."


"Maksudnya? kita berpisah gitu?"


"Iya, berpisah sampai hari H nya masa belum sah kita sudah bersama, yang ada keluargaku mencak-mencak nanti."


"Jauh nggak?"


"Lumayan lah, yang pasti kita nggak satu rumah gitu."


"Yaaaaah... ada-ada aja, buat apaan sih? bilang kita sudah berpisah lima tahun apa kurang?"


"Itu lain lagi, bukan seperti itu yang di maksud, di sini sekarang adalah prosesi awal pernikahan, kita masuk pingitan."


"Seperti apa kira-kira apa yang harus di kerjakan?"


"Nanti juga akan tahu."


"Intinya biar melatih kesabaran, dan nanti saat kita bertemu kangen satu sama lain."


"Sekarang juga aku sudah kangen."


"Heeee... aku suku Jawa Mas, tata cara pingitan dijalankan oleh calon pengantin wanita. Selama menjalani masa pingitan, calon pengantin wanita tak diperbolehkan untuk keluar rumah atau bertemu orang lain bahkan calon pengantin prianya."


"Selama itu apa yang di kerjakan?" dr Prabu seperti penasarannya, pernah mendengar tapi belum jelas makna dan tujuannya.


"Dalam masa pingitan tersebut juga menjadi waktu untuk melatih diri dan merawat diri sebelum resmi menjadi istri.

__ADS_1


Selain itu, dalam masa pingitannya, calon pengantin wanita disarankan untuk memperbanyak serta memperdalam ilmu agama sebagai bekal saat berumah tangga nanti. Dan mendapat wejangan rumahtangga."


"Lha, pengantin laki-laki nya ngapain?"


"Menunggu dengan sabar."


"Retno, nelephon masih bisa?"


"Mungkin."


"Kok mungkin?"


"Mas, makna pingitan bagi calon pengantin suku Jawa secara sederhana agar calon pengantin bisa lebih fokus mempersiapkan diri dalam menghadapi hari pernikahan, dan untuk mempersiapkan mental agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik setelah pernikahan terlaksana. Jadi mungkin kita bisa teleponan atau nggak sama sekali."


"Aku sudah begitu siap sayang, malah hampir mendekati nggak sabar."


"Bahkan yang begitu yang benar-benar harus di pingit haaa..." Retno tertawa dengan lepasnya karena merasa lucu dengan ketidak sabaran Mas Prabu.


"Kamu tertawa dalam penderitaan ku!"


"Harusnya aku menangis?"


"Setidaknya beri gambaran dong...aku harus ngapain aja selama masa pingitan yang kamu bicarakan itu."


"Mas, selain itu makna pingitan dalam suku Jawa adalah untuk menjaga kepercayaan satu sama lain antara calon pengantin pria dan calon pengantin wanita. Di saat kedua calon pengantin tidak saling bertemu, tentu ada rasa khawatir yang menimbulkan keresahan. Maka, inilah momen dimana kedua calon mempelai diuji untuk saling menumbuhkan rasa saling percaya."


"Semacam Introspeksi diri?"


"Ya begitulah, aku malah di sarankan puasa dulu."


"Waduh, lemas dong nanti pas aku buka."


"Lemas apa?"


"Pada hari H-nya nggak puasa Mas."


"Di kira masih harus puasa."


"Emang benar selama tiga hari kita tidak boleh ketemu?"


"Mas denger ya, tradisi pingitan atau dipingit merupakan salah satu tradisi yang masih berlangsung di sebagian wilayah di Indonesia. Tradisi ini paling umum dijumpai dan dikenal dilakukan oleh suku Jawa yang melakukan tradisi ini sejak zaman kerajaan."


"Kamu sudah mempelajarinya atau sudah bertanya? kok tahu banget?"


"Ini zaman gadget, ponsel, komputer dan laptop apa yang tidak bisa kita tahu lewat internet?"


"Aku malah nggak pernah mencari hal-hal seperti itu, aku lebih memilih bagaimana cara bisa saling memberi kepuasan suami istri heee..."


"Eh, Mas sembarangan banget, kok malah begitu sih otaknya ngeres banget perlu di cuci bersih ini, tabu belum menikah bicara begitu."


"Itu hanya persiapan Retno sayang."


"Aku nggak suka! mesum itu namanya."


"Baiklah maafkan daku ya sayang, nanti kita ngobrol yang tadi kalau kita sudah sah. Oke kita lanjutkan bicara pingitan tadi sampai di mana?"


"Aku nggak mau!"


"Kalau ngambek kelihatan tambah cantik deh."


"Mas!"


"Iya, lanjutkan aku memang tidak tahu benar bagaimana prosesinya itu pingitan."

__ADS_1


"Aku serius nih, karena mau tidak mau kita harus mengikuti apa yang menjadi adat kebiasaan turun-temurun di keluargaku."


"Aku juga serius, menyimak."


"Pingitan pada zaman dahulu menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua bulan lamanya. Bagi para wanita yang dipingit di rumah saja tentunya akan dilanda rasa bosan."


"Alah buset..."


"Tapi denger dulu jangan banyak protes, biar nanti ngerti jadi nggak heran lagi."


"Oke, aku dengarkan dengan sebaik-baiknya."


"Pada zaman dahulu waktu yang dihabiskan untuk melakukan pingitan sangat lama, sehingga banyak yang tidak kuat menahannya. Selain itu, wanita modern kini sudah mengalami emansipasi, sebagian besar telah memiliki pekerjaan sendiri yang tidak bisa ditinggal begitu saja.


Seiring berkembangnya zaman dan disesuaikan dengan kebutuhan, tradisi pingitan saat ini menghabiskan waktu cukup singkat, hanya 1-2 minggu saja atau bahkan hanya 1-2 hari."


"Alhamdulillah..."


"Belum itu, belum selesai ulasannya."


"Haaaaaaaa... masih ada? ya sudah Mas dengarkan."


"Dalam masa pingitan, calon pengantin wanita dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mengusir rasa bosan. Selama masa pingitan calon pengantin wanita mendapatkan pelatihan seputar rumah tangga. itu jelas manfaatnya ada."


"Ya."


"Selain untuk mencegah bosan, dan melatih kesabaran, tentunya kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi calon pengantin wanita saat sudah berumah tangga. Terutama dalam tata laksana rumahtangganya nanti, baik dari segi pelayan suami istri juga dalam lingkungan baru bertetangga."


"Dan ini yang paling aku suka Mas, kegiatan yang dapat dilakukan calon pengantin wanita adalah mendapatkan perawatan fisik. Perawatan fisik dilakukan agar calon pengantin wanita tampak lebih cantik dan memancarkan “aura bersinar” saat pernikahan berlangsung."


"Aku juga mungkin paling suka hasilnya nanti haaaa..." Retno memukul pangkal lengan dr Prabu sambil tersenyum.


"Hasilnya mau, prosesnya nggak mau gimana Mas ini."


"Satu lagi Mas, pingitan juga memiliki tujuan untuk menanam rasa rindu bagi kedua calon pengantin, membangun rasa percaya satu sama lain, menjauhkan diri dari berbagai macam bahaya, serta untuk melatih kesabaran."


"Aku mengerti sekarang, kenapa harus ada kata pingitan dan di pingit, aku rela kok nggak ketemu beberapa hari, apalagi kalau bisa di kurangi satu hari saja heee..."


"Masih aja nawar."


.


.


.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta! habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih"...


...Jangan lupa mampir ke karya...


...terbaik bertitel,...


..."Pesona Aryanti"...


...By Enis Sudrajat, baca, like,...


...vote dan beri hadiah ya!...


__ADS_1


__ADS_2