
Retno, aku paling tahu dan mengerti isi hatimu, kamu marah kamu benci, kamu kecewa padaku aku tahu! Kamu memutuskan hubungan hingga tak ada nomor yang bisa aku hubungi, aku coba mengerti semua itu.
Mengerti, itulah sekarang kata yang sedang aku maknai dari semua kejadian yang kita lalui, kini aku jalani semuanya dengan ikhlas.
Aku tahu kamu belum membuka e-mail ini tapi aku tak perduli, aku ingin menyampaikan catatan perjalanan hidupku padamu sayang...
Aku telah datang pada keluarga A sebagai bentuk tanggung jawab penyelesaian masalah yang entah seperti apa, tapi A menghilang entah ke mana, sanak saudara telah di hubungi, nggak satupun yang tahu atau kedatangan dirinya.
Aku nggak mengharapkan balasan darimu sayang, tapi aku merasa kamu harus tahu itu semua.
Tak ada rasa yang lebih menyiksa selain saat aku tak tahu khabar istriku, tapi aku berdo'a semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja.
-Sangat merindukanmu...
Dr Prabu menutup laptopnya, yang terbayang di ingatannya hanya seorang Retno dan Retno yang begitu lekat menempel dan tidak hilang dari otak dan pikirannya.
Ingin rasanya langsung injak pedal gas menuju Bandung dan datang di hadapan istrinya, memeluknya sambil berbisik ungkapkan sejuta kerinduan yang tak tertahankan.
Siapa yang bisa sekejap menghilangkan rasa yang bertahun tahun di bangun dengan hatinya, manis madu cinta yang baru di reguk nya dengan sepenuh perasaannya harus kandas seketika.
Dr Prabu seperti seorang yang linglung, semua yang ada di rumahnya mengingatkan akan istrinya, pakaian tidur bekas pakai yang belum Retno cuci begitu mengingatkan segalanya, dr Prabu menciuminya seakan ingin mengobati luka yang begitu menganga di hatinya dengan linangan airmata.
Hatinya sakit, jiwanya juga luka begitu mendamba yang kini hanya bayangannya saja menjelma di tiap tempat yang pernah Retno tempatin.
Segala begitu mengingatkan, gelas yang pernah mereka pakai saat minum jamu bersama, selimut, kursi, sabun dan segala yang ada di rumah ini meninggalkan pesona istrinya dalam pikiran dr Prabu.
__ADS_1
Tak satu katapun terucap pada Bi Iyah ataupun Pak Min orang yang serumah dengan dirinya, mereka pun lebih mengerti, juga melihat raut muka juga respon kalau majikannya sedang dalam masalah, Jangankan untuk bertanya sungguh mereka tidak akan sanggup melakukannya, hanya do'a dan do'a dalam hatinya semoga rumah tangga keduanya rukun kembali hanya itulah harapan terbaik dari mereka.
Dr Prabu mencoba menjalani hari-harinya dengan normal seperti biasa walaupun tetap tak bisa dihindari pertanyaan orang dan juga raut muka muram tapi sedikit bisa di sembunyikan.
Mencoba membiarkan dan mengabaikan hatinya yang semakin sakit.
Mencari kepastian Alya yang entah kemana, seakan putus asa dalam dilema, Ibu Sofyan Wijaya Istri walikota jatuh sakit. Semua kejadian begitu mengguncangnya, mengganggu pikirannya begitu banyak akar permasalahan yang ditimbulkan dari akibat kesalahannya, di situlah dr Prabu menyadari dan mencoba melebur hatinya nya menjadi seorang yang ikhlas menjalani semuanya.
Setelah kepergian istrinya, dr Prabu datang kepada orang tua Alya diskusi sebaiknya apa yang harus diambilnya sebagai bukti tanggung jawab kalaupun harus menikahi Alya dr Prabu siap walaupun semua tidak didasari dengan cinta, tapi semua itu buyar karena Alya menghilang tanpa jejak dan khabar.
Dr Prabu semakin terpuruk dalam kesendiriannya, berharap bisa menyelesaikan masalahnya satu-satu, sekarang harus memikirkan hal lain lagi dan berubah mencari khabar Alya dulu, niat menikahinya walau secara agama, dan itu di setujui orangtua Alya sebagai bukti dirinya ayah biologis dan pengakuan secara jujur.
Di akui orangtua Alya niat dan kesiapan dr Prabu menikahi anaknya adalah formalitas belaka tapi tak apa, pengakuan juga itu sudah suatu titik terang bagi Pak Sofyan Wijaya dan istri.
Akan mencoba mencari jalan terbaik menurut apa yang ada dalam pikirannya, setelah dipertimbangkan baik buruknya ternyata dirinya tak ada jalan lain selain harus menikahinya itulah pilihan sebagai konsekuensi.
Suster kepala Miranti bertanya kemanakah Istri sang direktur? bukankah sudah pindah ke sini kerja dan menetap di sini? itulah pertanyaan yang dilontarkan orang-orang terdekatnya hanya dr Imam SpOG yang mengerti semuanya.
Semenjak cuti mereka selesai hanya dr Prabu yang kembali beraktifitas tak terlihat wajah cantik sang istri direktur, padahal suster kepala Miranti ingin sekali bertemu dan ingin sedikit menggodanya, sebagai kebiasaan terhadap pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan, dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri baru.
Dr Prabu cukup menjawab kalau Retno mengambil cuti dulu karena ingin fokus pada skripsinya, walaupun itu jawaban sangat dimengerti tetapi tetap saja menimbulkan keheranan, bukankah dari kemarin-kemarin juga Retno menjalani kuliah sambil bekerja, tapi kenapa hanya ingin fokus pada skripsi sampai mengambil cuti tanpa batas waktu?
Tapi keheranan itu hanya ada dalam hati suster kepala Miranti yang sebenarnya suster kepala Miranti tidak tahu ada apa.
Mengikhlaskan istrinya sungguh tidak mampu, dalam hatinya selalu ada secercah kecil sinar harapan, walau jauh didalam hatinya dr Prabu mengharap maaf yang ingin diucapkan istrinya, dan dirinya berjanji akan memegang teguh maaf itu sepanjang hidupnya sebagai kesempatan berharga yang di berikan.
__ADS_1
Ini hari ketiga sejak dr Prabu masuk kerja kembali dan mungkin hari ke lima sejak malam itu Retno pergi dari rumah, dr Prabu menjadi tak betah di rumahnya semua mengingatkan yang ada di rumahnya begitu mengingatkan akan istrinya.
Apalagi saat masuk kamar pribadinya dimana tempat mereka memadu kasih, begitu sesak rasa hati dr Prabu membayangkan istrinya dalam pelukannya dan mereka saling mengeksplor gejolak yang mereka rasakan saat itu.
Tapi semua kini hilang dalam sekejap, menjadikan dr Prabu jarang pulang, semua kegiatan aktifitasnya hanya di kantor, pulang ganti pakaian dan kembali ke kantor dan tak sedikitpun bicara pada Bi Iyah ataupun pak Min.
Tapi walaupun mencoba menyibukkan diri dengan segala aktifitas dan kegiatan tetap saja segala sesuatu mengingatkan akan Retno istrinya, sedang apa dia? mungkin di kost nya, atau di kampus dengan teman-temannya sedang bercerita tentang gagalnya rumah tangga mereka, atau sedang makan, atau lagi bercerita pada suster kepala Harni, atau sedang sendiri seperti dirinya yang begitu merindukannya.
Kemana arah langkahnya kini semakin tak menentu, jika sampai Alya tak di ketemukan apa yang akan terjadi? akan selamanya juga dirinya dalam ketidak pastian?
Dr Prabu memandang nanar laptop di hadapannya, satu satunya alat komunikasi buat dirinya, untuk bisa mencurahkan isi hati pada istrinya.
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
Hai, readers tercinta! habis baca
"Biarkan Aku Memilih"Jangan lupa mampir ke karya terbaik bertitel, PESONA ARYANTI
By Enis Sudrajat juga, baca, like,
__ADS_1
vote dan beri hadiah ya!