Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Final 3


__ADS_3

Retno keluar dari kamar ganti. Semua pakaiannya telah di ganti sampai kerudung-kerudungnya, mengenakan jaket almamater merah hati kebanggaannya membuat Retno begitu kelihatan cantik dan seperti lebih muda dari usianya.


Bertiga berjalan menuju arena permainan selanjutnya. mereka mencari tempat menonton yang muat buat duduk bertiga.


Di tengah lapangan terlihat Mas Prabu sedang pemanasan. Di seberangnya Rendra Hariwijaya yang akan menjadi lawannya di partai final ini.


Retno tersenyum melihat Mas Prabu begitu bernafsu ingin mengalahkan Rendra, tatapannya tajam nggak ada sedikitpun senyum dari bibirnya dan terlihat kejam, tapi Retno suka pembawaan apapun dari Mas Prabu.


Saat romantisnya, saat bercandanya, juga suka saat marahnya. Aneh memang bagi Retno menyukai segala pembawaan yang ada di diri Mas Prabu. Apalagi kalau sudah urusan dengan cemburunya bikin hati panas dingin.


Apa dasarnya cemburu dan benci kepada seseorang Rendra Hariwijaya? hanya karena dia berteman baik dengan Retno? apa karena dia laki-laki dan Retno perempuan? apa salah dan anehnya.


Diakui Retno ada sinyal kuat di diri Rendra Hariwijaya yang mungkin terlihat sama Mas Prabu. Dan itu bukan untuk pertama kalinya Retno menerima perhatian dari laki-laki lain selama 5 tahun belakangan ini, Retno tetap menganggapnya semua itu biasa saja.


Rendra memang ganteng, postur tubuh sangat ideal, juga karir yang terbilang cemerlang tapi ada yang kurang di pandangan Retno entah apa, pokoknya tidak se-srek perasaannya sama Mas Prabu.


Mas Prabu kelihatan begitu menikmati permainannya. Selain dengan pandangan dinginnya terhadap Rendra pukulan-pukulannya juga sangat mematikan. Tetapi Rendra juga bukan tanpa perlawanan seperti kelihatan ada adu gengsi di arena lapangan bulutangkis ini.


Retno begitu menyukai persaingan ini karena akan menyuguhkan permainan yang sebenarnya.


"Hai! Anteng banget nonton, apa melamun atau membayangkan itu otak?" Ella menyenggol tangan Retno yang melotot melihat permainan.


"Eh, Ella. Aku serius menonton berhalu-halu juga iya haaa..."


"Dasar lo! masih aja di lamunin, padahal lo udah ngalamin."


"Ngalamin apaan maksud lo heh?"


"Ya, semuanya nggak usah di bayangin lagi deh kan semua sudah lo alami kan? pelukannya, ciumannya, gue jadi iri dengki nih"


"Gue tanya sama lo jujur jawab. dari dua yang lagi main di lapangan itu mana yang lebih ganteng?"


"Nih orang kesambet apa?" Ella menatap dan meneliti muka Retno sambil menahan senyum, mencari keseriusan dari apa yang diucapkannya.


"Serius gue nanya pendapat lo apa sependapat dengan gue nggak?"

__ADS_1


"Ganteng itu relatif Mbak Retno sayang, tergantung kita melihatnya dari sisi mana perasaan kita kalau menurut gue."


"Memang lo bisa menjabarkan jawaban yang lo berikan itu?"


"Gampang. Memang Mbak Retno saja yang pintar apa? sepertinya pandangan setiap wanita akan sama dan akan sependapat dengan jawabanku."


"Ceilaaaaa...iya Bu dosen!"


"Menilai ganteng, cantik baik buruknya seseorang itu tergantung perasaan kita. Kita suka semua akan berimbas kepada jawaban pasti baik, tetapi kalau perasaan kita tidak cinta, tidak srek pada seseorang penilaian kita juga akan kurang baik."


"Terus yang di lapangan lo pilih faktanya suka sama siapa?"


"Jelas gue bingung dodol! mau suka sama Pak Prabu nanti lo marah, mau bilang suka sama si ganteng Rendra juga belum tentu dia suka dengan jawaban gue. Yang pasti kalau lo milih-milih jelas pilih Pak Prabu ya kan?"


"Ya iya lah, buat apa gue tunggu lima tahun?"


"Nah jelas kan karena pilihan tergantung perasaan kita, nggak usah di tanyakan."


Retno tertawa, ternyata si Ella benar-benar pintar dengan jawaban yang menurutnya pasti semua perempuan akan sependapat dengan dirinya.


"Dia ada di sini?"


"Pokoknya gue mau lo tempel tuh Pak Prabu jangan sampai lepas, ulat bulu kayak dia pasti selalu memanfaatkan sekecil apapun peluang untuk keinginannya."


Retno diam. Belajar dari pengalaman yang kemarin-kemarin Alya memang selalu memanfaatkan kelemahan Mas Prabu dengan alasan jabatan, dengan alasan kenal dengan orang tuanya dan dengan alasan orang tuanya berkuasa di wilayah ini, benar jangan sampai aku lengah.


"Hai Mbak Retno, jangan-jangan si Alya sudah ada di ruangan Pak Prabu pokoknya aku menangkap kecurigaan dan yang tidak baik seperti memanfaatkan moment-moment seperti ini si Alya itu."


"Ah, lo jangan terlalu berpikir jauh nggak mungkin masuk ke ruangan tanpa izin orangnya. Kan pasti ruangan itu juga dikunci."


"Eh Mbak, seribu cara dan alasan pasti di cari-cari si ulat bulu itu. Gue tahu karakter seperti dia itu coba waktu itu juga dia kan ketahuan benar-benar pura-pura sakit, obatnya nggak ada yang diminum terkumpul di tempat sampah jadi trending topik di rumah sakit ini."


Retno diam, hatinya baru merasakan takut kehilangan lagi setelah perjuangan panjang mempertahankan perasaan dan perasaan cintanya. Hatinya seolah nggak rela seandainya masih ada kerikil-kerikil yang menghalangi cinta mereka tetap akan mempertahankan apapun yang terjadi. Hatinya sudah mantap dan tetap akan berpihak kepada cintanya.


"Tuh Mas Prabu mu sudah set ketiga turun yuk, buktikan jadi kita mengawinkan piala hari ini. Tinggal mengawinkan orangnya nanti haaaa..." Ismi menarik tangan Retno untuk turun ke bawah lagi dan lebih dekat dengan lapangan, Biar mereka kelihatan sama Mas Prabu kalau mereka semua memberi semangat kepadanya.

__ADS_1


Dilema lagi bagi Retno, mau bersorak memberikan tepuk tangan dukungan dan support terhadap Mas Prabu, terhalang oleh tenggang rasa terhadap lawan Mas Prabu seorang Rendra Hariwijaya temannya yang telah baik terhadap dirinya.


Retno memilih diam saja menonton dengan serius sambil sesekali memberikan tepuk tangan saat keduanya memberikan tekanan dan perlawanan.


"Gue turun dulu ya, takut gue di bilang nggak memberi perhatian dan dukungan."


"E-eh lo turun buat siapa, Pak Prabu apa si Rendra?"


"Dasar lo! pikir aja sendiri."


"Haaaaa..."


Benar saja Retno turun ke samping lapangan di tempat istirahatnya dr Prabu set ketiga nilai 11-7 istirahat mengambil nafas dan minum dulu.


Retno menyodorkan botol air minum yang sudah di bukanya, dr Prabu menerimanya menatapnya sambil tersenyum di sela-sela napasnya yang tersengal ngos-ngosan dan tak beraturan.


"Te-ri-ma-kasih sayang."


"Mas, seperti menikmati banget permainan ini, dan tak sedikitpun memberi celah dan peluang kepada lawan?"


"Se-perti aku menikmati ke-ber-samaan kita sayang, Tak ada celah dan peluang untuk siapapun." dr Prabu memberikan handuk pada Retno, wasit telah memanggilnya kembali karena waktu istirahat sudah selesai.


Dr Prabu mengangguk pada Retno dengan senyum penuh arti. Sedangkan di seberangnya Rendra sudah bersiap di tengah lapangan tak ada waktu bagi dirinya untuk merebut set selanjutnya kecuali menang di set ini, karena saat ini adalah set ketiga terakhir seandainya Rendra tak memenangkannya maka kemenangan mutlak milik dr Prabu, sekaligus mengantarkannya pada juara kembali di tahun ini.


Tapi seandainya Rendra memenangkan set ini ada harapan untuk maju ke babak selanjutnya menjadikan rubber set. Tapi itu mustahil karena sekarang juga dr Prabu tetap unggul di set ketiga sudah tinggal menghitung jari untuk mengakhiri game poin.


Pembelajaran kembali dan latihan mental serta jam terbang bermain bagi seorang Rendra untuk bisa menyamai kemampuan yang dimiliki dr Prabu karena dr Prabu memulai hobi dan menjadikannya juara di tiap event dari semasa kuliahnya dulu.


Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏


...Hai, readers tercinta habis baca...


..."Biarkan Aku Memilih" Jangan lupa mampir ke karya bertitel "Bukan Pernikahan Impian" author green_tea sahabat terbaikku sangat berbakat, baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya!...


__ADS_1


__ADS_2