Biarkan Aku Memilih

Biarkan Aku Memilih
Fantasi Alya


__ADS_3

"Bu Alya, semua ada saatnya jangan dulu berprasangka buruk pada siapapun atas apa yang menimpa kita, terlebih pada suami dan keluarga sendiri, hasil lab ini menunjukan bagus semua, mungkin sabar dan ikhlas juga banyak berdoa karena itu juga tak kalah pentingnya," ucap dr Imam santai menatap wajah cantik di hadapannya.


Alya tersenyum samar, dr Imam tak bisa menebak ke mana arah pikiran dan tujuannya.


Alya selalu memilih konsultasi terakhir karena dirinya merasa tidak cukup kalau waktu di batasi, jadi biarkan orang lain masuk dulu yang punya nomor antrian belakangan, juga dalam keadaan sudah hamil Alya suruh masuk duluan, jadi dirinya merasa bebas kalau sudah tidak ada orang yang menunggu.


"Dok, maaf Aku jadi ngobrol hal pribadi dan banyak bertanya di luar konteks permasalahan, Aku hanya ingin tahu apa dr Prabu baik-baik saja?" tanya Alya bertanya yang bukan masalahnya, melenceng jauh dari yang seharusnya ditanyakan di ruang praktek dr Imam SpOG.


"Kenapa? ada apa? dr Prabu baik-baik saja juga istrinya Retno yang sedang hamil." jawab dr Imam memandang Alya meneliti tiap lekuk wajah cantik penuh misterinya Alya.


"Aku hanya ingin mendengar kabarnya saja, dan kalau memungkinkan Aku ingin menjalin persahabatan kembali, hanya itu saja," tutur Alya sok polos dengan ucapannya.


Mungkinkah mereka yang sudah punya riwayat seperti Alya dan dr Prabu bisa menjalin persahabatan kembali? rasanya tak begitu mudah memulai hal baru lagi sedang hati mereka bertolak belakang, mungkin hanya Alya yang punya tujuan lain tak bisa di tebak isi hatinya.


"Eh, dokter sendiri gimana statusnya?" tanya Alya. pertanyaan yang membuat dr Imam gelagapan.


"Aku nggak laku-laku Al, masih setia dengan status lamaku hahaha..." dr Imam terkekeh sendiri di iringi senyum Alya.


"Masa sih? kenapa tidak mencari? begitu sulitnya mencari seperti Aku yang begitu sulitnya meraih sesuatu yang begitu Aku inginkan?" sela Alya tetap bicaranya ke soal pribadinya yang menurut pandangan dr Imam ujung-ujungnya bertanya tentang sahabatnya dr Prabu.


"Apa harapan Kamu Al dengan dr Prabu yang kini sudah berumahtangga, sudah bahagia, dan sebentar lagi menyambut buah hati mereka?" selidik dr Imam mengundang hatinya untuk tahu sedikit saja isi hati Alya.


"Aku masih mencintainya dokter! tanpa syarat apapun, Aku tak perduli sekarang sudah berumahtangga, perasaan itu tetap ada tak tergantikan, Aku gila? mungkin! Aku juga bersuami seorang Rendra yang nyaris sangat tidak ada cela nya tapi hatiku tetap terpaut pada satu orang itu!" jawaban Alya membuat dr Imam menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya mendadak berdenyut sakit.


"Alya! semua itu sudah tak mungkin, buat apa menyiksa diri dengan memupuk perasaan sendiri?" jawab dr Imam sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Selalu ada kemungkinan dokter! bukankah itu yang selalu dokter ucapkan pada semua pasien yang putus asa dengan masalahnya?" Alya terlalu pintar kalau soal bicara topik apapun.


"Tapi ini berbeda Alya, janganlah punya rasa yang salah seperti itu, Kamu masih bisa bahagia dengan siapapun, suamimu yang kamu bilang tanpa cela kenapa kamu sia-siakan?" Pertanyaan dr Imam sudah seperti tusukan, tapi Alya biasa saja.


"Aku salah? memang salah dok, tapi semua itu tak bisa di bohongi. Setiap Aku melihat poto mesra Aku dan dr Prabu walau itu Aku yang buat sendiri dan Aku merasakan pertama kali dr Prabu merenggut sesuatu dariku semua itu bagiku adalah trauma yang mengasyikkan untuk merasakan kembali, menjadi satu fantasi yang tak bisa di lupakan," senyum tak bisa di tebak di wajah Alya menghadirkan ketakutan di hati dr Imam.


"Astagfirullah Alya, tolong stop jangan bicara begitu. Pola hidup sehat, pikiran positif, banyak istirahat, tidak terlalu capek juga hidup bahagia menunjang pada cepatnya seseorang bisa hamil," dr Imam mengalihkan.


"Aku melakukan semua itu dok, tapi memang dasarnya Aku salah semua di rasa bersama suamiku tak ada istimewanya. buktinya Aku belum bisa hamil." Alya seakan menyalahkan dirinya sendiri.


Habis sudah omongan secara ilmiah, pendapat pribadi atau alasan apapun di hadapan Alya intinya Alya tidak bahagia dengan pernikahannya, apalagi sekarang belum bisa hamil itu salahsatu yang menjadi tuntutannya pada pernikahannya.


"Intinya sabar Al, dan sabar itu saja, positif thinking pada siapapun jangan merasa kita paling terpuruk mari kita tenggang rasa dan melihat orang yang tidak beruntung jauh di bawah kita. Belum tentu misal kalau dr Prabu bisa bersamamu itu akan menjamin hidupmu bahagia. Harusnya kita melihat orang bahagia kita merasakan semua itu," jawab dr Imam merasa percakapan sudah bukan konsultasi lagi.


"Itu yang sulit dok, bahagiaku mungkin berbeda. Aku bahagia kalau semua harapanku bisa Aku raih dan memberikan kepuasan pada hatiku sendiri."


"Siap dokter, biar Aku yang traktir boleh banget mau makan di mana?"


"Di depan sini saja yang dekat."


Alya terlihat berseri dan tersenyum. dr Imam terlalu baik dan terbuka soal apapun membuat Alya begitu leluasa dan banyak alasan dirinya berlama-lama di rumahsakit itu.


Satu harapannya bisa bertemu dr Prabu, itu kebahagiaannya.


Alya mengaku itu salah, tapi siapa yang mau jadi orang yang salah, kecuali pengakuan dari dirinya itu dianggap lazim membahagiakan diri sendiri itu alasannya.

__ADS_1


Alya sadar, dr Prabu tak sendiri lagi kini, tapi hatinya mengatakan tak masalah itu bagian dari proses ingin bersahabat lagi, bisa dekat, bisa menatap wajah tampannya, bisa mendengar suaranya itu kebahagiaan bagi Alya.


Salah satunya Alya harus cari orang dan kini semua telah berhasil di jalaninya, makan dengan dr Imam itu salah satu keinginannya walau dr Imam yang mengajaknya.


Alya begitu tanpa beban, walau statusnya kini sudah menikah, berjalan bersisian dengan dr Imam membuat beberapa mata memandangnya dengan tatapan aneh.


Intan yang Akan pulang mau bertemu dulu sekedar pamit sama dr Imam menurut pada perintah dan nasehat Kakaknya dr Prabu keheranan melihat dr Imam jalan bareng Alya ke tempat makan.


Intan tahu siapa Alya juga bagi kakaknya tak ubahnya Alya adalah duri dan ulat yang mengincar kebahagiaan Kakaknya dan siap dengan tusukan dan racun yang akan menghancurkan, kini jalan sama kekasihnya yang lagi renggang hubungannya.


Intan tak jadi pamitan malah datang ke kantor Kakaknya di mana dr Prabu masih berkutat di mejanya.


Intan tak bicara apapun, hanya diam sambil terisak duduk di sofa.


.


.


.


.


.


Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2