
"Intan, syukurlah Kamu sudah sembuh. Maafkan Aku semua di luar kuasaku, tapi Aku akan berusaha bicara memastikan dan menegaskan kembali tapi sepertinya Vionna merasa suka di kenalkan padaku," ucap dr Imam seperti tak bisa bohong soal Vionna mending jujur dan terus terang apa adanya barangkali ada solusi yang bisa Intan sumbangkan pada masalahnya.
"Sudahlah Mas, buat apa memaksakan diri datang ke sini, Aku mengerti posisimu, tapi kalau masih mungkin diantara kita ada harapan kita bisa berjodoh mungkin itu keajaiban, tapi selebihnya Aku tak berharap. Aku sudah merasakan sikap tak menerima kedua orangtua Mas Imam, cukup semua itu jawaban buatku." Intan bicara sambil menunduk sesungguhnya rasa cinta dan sayang dalam hatinya tak bisa dipungkiri hubungan setahun tak bisa di abaikan dan begitu mudah kalau harus seketika berubah melupakan.
"Intan jangan bicara begitu, apapun akan Aku lakukan selama Aku mampu, Aku hanya ingin melihat semangat di dirimu kalau kita bisa melewati semua ini, persoalan Aku bisa datang setiap saat juga Aku berusaha datang kalau waktunya bisa Aku atur," sahut dr Imam berusaha meyakinkan Intan.
"Mas, apalagi harapanku kini?apa yang bisa Aku harapkan dari hubungan seperti ini? apa Mas memaksa biar Aku tetap berjiwa besar dan berharap? sementara orangtua Mas sibuk dengan caranya sendiri dengan berbagai cara mendekatkan Mas dengan perempuan itu! sampai kapan Aku harus bertahan dengan rasa ini? sampai mendapat kepastian Mas menikah dengan perempuan itu?" timpal Intan sambil menatap wajah dr Imam yang kelihatan kuyu.
"Intan! lihat Aku. Aku mencintaimu melebihi apapun, tolong jangan kecilkan hatiku dan jangan halangi keinginanku untuk tetap memilikimu, Aku yakin Kita bisa melewatinya masalahnya hanya soal waktu saja, beri Aku waktu untuk bisa menjelaskan pada Vionna juga kedua orangtuaku," ucap dr Imam kelihatan begitu serius, hatinya berontak menerima sikap Intan yang seperti mengalah pada kenyataan.
__ADS_1
"Aku juga sama Mas, mencintai dengan segenap jiwa ragaku, tapi aku tidak siap dengan kekecewaan dan terluka terlalu dalam, Mas tahu hatiku biarkanlah semua berjalan apa adanya, hatiku terlanjur terluka mungkin bagi kita hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki," ucap intan dengan perasaan yang kelihatan ditekan.
"Tidak Intan! Aku mencintaimu begitu juga Kamu kitalah pemenangnya, apapun yang terjadi tolong jangan tinggalkan Aku dan biarkan aku dalam kegelisahan sendiri," suara dr Imam terdengar begitu bergetar.
"Kenapa Mas yang malah meratap? Aku perempuan berusaha tegar dan melihat permasalahan kita ini baiknya seperti apa, Aku ingin yang terbaik kalaupun harus ada penyelesaian diantara kita," ucap Intan lagi seperti pasrah saja pada keadaan dan jalan apapun buntu buatnya.
"Intan maafkan Aku juga orangtuaku, Aku tak ingin kita berpisah, Aku Tak akan bisa, Aku tidak siap jangan ucapkan kata itu kita tidak akan berpisah sampai kapanpun,"
"Aku juga bingung Intan, protes terlalu keras mereka kedua orangtuaku juga menyakiti Vionna juga itu saudara jauhku, pokoknya Aku tak ingin kita berpisah Intan," ucap dr
__ADS_1
"Baiklah Mas, kita pertahankan pertalian hubungan ini tapi seandainya salah satu diantara kita saling menyakiti Aku mungkin tak bisa berpikir panjang lagi, Sampai saat ini Aku masih bisa menjaga rasa ini tetap ada, tapi kalau ada hal lain yang tidak kita inginkan Aku juga mungkin akan jadi seperti orang apa mungkin saja menutup diri untuk kehadiran pria lain."
"Intan, Kamu mau ke Bandung sekarang? biar Aku antar sekalian Aku pulang nanti, mana orangtuamu biar Aku pamitan pada mereka." ucap dr Imam sambil memegang tangan Intan yang banyak diam di banding sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Masa Lalu Sang Presdir, Cinta Di Atas Perjanjian, By Enis Sudrajat 🙏❤️