
Dr Prabu menghampiri Retno dan memeluknya, seketika Retno berontak, menepis kedua tangan itu dan melepaskan pelukan dr Prabu tapi apa daya tubuh atletis itu mengungkungnya begitu kuat.
"Kerjaannya marah-marah saja, dan cemburu."
"Mas!"
"Diam! aku nggak akan memaksa kalau kamu nggak seperti ini."
"Lepaskan! aku keringatan lihat tuh basah semua."
"Biarin, aku suka."
"Aaaaaaah... aku nggak mau di peluk begini, lepaskan!"
"Terus maunya apa?"
"Aku mau Mas pergi."
"Kalau itu aku yang nggak mau."
Dr Prabu memegang kedua tangan Retno dan di lingkarkan di pinggangnya tetapi Retno melepaskannya dan mendorong perut dr Prabu, dr Prabu meringis tapi tetap memepet Retno di tembok hingga tak bisa bergerak.
"Kamu ini maunya apa sih? di ajak ngomong baik-baik nggak mau, di beri penjelasan nggak mau di sayang-sayang malah tambah galak, di peluk nggak mau, sepertinya mau aku cium sekalian."
Dan dr Prabu meraih punggung atas Retno dan menariknya. Mau tidak mau badan mereka berhimpitan dada mereka beradu dan Retno membuang mukanya tapi tak bisa karena kepalanya sudah mepet di pojok tembok dan dr Prabu perlahan mencari bibir yang terkatup rapat dengan sesekali menyentuh pipi Retno, sekali sentuhan dagu dan kumis yang tiga hari belum di cukur membuat Retno merasa geli di kulit halus sekitar wajahnya seperti agak kena tajam-tajam dan berhenti berontak, kesempatan buat dr Prabu bibir panasnya menyentuh bibir Retno dan sedikit menggigitnya, dan Retno hanya kejang yang di rasakannya.
"Habis ini silahkan kalau mau marah-marah lagi, tapi aku nggak suka kamu di pegang-pegang orang lain."
Dan kembali mereka berciuman tapi tanpa balasan dari Retno, hanya dingin nggak ada penyambutan seperti hilang gairahnya dan rasanya dr Prabu menghentikan kegiatannya dan melepaskan pelukannya, dengan menatap wajah Retno, lalu Retno mendorongnya menjauh dan Retno masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
tok tok tok...
"Retno buka dulu." nggak ada jawaban.
tok tok tok...
"Retno nanti lanjutin di ruangan ku ya, pokoknya aku mau bicara."
tok tok tok...
"Aku keluar dulu."
Dr Prabu nggak bisa apa-apa akhirnya dirinya keluar dan berjalan menuju ruangannya, sulit rasanya memberi pengertian pada Retno apalagi sekarang istilahnya sakit hati karena perlakuannya kemarin awal-awal bertemu masih belum luntur seratus persen, dan jauh dari kata sembuh juga hilang di tambah siang tadi dengan matanya sendiri Retno melihat Alya lagi mengusap pundak dan dadanya dalam posisi badan beberapa centimeter saja, jelas pukulan kedua yang sangat telak buat hati dan perasaan Retno. Apapun penjelasan nggak bakal masuk dan mempan jadi biarkanlah dulu biar bisa tenang dan sedikit bisa saling berfikir dengan benar, apapun tetap harus dirinya yang lebih bijaksana dan mengerti bahkan mengalah untuk Retno yang sangat di cintainya.
Dr Prabu menghela nafas dan duduk melempar dirinya di sofa, sambil berfikir apa yang baik di lakukannya dan tidak menimbulkan salah faham.
Semua masih sangat panas hati dan perasaannya.
Datang dr Imam SpOG diikuti Intan yang kelihatan masih malu dan ragu masuk bareng ke ruangannya, kelihatan dari jalannya agak berjauhan dr Imam duluan masuk dan mengetuk pintu baru di susul Intan.
"Tan mana bawain aku makan siang nggak? ini sudah mau jam setengah empat aku belum makan dari pagi."
"Iiiiiiiiiih...Kakak kebiasaan banget, kenapa nggak ngomong, ngapain menyiksa diri sampai nggak makan segala lupa apa nggak lapar apa banyak fikiran?"
__ADS_1
"Beliin sana bukannya lapar tapi kewajiban saja dan hak tubuh menerima makanan, sama apa aja terserah aku takut pingsan nih."
Intan keluar lagi mau beli makanan dan dr Imam duduk di sofa menatap sahabatnya dengan keheranan seperti lagi kalut banget.
"Ada apalagi boss ,sampai nggak makan segala?"
"Parah Retno ngambek lagi sepertinya lebih akut dari kemarin-kemarin, baru aja mulai berangsur aku tanamkan percaya di hatinya aku bikin kesalahan lagi, Retno melihat aku di kamar perawatan Alya waktu Alya mau pulang, kamu tahu sendiri agresifnya si Alya lagi berhadapan pegang bahuku aku lambat mengantisipasi Retno datang mau ngasih tahu kalau Pak Burhan datang dengannya ke sini, ya kejadian lah Retno ngambek lagi."
"Apa yang bisa aku bantu boss?"
Sekarang manggilnya dan bicaranya nggak Lo gue dengan dr Prabu sedikit menjaga sikapnya, dan intinya biar ada lampu hijau untuk hubungannya dengan Intan adiknya.
"Katanya mau minta maaf sama Retno, juga suster kepala Miranti sudah belum?"
"Belum boss biar nanti aku ajak dulu dan ngomong nya bareng Bu Miranti."
"Iya barangkali mengurangi beban hati Retno biar tak merasa di kucil kan saja keberadaannya di sini."
"Iya malah tadi juga Intan merasa prihatin ngomongnya, dan akan mendukung semampunya termasuk mungkin pendekatan dengan Retno."
"Malah Intan belum tahu kasus yang tadi dengan Alya, Aku bingung darimana lagi meyakinkan Retno."
"Semoga cepat beres boss dan happy lagi."
"Sepertinya masih jauh."
Dr Prabu begitu jauh melamun memandang masa depannya dengan perasaan mandeg dan perasaan bersalah menggunung di hatinya, Retno begitu kasar bicaranya meluapkan perasaan cemburu dan emosinya, tak bisa di ajak damai dan di beri pengertian,apa aku ini memang laki-laki tak berperasaan?
"Nih makanannya, ayo aku temenin makannya." Intan membukakan nasi kotak untuk Kakaknya.
"Ya elah Intan aku restui deh hubungan kalian nggak usah berlebihan cari perhatianku dan membeli hatiku."
"Haaaaaaaa..." dr Imam terbahak.
"Idiiiih... Kakak orang niat baik juga malah kemana mana."
"Iya, aku juga tahu adikku yang cantik terima kasih"
"Barusan aku ketemu Mbak Retno lagi pada mau absen di depan."
Dr Prabu melihat pergelangan tangannya dan mempercepat suapannya, dan memberi kode pada dr Imam untuk ke ruangan suster kepala Miranti dan dr Imam mengerti lalu bangkit ke luar dan sekilas mengusap kepala Intan sambil tersenyum.
"Katanya kamu di Bandung punya pacar hati-hati main hati"
"Kakak kata siapa?"
"Kata adikmu Rahma waktu aku pulang."
"Alaah... si Rahma di dengar."
"Bukan begitu Intan, ini Kakak serius jangan mengecewakan hati seseorang."
"Iya Kak Intan tahu,apalagi Mas Imam teman Kakak aku sangat menjaganya."
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu tahu, juga harga diri kamu sendiri yang paling harus di jaga."
"Pacaran sama orang dewasa pasti ada resikonya."
"Maksud Kakak apa?"
"Resikonya, pasti cepet nikahnya haaa..."
"Aaaaaah...Kak Prabu Intan kira resikonya apa? masih jauh Intan mah ke arah itu, Kak Prabu saja jalan di tempat."
"Jauh gimana lha pacarnya sama usianya sama aku, dr Imam itu sudah dewasa makanya hati-hati pokoknya jangan kecewakan, urusannya akan berimbas pada pertemanan aku dan dr Imam, makanya Kakak belum nanya pada kalian lebih ke ingin kalian sendiri yang ngomong duluan biar kelihatan seriusnya,kamu juga kuliah belum selesai."
Intan diam tak sedikitpun mengomentari apa yang di ucapkan Kakaknya.
"Mbak Retno lagi mendung tuh kenapa Kak?" Intan mengalihkan pembicaraan tentang dirinya dan dr Imam.
"Mendung gimana?"
"Slow respon saja, pas aku sapa"
"Tapi jawab?"
"Jawab cuma senyumnya nggak seperti biasanya."
"Lagi nggak mood atau lagi capek kali."
"Kakak udah baikan kan?"
"Sudah."
"Syukurlah."
"Besok malam jadi ajak Mbak mu ke rumah ya, dan hari minggunya pembukaan turnamen bulu tangkis langsung penyisihan awal, kamu mau lihat Retno main?"
"Mbak Retno ikut juga serius Kak?"
"Iya."
"Kakak yang ajak dan daftarin ya?"
"Hus, ya sendirinya lah kan dia punya team KKN mungkin perwakilan dari mahasiswa KKN
tapi aku belum lihat jadwalnya, gimana ya Retno mengatur jadwalnya ya?"
"Iya Kak kan Mbak Retno kerja juga di Bandung."
"Izin lah kalau nggak di izinin Pak Burhan aku yang akan mintakan izinnya heee..."
"Hemght gratifikasi."
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih