
"Intan kamu jadi pulangnya?" dr Imam SpOG memandang Intan yang kelihatan agak mendung.
"Aku masih malas pulang." Intan menjawab dengan muka tidak memandang kepada dr Imam.
"Lho kenapa, katanya sudah habis liburannya? kelihatan betah banget di sini heee..."
"Iya habis dari kemarin-kemarin juga tapi biarin masih suka belum aktif di awal-awal masuk, aku mau melihat Kak Prabu main dulu di lapangan."
"Mau melihat Kak Prabu, apa melihat dan menemani aku main?"
"Mungkin dua-duanya heee..." Intan malu dan agak bingung juga mau jawab apa.
"Apa calon Kakak ipar mu Retno nggak mau di tonton juga, harusnya tiga orang yang menjadikan kamu penasaran di sini dan di turnamen itu."
"Aku lupa Mas, padahal Mbak Retno sangat aku favoritkan."
"Kamu ini gimana bukannya aku yang kamu favoritkan, kok jadi Mbak Retno sih?"
"Cemburu jangan sama cewek dokter, tapi sama cowok!"
"Haaaaaaaa...kamu bisa aja." dr Imam melempar tissue yang di kepalkan ke badan Intan dan Intan tertawa dengan renyahnya.
"Aku antar ya pulangnya nanti."
"Bilang sendiri sama Kak Prabu."
"Gampang pasti dia izinin aku antar kamu, karena sendirinya juga pasti lagi sibuk, sepertinya hubungannya belum kondusif sama Retno ada aja riak-riak kecil yang jadi percikan masalah mereka"
"Mas Imam pede banget, apa yakin di izinin Kak Prabu antar aku?"
"Iya lah, aku tahu hati Kakakmu itu."
"Seperti apa hatinya?"
"Sepertinya mereka itu apa ya? sama-sama cinta sama-sama merindukan, lama tidak berjumpa cinta di hati mereka masih ada tetapi sama-sama egois. Sama-sama jaim sama-sama mempertahankan prinsip masing-masing, satu yang aku tidak mengerti saling menyakiti karena cemburu, apa sih maunya mereka? nikmati kedamaian, kebahagiaan, kebersamaan dan kemesraan kapan lagi kita menikmati cinta? Dan itu salah satu yang harus kita syukuri kita masih bisa mencintai dan dicintai."
"Bukankah cinta tanpa cemburu sesuatu yang tidak lengkap? dan bukankah itu suatu bumbu dari sebuah hubungan harus ada kata yang namanya cemburu?"
"Ho ho ho...Menurut pandangan pribadi ku bukan cemburu yang seperti itu Neng Intan, tetapi cemburu yang jelas dan saat di pinta pertanggungjawaban ada fakta dan alasan baru bisa dikatakan cemburu, misal aku memegang perut ibu-ibu hamil dalam suatu pemeriksaan di ruang praktek dan kamu merasa cemburu itu adalah cemburu yang salah, cemburu yang tidak punya alasan karena jelas-jelas aku melakukan semua itu adalah profesi pekerjaan tidak untuk dicemburui, cemburu boleh, kecurigaan boleh dan harus punya rasa itu sama pasangan kita tapi jangan buta oleh rasa cemburu itu."
"Memang kalau cemburunya Kak Prabu sama Mbak Retno seperti apa Mas? yang Mas Imam tahu dari dulu awal mereka berjumpa lagi di sini sampai sekarang?"
"Ini pandangan pribadiku lagi. Tidak mewakili keseluruhan orang dan kamu juga tadi hanya bertanya kepadaku saja jadi aku memberikan jawaban yang ada di pikiran dan perasaanku. Sepertinya Pak Prabu terlalu mencintai Retno sehingga rasa cemburunya juga begitu besar, begitu juga sebaliknya tak bisa di pungkiri Retno juga sama tak bisa menggantikan seorang Prabu dari dulu sampai sekarang"
Intan menyimak apa yang di ucapkan dr Imam SpOG.
__ADS_1
"Dr Prabu sangat menjaga reputasinya hubungan dengan karyawan, hubungan dengan masyarakat, intinya dia adalah milik masyarakat milik rumah sakit ini dan reputasinya itu benar-benar dijalin dengan baik dengan semua orang termasuk dengan kepala daerah di sini. Kamu tahu Alya anak seorang walikota. Mungkin bisa dibilang sangat tergila-gila dengan Kakakmu dan itu menjadikan dr Prabu sulit untuk bisa memisahkan antara sopan santun tata krama dan hubungan pribadi."
Intan menyimak...
"Sedangkan Retno tidak menerima semua itu belum mengerti sampai kesitu belum sadar kalau seorang Prabu hanya mencintai dirinya, dan itu berkali-kali dr Prabu katakan kepadaku tetap aja aku juga sulit untuk meyakinkannya kepada Retno. Selalu Alya yang jadi kecemburuan Retno, mungkin ada hal yang kita tidak tahu, padahal dr Prabu hanya menghargai dan menjaga hubungan baik itu tadi."
"Terus yang menjadi kecemburuan Kak Prabu apa terhadap Mbak Retno ?"
"Dr Prabu cemburu sama- teman Retno di Bandung yang satu kampung malah katanya masih saudara dan dia adalah seorang pimpinan di salah satu perusahaan yang namanya Arya. Itu menurut cerita dr Prabu sendiri juga satu lagi dr Prabu sangat tidak suka dengan seorang Rendra, pimpinan kepala cabang salah satu bank swasta di depan Rumah sakit ini bukan tanpa alasan tapi kelihatan sengaja katanya dia selalu mencuri-curi perhatian calon kakak ipar mu Retno, dan kalau nggak salah juga Rendra ikut ambil turnamen di rumah sakit ini."
"Wow sepertinya lucu dan mengasyikkan kisah cinta mereka Mas, dan mungkin layak untuk dibikin sebuah buku cerita
hehehe.."
"Kamu jangan ngeledek Kakakmu Tan, kualat ntar."
"Duuuuh... siapa yang ngeledek lagi, tapi ini kenyataan dulu Kak Prabu melamar Mbak Retno ditolak kedua orang tuanya dengan alasan yang menurut Kak Prabu sangat tidak logika. Mbak Retno melakukan protes terhadap orang tuanya sampai tidak pulang pulang dan beralih kuliah dari ekonomi ke kesehatan dan rela hidup sendiri jauh dari keluarga, menganggap hidupnya sudah terbuang dalam pengasingan dan penantian jauh dari orang tua dan mempertahankan prinsipnya. Hanya ingin bertemu dengan Kak Prabu hanya ingin memastikan statusnya, dia akan mulai menata masa depannya seandainya sudah bertemu dengan Kak Prabu, hanya ingin mengetahui statusnya tetapi kenyataan berbicara lain mereka bertemu kembali dalam status yang sama-sama jomblo karena sama-sama menanti satu sama lain, bertemu dalam suasana yang berbeda dari masa kuliah mereka dulu masih aja ada konflik di antara mereka yaitu konflik baru saling cemburu, mungkin nanti endingnya ke pelaminan pelaminan juga hehehe..."
"Semoga saja Intan, dan itu yang kita harapkan semua cepat selesai dan mereka bersatu dalam satu ikatan cinta abadi yaitu rumah tangga."
"Iya Mas Imam."
"Eh kok kita jadi ngebahas cerita cinta orang lain sih, kita bahas juga soal kita berdua boleh nggak?" dr Imam tersenyum melirik intan yang sudah selesai makannya dan tinggal menemani dirinya yang makan lambat karena kepotong-potong sama obrolan mereka.
"Intan, aku hanya ingin memastikan kalau aku teman kamu yang mau lebih dekat sama kamu, yakin apa itu nggak ada yang marah?"
"Lho marah kenapa? aku orang bebas tak punya janji dengan seseorang, tak lagi punya komitmen dengan seseorang."
"Ya syukurlah, jadi hatiku sangat lega, dan mungkin aku orang yang paling bahagia boleh aku katakan sesuatu?"
"Apaan tuh?"
"Aku mencintaimu Intan."
Intan tersenyum malu dan sesekali menatap lalu menunduk, dr Imam tak mau melihat dan membiarkan Intan dalam posisi itu, dan menggenggam tangannya dari sebrang meja lesehan tempat mereka makan, ingin meyakinkan Intan kalau dirinya tak main-main dengan ucapannya.
Intan tak menyangka kalau dr Imam begitu cepat mengungkapkan dan menembak tanpa aba-aba tanpa sinyal duluan, membuat hatinya belum siap secara nyata harus seperti apa jawaban yang di berikan, Intan sibuk dengan pikirannya sendiri .
"Nggak usah di jawab sekarang juga nggak apa-apa, hanya aku sudah mengatakannya padamu Intan sebelum kamu pulang dan sesudah rumor yang beredar di lingkungan rumah sakit ini, jadi aku memastikan kalau gossip itu benar aku mencintaimu dan jawaban darimu aku kasih sebagai PR yang harus kamu katakan sebelum kamu pulang."
"Maksa?"
"Nggak sangat suka rela, aku terima apa adanya."
"Mas mau jawaban apa?"
__ADS_1
"Itu hak kamu, dan nuranimu."
"Jawaban pasrah."
"Lantas aku harus perlihatkan deg-degannya hatiku, menunggu jawaban darimu ?"
"Seperti detak jantung bayi di dalam kandungan saja."
"Haaaaaaaa...kamu sangat pintar mengalihkan grogi hatiku Intan."
"Seberapa lama waktu yang aku punya, apa ada limitnya nggak?"
"Kamu tuh ya semakin jauh mengulur waktu, kalau sudah yakin kapanpun kamu beri jawaban dengan ikhlas aku tunggu jawabanmu."
"Kalau aku jawab sekarang?"
"Wow ! dengan senang hati semoga jawaban yang sangat menyenangkan."
"Aku juga mencintaimu Mas."
"Jadi?"
"Ya, kita jadian hari ini."
"Maaf Intan."
"Lho kok pernyataan cinta di terima malah minta maaf? apa yang aku jawab barusan itu salah dan aku memberi jawaban salah?"
"Maaf Intan, aku bukan menyatakan cinta di tempat yang romantis seperti orang-orang tapi malah di rumah makan gini."
"Nggak apa-apalah ini masih mending, dan masih sedikit romantis coba kalau menyatakan perasaan di ruang operasi ngeri kan?"
"Haaaaaaaa..." tawa bahagia dr Imam begitu keras membuat orang yang ada di rumah makan itu pada melirik dan Intan menjadi malu sendiri.
.
.
.
.
Maaf up nya agak telat,semoga cepat lancar kembali π
Happy readingβ€οΈππππ
__ADS_1