
"Dimas, tolong ambilkan pakaian Mbak sama Mas Prabu di mobil biar Mas Prabu bisa ganti baju."
"Ya, Mbak Yu."
"Oh, nggak usah, silahkan aja melepas kangen biar aku saja yang ambil." dr Prabu bicara pada Retno.
Dr Prabu menahan Dimas yang sudah mau berdiri. Lalu dr Prabu berjalan ke depan sendiri membuka mobil dan mengeluarkan isi bagasinya.
Pakde Boyo membantunya membawakan tas milik Retno, juga miliknya dan juga sekedar oleh-oleh.
Terlihat Retno ngobrol sama Dimas begitu akrabnya. Dr Prabu meletakkan tas pakaian di samping sofa.
Datang Mbok Sum pembantu keluarga itu, menawarkan makan pada Retno, Retno menyalaminya sopan juga dr Prabu.
Dr Prabu menolak, saat Retno menawarkan ulang untuk makan. karena mungkin sudah malam atau karena sambutan baik keluarga ini jadi hilang semua rasa laparnya.
"Mas Prabu capek, makanlah sedikit ayo biar aku temenin." Retno setengah memaksa.
"Iya Mas, biarlah kali-kali makan di larut malam asal jangan dibiasakan saja, kalau nggak makan dulu nanti malah nggak bisa tidur." Dimas turut mengajak juga.
Mbok Sum yang yang berdiri setengah menunduk menanti kepastian yang mau makan atau tidak, dengan sabar menunggu itulah sebagai bentuk pengabdian pada keluarga Raden Haryo Atmojo.
Mbok Sum mengabdi di keluarga Raden Haryo dari sebelum Diajeng Retno sama Dimas belum ada.
Malah bisa di katakan turun temurun dari orangtuanya, hidup mereka di dedikasikan untuk mengabdi di keluarga yang begitu menyayanginya dan Mbok Sum sangat menghormati keluarga ini.
Sekarang anak-anak Raden Haryo Atmojo sudah pada dewasa dan Mbok Sum sudah mempersiapkan anaknya untuk menjadi penerusnya.
Tetapi entah kenapa anaknya seakan tidak mengikuti harapan Mbok Sum dan suaminya sebagai orang tua. Anaknya lebih memilih ingin merantau dan mencari penghidupan lain bukan dengan cara mengabdi sebagai generasi selanjutnya keluarga Raden Haryo Atmojo.
Semua itu sudah disampaikan kepada Raden Haryo Atmojo kalau suatu saat dirinya tidak bisa melanjutkan dan menggenerasi kan pengabdian mereka kepada anaknya.
Dikarenakan anaknya punya cita-cita lain lebih memilih berdagang dan hengkang dari Kota Pekalongan menuju ke ibu kota.
Raden Haryo Atmojo sungguh mengerti, keadaan zaman sudah berubah semua budaya adat akan mengalami sedikit pergeseran walaupun tidak luntur sama sekali.
Terbukti dengan anaknya sendiri. Retno tidak bisa menerima kebijakan dan keharusan dari orang tua, dia bersikukuh dengan keinginannya sendiri, Mempertahankan prinsip modern nya bahwa jodoh dia itu harus pilihan sendiri dan harus yang dirinya cintai.
"Mbok, kita jadi makan. Yuk apa ada yang mesti di hangatkan?"
"Biarin Mbok saja Diajeng, Diajeng kan baru datang, capek, apa ini sekalian Mbok simpan ke kamarnya Diajeng?" Mbok Sum menunjuk tas pakaian di samping sofa.
Nggak usah Mbok, Mbok ke dapur duluan aku simpan pakaianku dulu ke kamar nanti aku nyusul siapin makan ya."
"Monggo, Diajeng."
Mbok Sum tergopoh ke dapur, Retno mengambil tas dan membawa ke kamarnya meninggalkan Mas Prabu yang lagi ngobrol sama Dimas.
Hanya sekedar masuk dan menyimpan tas pakaiannya. Retno belum sempat melihat suasana kamarnya apalagi memeriksa apapun barang-barang miliknya di dalam kamar itu.
Retno buru-buru ke dapur merasa ingin membantu Mbok Sum menyiapkan makanan takut keburu malam banget.
Tak seberapa lama semua selesai, Retno menghampiri dr Prabu sama Dimas untuk mengajak makan malam yang sudah kemalaman.
Paginya...
__ADS_1
"Halo, Retno bangun dong aku sudah melek dari tadi."
Retno yang sudah bangun tetapi masih merasa ngantuk dan capek, mengangkat telephon dan bicara sambil matanya masih merem.
Mengangkat telepon asal-asalan dan mendengar suara Mas Prabu dengan mata masih merem dan terasa berat.
"Aku masih ngantuk banget Mas, setengah jam lagi lah, emang ini jam berapa?"
"Ini sudah jam setengah tujuh."
"Ah? ngaco aja. Baru jam setengah lima juga."
"Bangun dong, aku sudah nggak bisa tidur lagi."
"Tapi aku masih ngantuk Mas, perasaan baru tidur kok sudah subuh lagi ya?"
"Iya makanya, kita bangun aja yuk."
Retno diam, dan tak menyahut lagi mungkin tidur lagi
"Aku ke kamarmu ya?"
"Hei! sembarangan mau apa?" Retno langsung terperanjat bangun dan menyingkirkan selimutnya, mengikat rambutnya dan keluar kamar.
Berjalan menuju kamar tamu yang diisi Mas Prabu, membuka pintu yang nggak di kunci dan mendapatkan Mas Prabu lagi duduk di tepi tempat tidur.
"Retno aku kedinginan banget."
"Sama aku juga Mas, ayo mau mandi apa nanti saja?"
"Jangan ngaco deh ah, kalau mau keluar ayo nggak boleh dua-duaan di dalam kamar."
"Sebentar aja, nggak ada yang melihat kok."
"Ih, Mas nggak jujur kalau gitu, nggak usah macam-macam, walau nggak kelihatan sama siapapun tapi jaga sikap dong."
"Iya, aku bercanda."
Sepertinya Romo ku sudah merancang pagi ini mau ngobrol sama Mas Prabu, kemungkinan nanti malam baru Mas bicara serius sama Romo."
"Begitu ya?"
"Ya, kerabat ku dan keluargaku juga pasti hadir di sini nanti malam."
"Retno kamu di pihak ku kan?"
"Maksud Mas?"
"Apa rencana mu, kalau keluargamu tak menerimaku?"
Jangan kuatir Mas, semalam aku melihat wajah Romo begitu senang saat bertemu denganmu."
"Apa itu pertanda baik buat kita?"
"Ya, semalam Ibu masuk kamarku, Romo sudah tak seperti dulu lagi. Ibu bicara panjang lebar malah kalau bisa kata Romo jangan di lama-lama lagi kita resmikan hubungan kita ini."
__ADS_1
"Ya ampun Retno, begitu ya? jadi aku begitu mudah nanti saat bicara kalau Romo telah memberi pertanda baik."
"Makanya aku tidurnya malam banget, jadi sekarang masih ngantuk."
"Retno, belum juga aku bicara sama keluargamu, aku sudah merasa senang banget."
"Makanya jaga sikapmu jangan main serobot aja, nanti dengar apa kata Romo ku."
"Retno, seandainya orangtuamu ingin kita menikah secepatnya, aku sangat siap."
"Hai hai hai... di tanya aja belum kedatangan Mas ke sini, juga melamar kembali juga belum udah nikah aja."
"Kan seandainya, aku bilang."
"Terus gimana skripsi aku? kuliah aku juga kerja aku?"
"Biar aku bantuin nanti, gampang.
Yang susah itu proses nikah, kalau kita sudah bisa praktek, yang lain ngikutin dan bisa di atur."
"Praktek? maksud Mas?"
"Praktek suami istri, Retno."
"Hiiiiiiiii....tak kira praktek apa."
Retno melempar bantal ke badan dr Prabu."
Berdua tertawa, dan diakhiri dengan peringatan dari Retno takut berisik mereka mengganggu pada penghuni rumah yang lainnya, terutama Romo sama Ibunya.
"Ayo keluar, Mandi duluan ya, kalau nggak kuat biar Mbok Sum yang godok air dulu buat mandi Mas."
"Nggak usah Retno, aku kan tamu di sini masa sudah merepotkan. Di kuat kuat-kuat kan aja deh walau dingin juga."
"Biarin nggak repot kok, kalau belum biasa nanti malah jadi penyakit. Pokoknya jangan maksain."
"Nggak usah aku kuat kok. Mandi sekarang ya, sini mau nemenin nggak ?"
"Ya nggak lah, ngaco."
.
.
.
Tinggalkan jejak mu say! like komen dan hadiah juga vote nya sebagai semangat up nya 🤦😆💝🙏
...Hai, readers tercinta habis baca Biarkan Aku Memilih...
...Jangan lupa mampir ke karya bertitel, Berbagi Cinta :...
..."1 Hati 2 Aisyah" By wheena the pooh baca, like, comment vote dan beri hadiah juga ya! cus.......
__ADS_1